24.2 C
Bali
2 November 2026
Beranda blog Halaman 7

Kunker Hari Kedua, Sutjidra-Supriatna Pantau Pembangunan Jalan Tunjung-Bukti dan SMPN 1 Kubutambahan

0

Buleleng, Matahari Timur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Wakil Bupati Gede Supriatna melanjutkan agenda kunjungan kerja hari kedua dengan meninjau sejumlah proyek pembangunan di Kecamatan Sawan, Tejakula, dan Kubutambahan, Selasa (4/11/2025). Salah satu fokus utama kunjungan tersebut adalah pembangunan Jalan Merak yang menghubungkan Desa Bukti dan Desa Tunjung, serta peninjauan kondisi fasilitas pendidikan di SMPN 1 Kubutambahan.

Didampingi Sekda Buleleng Gede Suyasa dan Kepala Dinas PUTR I Putu Adiptha Eka Putra, Sutjidra-Supriatna meninjau langsung proyek peningkatan Jalan Merak yang sudah rusak selama 23 tahun. Jalan sepanjang tujuh kilometer dengan lebar tiga meter itu kini mulai dibetonisasi untuk mencegah kerusakan akibat penggerusan air. Peningkatan jalan tersebut menelan anggaran sebesar Rp4,2 miliar dari APBD Kabupaten Buleleng tahun 2025.

Jalan ini menjadi akses vital bagi warga, terutama bagi siswa-siswi yang bersekolah di SMPN Satu Atap Tunjung serta masyarakat yang membawa hasil perkebunan, seperti mangga dan kelapa. Sebelumnya, kondisi jalan yang rusak parah bahkan sempat menjadi viral karena ditanami pohon pisang oleh warga.

Bupati Sutjidra menjelaskan bahwa pembangunan jalan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat di desa.
“Ya, bertahap karena kemampuan fiskal kita juga terbatas. Jadi yang prioritas seperti ini kan untuk memudahkan akses, terutama ke sekolah, kemudian membawa hasil-hasil pertanian,” ujarnya.

Sementara itu, Perbekel Tunjung I Made Sadia mengungkapkan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah daerah terhadap infrastruktur desanya. “Pokoknya masyarakat Desa Tunjung seluruhnya berterima kasih kepada Pak Bupati dan Wakil Bupati beserta jajaran. Astungkara Joss Paten 2029,” serunya.

Usai meninjau jalan di Desa Tunjung, rombongan melanjutkan kunjungan ke SMPN 1 Kubutambahan. Di sekolah tersebut, Bupati Sutjidra meninjau kondisi bangunan serta berdialog dengan pihak sekolah terkait kebutuhan sarana pendidikan. Ia menilai SMPN 1 Kubutambahan sebagai salah satu sekolah dengan jumlah siswa terbanyak di wilayah timur Buleleng.

“Sekolah ini jumlah siswanya gemuk sekali. Jadi ada dua shift, pagi dan sore, sehingga sangat layak untuk mendapatkan program di tahun ini. Tahun depan juga akan kita revitalisasi untuk yang belum tersentuh. Muridnya hampir 1.000 orang di sini,” kata Sutjidra.

Bupati menambahkan, pemerintah juga akan memperhatikan pembangunan ruang kepala sekolah yang sudah tidak layak pakai. Selain itu, ia mengungkapkan rencana pembangunan SMP reguler baru di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, dengan bantuan dari Pemerintah Provinsi Bali. “Kalau sekolah itu sudah berdiri nanti, siswa-siswi yang di perbatasan akan tertarik ke SMP baru di Desa Pacung,” jelasnya.

Selanjutnya, pada tatap muka dengan masyarakat yang dipusatkan di GOR Besi Mejajar, Kubutambahan Bupati Sutjidra menyampaikan pula rencana pembangunan sebuah rumah sakit di Kecamatan Tejakula untuk mendekatkan akses kesehatan ke masyarakat. Pada kesempatan ini diberikan pula berbagai bantuan kepada masyarakat maupun kelompok usaha. (MT-003)

Penjelasan Awal Ranperda APBD Buleleng 2026, Fokus pada Optimalisasi Pajak dan Efisiensi

0

Buleleng, Matahari Timur – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng telah mulai menyosialisasikan rancangan kebijakan anggaran tahun depan. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, secara resmi telah menyampaikan penjelasan awal mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026. Penyampaian ini menandai dimulainya proses pembahasan yang lebih mendalam bersama dengan fraksi-fraksi di DPRD Kabupaten Buleleng.

Dirinya menyampaikan optimisme terhadap peningkatan target pendapatan daerah pada tahun 2026. Ia mengindikasikan bahwa peningkatan signifikan akan bersumber dari sektor pajak dan retribusi daerah. Keyakinan ini didasarkan pada capaian yang sudah terlihat pada tahun berjalan, dimana realisasi penerimaan di sektor tersebut menunjukkan tren yang sangat positif. “Kita optimis karena tahun ini ternyata pajak dan retribusi kita hampir peningkatannya sangat signifikan. Di triwulan ketiga ini kita dalam posisi hijau di angka 74%. Mudah-mudahan dalam dua bulan lagi capaiannya bisa di atas 90%,” ujar Sutjidra saat ditemui usai Rapat Paripurna Penyampaian Penjelasan Ranperda Kabupaten Buleleng tentang APBD Tahun Anggaran 2026 di Ruang Sidang Utama Gedung DPRD Buleleng, Selasa (4/11/2025).

Lebih lanjut, Sutjidra menjelaskan beberapa pos pendapatan yang diharapkan memberikan kontribusi lebih besar. Pajak reklame, Pajak Hiburan dan Rekreasi (PHR), serta retribusi parkir di Destinasi Tujuan Wisata (DTW) menjadi andalan untuk digenjot. “Pajak reklame itu pasti akan meningkat. Kemudian PHR ini cukup signifikan juga peningkatannya, selain retribusi yang lain seperti parkir. Itu kita manfaatkan DTW-DTW kita nanti,” jelasnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memaksimalkan potensi pendapatan asli daerah (PAD), khususnya dari sektor pariwisata yang menjadi unggulan Buleleng.

Di sisi belanja, prinsip efisiensi akan terus menjadi landasan utama dalam penyusunan APBD 2026. Bupati asal Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan ini mengonfirmasi bahwa langkah strategis yang telah dimulai, seperti perampingan struktur organisasi perangkat daerah (OPD). Pola ini, menurutnya, merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mengefisienkan penggunaan anggaran. “Tahun yang 2026 juga sama. Efisiensi pertama. Perampingan SKPD. Sudah ya. Nah, sudah itu. Kemudian diversifikasi untuk pendapatan,” tutur Bupati Sutjidra.

Penurunan terjadi juga pada Belanja Tak Terduga (BTT). Bupati Sutjidra mengungkapkan bahwa penurunan ini didasari oleh evaluasi terhadap penanganan bencana sebelumnya. Ia mengapresiasi peran serta masyarakat melalui semangat gotong royong dalam pembersihan daerah aliran sungai, penanaman pohon, dan gorong-gorong, yang telah berhasil meminimalisir dampak bencana. “Kemarin hujan karena saking lebatnya ada genangan tapi tidak menimbulkan hal-hal yang mengkhawatirkan. Kita terima karena cuaca, selagi sekarang lagi musim hujan, tapi kita juga berusaha untuk mengantisipasinya bersama masyarakat,” ungkap dia.

Upaya antisipasi dan pencegahan tersebut, lanjutnya, kini diwujudkan dalam program kebersihan rutin yang melibatkan seluruh komponen. Setiap Jumat, seluruh SKPD, TNI, Polri, Aparatur Sipil Negara (ASN), dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di setiap kecamatan turun melakukan kegiatan kebersihan. Tidak hanya itu, peran serta dunia pendidikan juga digerakkan. “Sekarang juga kita melibatkan sekolah-sekolah. Anak-anak sekolah diberikan jam ekstrakurikuler, waktu pagi sehari setiap Sabtu satu jam, untuk melakukan kebersihan di sekolah dan di lingkungan sekolah,” imbuh Sutjidra.

Dengan penyampaian penjelasan awal ini, Ranperda APBD Buleleng 2026 resmi memasuki tahap pembahasan intensif. Pemerintah Daerah dan DPRD akan duduk bersama untuk merumuskan anggaran yang aspiratif, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Buleleng, dengan tetap mengedepankan prinsip efisiensi dan optimalisasi pendapatan daerah. (MT-003)

 

Kunker Hari Pertama, Bupati Buleleng Tinjau Pembangunan Jalan Kalibukbuk dan Ruang Kelas SMPN 8 Singaraja

0

Buleleng, Matahari Timur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, bersama Ketua TP PKK Ny. Wardhany Sutjidra, Wakil Bupati Gede Supriatna, dan Sekda Gede Suyasa, memulai kunjungan kerja tahun 2025 dengan meninjau beberapa pembangunan di Kecamatan Buleleng. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan bahwa pembangunan infrastruktur berjalan sesuai dengan rencana.

Dalam kunjungannya, Bupati Sutjidra meninjau pembangunan jembatan di Jalan Angsangan ruas jalan desa Kalibukbuk dan pembangunan ruang kelas di SMPN 8 Singaraja. Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan sangat penting untuk meningkatkan konektivitas dan mobilitas masyarakat. Apalagi jembatan Angsangan ini menghubungkan antara ruas jalan utama dan Pantai Binaria. “Kalo akses lebih bagus jadi salah satu akses yang dapat digunakan pengunjung-pengunjung yang akan ke Pantai Binaria,”ungkapnya.

Selanjutnya rombongan Bupati mengunjungi pembangunan ruang kelas di SMPN 8 SIngaraja. Untuk diketahui, SMPN 8 Singaraja merupakan sekolah yang baru namun menampung siswa yang cukup banyak sehingga kekurangan ruangan menjadi salah satu kendala belajar mengajar. Pembangunan ruang kelas baru di SMPN 8 Singaraja diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut. “Jadi wajib tadi guru-gurunya itu meningkatkan kompetensi khususnya di bidang bahasa Inggris untuk bisa menularkan kepada anak-anaknya. Jadi kualitas anak-anaknya juga harus meningkat. Apalagi ini daerah pariwisata,”ungkap Sutjidra.

Setelah meninjau pembangunan, Bupati Sutjidra dan rombongan bertatap muka dengan masyarakat dari kecamatan Sukasada, Buleleng, dan Banjar di Wantilan Pantai Binaria Lovina. Dalam sambutannya, Bupati Sutjidra menjelaskan bahwa pemerintah sedang berkonsentrasi menuntaskan pembangunan infrastruktur satu persatu. “Saat ini, masih ada sekitar 300 kilometer jalan yang menjadi tugas Pemerintah Daerah untuk dituntaskan. Pembangunan infrastruktur ini dikerjakan satu persatu mengingat kemampuan fiskal daerah yang rendah,”jelasnya.

Dalam kegiatan kunjungan kerja ini, juga dilakukan penyerahan bantuan kepada masyarakat, termasuk sembako, alat bantu penyandang disabilitas, susu formula, hibah uang untuk pembelian bibit ternak, dan bantuan bedah rumah. Bupati Sutjidra berharap bahwa bantuan ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan di Kabupaten Buleleng. (MT-003)

Pocong Ranu Kumbolo: Sosok Seram yang Menghantui

0

Malam itu sunyi, hanya suara angin yang menyapu permukaan danau Ranu Kumbolo. Api unggun para pendaki mulai mengecil, menyisakan bara merah yang sesekali berkeretak. Di antara tenda-tenda yang terjejer rapi, rasa kantuk mulai menjemput, kecuali bagi Ardan—pendaki yang baru pertama kali menginap di sana.

Ia mendengar cerita dari para porter sore tadi, tentang sosok pocong yang sering menampakkan diri di tepi danau. Banyak yang bilang, ia muncul saat langit benar-benar gelap, ketika suara manusia mulai jarang terdengar. Ardan menganggapnya hanya dongeng pengusir rasa takut, sampai ia mendengar sesuatu.

Duplek… duplek… duplek…
Suara seperti tanah ditimpa sesuatu. Pelan, tapi ritmis. Ardan menahan napas. Suara itu terdengar dari balik semak, tepat di arah permukaan danau yang memantulkan bulan.

Rasa penasaran mendorongnya membuka resleting tenda sedikit. Di sana—di antara kabut tipis—terlihat sosok putih, berdiri kaku, lalu melayang perlahan seperti dihembus angin. Wajahnya tak terlihat jelas, tapi kain kafan yang membungkus tubuhnya kotor di beberapa bagian, seperti bekas tanah basah.

Ardan terpaku. Sosok itu berhenti tepat di tepi danau, seolah memandang air yang tenang. Lalu, perlahan kepalanya menoleh ke arah Ardan. Meski mata tak terlihat, Ardan tahu… sosok itu menyadari kehadirannya.

Tiba-tiba, suara langkah lain terdengar dari belakang. Salah satu porter yang berjaga mendekat sambil berbisik cepat, “Jangan tatap lama-lama. Kalau dia berhenti, itu artinya dia sedang mendengarkan.”

Ardan gemetar, menunduk. Ketika ia memberanikan diri menoleh lagi, sosok itu sudah menghilang, hanya menyisakan kabut yang bergerak perlahan di permukaan danau.

“Katanya, dia adalah arwah pendaki yang tak pernah pulang,” ujar sang porter pelan. “Terlalu cinta dengan Ranu Kumbolo… sampai lupa bahwa hidupnya sudah berakhir.”

Sejak malam itu, Ardan tak pernah lagi meremehkan cerita mistis gunung. Sebab ia tahu—di Ranu Kumbolo, tidak semua yang melayang adalah kabut malam.

Beberapa adalah mereka yang masih ingin dilihat, meski sudah lama dikuburkan.

Berikut referensi beberapa barang yang wajib dibawa saat mendaki Gunung Semeru:

  1. Tenda yang aman dan nyaman, bisa kamu dapatkan di sini 
  2. Raincoat agar aman dari hujan yang suka tiba-tiba datang.
  3. Ransel yang tangguh untuk mendaki.
  4. Jaket gunung biar tidak dicekam dingin menggigil.
  5. Pisau lipat biar bisa memotong vegetasi yang bisa dipakai campuran mie.
  6. Topi gunung biar kepala tidak kepusingan kena embun.
  7. Sandal dan sepatu gunung yang keren tapi berkualitas, agar kaki tidak lecet. (MT-003)

Kisah Perempuan Berbaju Putih di Jalur Senaru-Rinjani

0

Kabut turun perlahan di jalur Senaru, menelan pepohonan dan jejak-jejak pendaki di belakangnya. Langit yang tadinya jernih berubah kelabu, seakan gunung sedang menutup diri. Raka berjalan paling depan, diikuti tiga temannya—Dimas, Rere, dan Naya—namun langkah mereka mulai ragu. Kompas di tangan Raka kembali menunjuk arah berbeda dari jalur peta. Jarumnya berputar tidak menentu, seolah kehilangan utara.

“Mending kita berhenti dulu,” ujar Dimas, terdengar gelisah.

Namun Raka menggeleng. “Kita nggak jauh dari pos. Tinggal sedikit lagi.”

Kabut semakin pekat. Daerah itu tiba-tiba senyap, tak terdengar lagi suara burung, dedaunan, atau bahkan hembusan angin. Hening yang tidak wajar. Rere merapatkan jaket, tengkuknya terasa dingin seperti disentuh sesuatu yang tidak terlihat.

Lalu, dari balik kabut, muncul seseorang.

Sosok perempuan muda berpakaian putih, rambutnya panjang sampai pinggang, tidak tersentuh angin. Dia hanya berdiri, menatap Raka tanpa ekspresi. Perlahan, tangannya terangkat, menunjuk ke arah kiri—ke sebuah jalur setapak kecil nyaris tertutup semak.

“Lihat… ada orang,” bisik Naya, suara tercekat.

Raka, entah kenapa, merasa harus mengikuti arah itu. “Mungkin itu jalan pintas ke pos. Dia pasti pendaki juga,” katanya, meski suaranya tak sepenuhnya yakin.

Mereka mengikuti jalur yang ditunjuk, tapi semakin jauh melangkah, pohon-pohon berubah semakin rapat, dan kabut makin dingin—serasa menyusup ke tulang. Tak ada rambu, tak ada jejak kaki lain. Mereka mulai sadar… jalur itu bukan jalur pendakian resmi.

Tiba-tiba Rere berhenti.

“Rak… aku tadi lihat dia lagi,” katanya pelan. “Bukan di belakang, tapi di depan. Dia cuma diam… nunggu.”

Raka menelan ludah. “Kamu lihat jelas?”

Rere mengangguk. “Dan kakinya… nggak nginjek tanah.”

Dan saat mereka menoleh ke belakang, jalur yang tadi mereka lewati sudah hilang dalam kabut. Seolah mereka tidak pernah berjalan di sana.

Dimas mulai panik. “Ini salah. Kita harus balik!”

Tapi sebelum mereka bergerak, terdengar suara perempuan lirih—bukan dari depan, bukan dari belakang, tetapi dari segala arah kabut:
“Jangan sombong… jangan angkuh… Rinjani bukan tempat untuk menantang.”

Suara itu menggema, seperti bisikan yang masuk langsung ke dalam kepala.

Raka terpaku. Ia teringat ucapan juru kunci basecamp tadi pagi, yang ia anggap sekadar lelucon:
“Kalau lupa izin sama Dewi Anjani, perjalananmu bakal diatur… bukan oleh manusia.”

Sosok putih itu kembali muncul, lebih dekat, wajahnya kini terlihat jelas—cantik, tapi matanya kosong seperti danau yang tak berpenghuni. Ia kembali menunjuk arah lain. Bukan jalur yang lebih dalam, tetapi jalur keluar.

Tanpa berpikir, mereka berlari mengikuti arah itu. Kabut mulai menipis, suara alam kembali terdengar, dan tidak lama kemudian papan bertuliskan POS II Senaru muncul di depan mata mereka—seolah menyelamatkan mereka di detik terakhir.

Mereka berhenti terengah, saling memandang tanpa kata.

Raka menoleh ke belakang, ke arah jalur yang baru saja mereka tinggalkan.

Sosok putih itu masih berdiri di sana… tapi kali ini tersenyum. Senyum yang bukan ramah, melainkan seolah berkata: Aku membiarkan kalian pergi. Untuk sekarang.

Dan ketika kabut menutup sosok itu sepenuhnya, Raka akhirnya sadar—bukan dia yang menemukan jalan keluar.

Mereka diantar pulang.

Karena Rinjani hanya mengizinkan pendaki yang tahu diri.

Berikut referensi beberapa barang yang wajib dibawa saat mendaki Gunung Rinjani:

  1. Tenda yang aman dan nyaman, bisa kamu dapatkan di sini 
  2. Raincoat agar aman dari hujan yang suka tiba-tiba datang.
  3. Ransel yang tangguh untuk mendaki.
  4. Jaket gunung biar tidak dicekam dingin menggigil.
  5. Pisau lipat biar bisa memotong vegetasi yang bisa dipakai campuran mie.
  6. Topi gunung biar kepala tidak kepusingan kena embun.
  7. Sandal dan sepatu gunung yang keren tapi berkualitas, agar kaki tidak lecet. (MT-003)

Bali–Bulgaria Satukan Rasa: Diplomasi Kopi Arak Jadi Jalan Baru Kerja Sama Global

0

Denpasar, Matahari Timur – Suasana di ruang tamu Jayasabha, kediaman resmi Gubernur Bali, tampak berbeda pada Jumat (31/10/2025) sore. Aroma kopi Bali tanpa gula yang disajikan berdampingan dengan arak tradisional menyambut kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri Bulgaria, Nikolay Pavlov, bersama Duta Besar Bulgaria untuk Indonesia, Tanya Dimitrova.

Kedatangan delegasi Bulgaria ini diterima langsung oleh Gubernur Bali dan menjadi momentum penguatan hubungan budaya dan kerja sama antar kedua wilayah. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan nonformal, menandai langkah diplomasi yang tidak hanya bersifat protokoler, tetapi juga membuka ruang kolaborasi berbasis budaya dan kearifan lokal.

Kunjungan ini disebut sebagai awal dari upaya mempererat hubungan Bali dan Bulgaria, termasuk dalam bidang seni, pariwisata, dan pertukaran kebudayaan.

Audiensi yang dihadiri langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster itu turut dihadiri Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat I Made Dwi Arbani serta Kepala Biro Humas dan Protokol IB. Surja Manuaba. Di ruangan yang hangat namun berwibawa itu, dua bangsa dengan sejarah dan budaya panjang saling bertukar pandangan, ide, dan harapan.

Wakil Menteri Pavlov membuka pembicaraan dengan menyampaikan bahwa pada tahun depan, Indonesia dan Bulgaria akan merayakan 70 tahun hubungan diplomatik. Kunjungannya ke Bali, ujarnya, bukan sekadar pertemuan formal, melainkan juga simbol penghormatan terhadap peran penting Bali dalam citra Indonesia di mata dunia. “Kami ingin menjalin hubungan yang lebih erat dengan Bali — di bidang perdagangan, pariwisata, pendidikan, pertanian, hingga pertukaran teknologi,” ujarnya penuh antusias.

Ia juga menuturkan apresiasi terhadap tenaga kerja asal Indonesia, khususnya dari Bali, yang dinilai memiliki kualitas kerja dan kepribadian yang sangat baik. Sebagai tindak lanjut, Pavlov mengumumkan rencana kunjungan delegasi sekitar 25 wali kota dari berbagai kota di Bulgaria pada Desember mendatang, untuk menjajaki peluang kerja sama “sister city” antara pemerintah daerah di Bulgaria dan Bali.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Wayan Koster menyambut baik inisiatif tersebut dengan semangat kolaboratif. “Kami siap membuka ruang komunikasi dan kerja sama yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat, baik dalam bidang kebudayaan, pendidikan, maupun ekonomi kreatif,” ujarnya.

Suasana pertemuan kemudian mencair dalam keakraban. Di sela percakapan serius, Gubernur Koster mengajak Wakil Menteri Pavlov dan Dubes Dimitrova bersulang dengan arak Bali yang dicampur kopi Bali tanpa gula — sebuah tradisi lokal yang sederhana namun sarat makna. Tawa ringan dan tepukan tangan kecil mengiringi momen itu, menjadikan diplomasi antarnegara terasa begitu manusiawi dan bersahabat.

Dalam pembicaraan yang berlanjut, Pavlov juga menyampaikan ketertarikan untuk mengembangkan pertukaran budaya, termasuk kemungkinan mengundang seniman Bali tampil di Festival Kesenian di Bulgaria, serta menghadirkan kelompok seni Bulgaria ke Bali. Duta Besar Dimitrova menambahkan bahwa sebelumnya seniman Bulgaria pernah tampil di Klungkung dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Gubernur Koster menanggapi dengan antusias dan mengundang pihak Bulgaria untuk berpartisipasi dalam Pesta Kesenian Bali (PKB), yang setiap tahun menjadi ajang promosi dan pelestarian budaya Bali. “Melalui seni, kita membangun jembatan hati dan rasa antarbangsa,” ucapnya.

Selain seni dan budaya, kedua pihak juga menyinggung peluang pertukaran pelajar dan kerja sama antaruniversitas, guna memperluas wawasan generasi muda dan mempererat hubungan antarbangsa melalui jalur pendidikan.

Sebagai penutup yang penuh makna, Gubernur Koster menyerahkan cinderamata berupa kain endek khas Bali kepada Wakil Menteri Pavlov simbol keindahan tradisi dan kreativitas rakyat Bali, serta bentuk dukungan nyata terhadap UMKM lokal.

Pertemuan yang diwarnai dengan senyum, budaya, dan secangkir kopi arak menjadi bukti bahwa diplomasi tidak selalu kaku dan formal. Kadang, jalinan antarnegara bisa tumbuh hangat dari segelas kopi arak, selembar kain, dan niat tulus untuk saling memahami.

Note: 

Rekomendasi obat herbal diatebes yang berkualitas

1. Pola Hidup yang beraneka ragam, rawan memicu diabetes. Yuk, mari cegah diabetes pakai obat herbal yang bisa didapatkan di: https://s.shopee.co.id/4VTcmKhWAr
2. Ingin gula darah normal kembali? Atasi saya memakai yang tinggi pakai teh herbal yang bisa diperoleh di sini.

 

3. Mau mengatasi diabetes menggunakan obat tradisional yang ampuh? Ini dia pilihannya bisa didapatkan di: https://s.shopee.co.id/10tkcELTnv

4. Terlanjur luka karena diabetes? Jangan khawatir, nih ada kapsul pengering luka ekstrak ikan gabus, yuk gercepin di https://s.shopee.co.id/50PtNkFtQQ
5. Pasien diabetes memang mestinya mengurangi konsumsi gula, tapi ada sih produk aman, yakni madu untuk atasi diabetes. Madu untuk diabetes bisa dicoba ya, biar tidak was-was lagi konsumsi yang manis-manis. Buruan dapatkan di: https://s.shopee.co.id/4AqmOaZlD

(MT-003)

Dari Polemik ke Perdamaian: BAST Akses Jalan GWK Akhirnya Disepakati

0

Badung, Matahari Timur – Pemerintah Kabupaten Badung dan Manajemen Garuda Wisnu Kencana (GWK) menandatangani Berita Acara Serah Terima (BAST) pinjam pakai lahan untuk akses jalan warga Banjar Giri Dharma, Desa Ungasan, yang sebelumnya sempat menimbulkan polemik antarwarga.

Penandatanganan BAST dilaksanakan di Gedung Jayasabha, Jumat (31/10) oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Kuasa Direksi PT Garuda Adhimatra Indonesia Erwyanto Tedjakusuma dan diketahui Gubernur Bali Wayan Koster. Penandatanganan BAST juga disaksikan Komisaris Utama PT Garuda Adhimatra Indonesia, Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma.

Solusi terbaik yang ditawarkan Gubernur Koster beberapa waktu lalu untuk menengahi polemik akses jalan akhirnya mengembalikan situasi normal di banjar setempat.

Gubernur Koster berharap penandatanganan BAST pinjam pakai lahan ini mengakhiri polemik antara warga dengan pihak manajemen GWK.

“Kita harapkan situasi kembali normal,” ujar Gubernur Koster saat berbincang dengan Bupati Adi Arnawa dan jajaran manajemen GWK yang hadir di Jayasabha.

Untuk diketahui, dalam BAST disebutkan bahwa PT Garuda Adhimatra Indonesia sebagai Pihak Pertama meminjampakaikan lahan berbentuk badan jalan kepada Pemkab Badung sebagai Pihak Kedua. Dalam BAST juga disebutkan bahwa lahan dengan lebar +4 meter dan panjang +450 meter dimiliki dan dikuasai oleh pihak pertama.

Pemkab Badung sebagai pihak kedua hanya diperkenankan untuk menggunakan lahan dimaksud untuk kepentingan akses lalu lintas masyarakat Banjar Giri Dharma Desa Ungasan.

Note: 

Rekomendasi obat herbal diatebes yang berkualitas

1. Pola Hidup yang beraneka ragam, rawan memicu diabetes. Yuk, mari cegah diabetes pakai obat herbal yang bisa didapatkan di: https://s.shopee.co.id/4VTcmKhWAr
2. Ingin gula darah normal kembali? Atasi saya memakai yang tinggi pakai teh herbal yang bisa diperoleh di sini.

 

3. Mau mengatasi diabetes menggunakan obat tradisional yang ampuh? Ini dia pilihannya bisa didapatkan di: https://s.shopee.co.id/10tkcELTnv

4. Terlanjur luka karena diabetes? Jangan khawatir, nih ada kapsul pengering luka ekstrak ikan gabus, yuk gercepin di https://s.shopee.co.id/50PtNkFtQQ
5. Pasien diabetes memang mestinya mengurangi konsumsi gula, tapi ada sih produk aman, yakni madu untuk atasi diabetes. Madu untuk diabetes bisa dicoba ya, biar tidak was-was lagi konsumsi yang manis-manis. Buruan dapatkan di: https://s.shopee.co.id/4AqmOaZlD

(MT-003)

Bupati Sutjidra Apresiasi TJSL Lampu Panel Surya dari PT GEB

0

Buleleng, Matahari Timur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengapresiasi tanggung jawab sosial dari PT General Energi Bali (GEB) yang diwujudkan dalam bantuan lampu penerangan jalan senilai satu miliar rupiah.

Perusahaan General Energi Bali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Buleleng dengan menyerahkan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa 30 titik lampu panel surya senilai sekitar Rp 1 miliar. Lampu-lampu tersebut dipasang di sepanjang jalan dari Tukad Sumaga sampai Celukan Bawang.

Bupati I Nyoman Sutjidra mengapresiasi langkah positif yang diambil oleh PT. General Energi Bali dan berharap perusahaan-perusahaan lain dapat mengikuti contoh ini. “Kegiatan seperti ini sangat positif sekali, artinya perusahaan-perusahaan yang berinvestasi itu tanggung jawab sosialnya ada,” ujarnya.

Bupati Sutjidra juga menekankan bahwa perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di Buleleng harus memenuhi tanggung jawab sosialnya. “Kedepan, kegiatan-kegiatan seperti ini harus wajib dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah berinvestasi di Buleleng,” katanya.

Selain General Energi Bali, beberapa perusahaan lain juga telah memberikan kontribusi TJSL untuk mendukung pembangunan di Buleleng. Bupati Sutjidra berharap bahwa kontribusi-kontribusi seperti ini dapat terus meningkat dan membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Bupati I Nyoman Sutjidra menyampaikan Buleleng sangat terbuka bagi investor untuk berinvestasi di Buleleng. Ia menekankan Pemerintah Kabupaten Buleleng akan memberikan sejumlah kemudahan bagi investor. “Kami Pemerintah Kabupaten sangat welcome dan siap untuk menyelesaikan masalah perizinan dan sebagainya. Intinya kalau investasinya jelas pasti kami respon lah,” ujar Sutjidra. (MT-001)

Kisah Mistis Penunggu Pos 3 Gunung Arjuno: Jangan Tatap Matanya

0

Malang, Matahari Timur – Malam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya di lereng Gunung Arjuno. Aku dan tiga teman—Bagas, Reno, dan Dinda—memutuskan berhenti di sebuah tanah datar tak jauh dari jalur Pos 3. Angin berhembus pelan, tapi membawa aroma aneh—seperti dupa yang baru saja padam.

“Siapa yang bakar dupa?” tanya Bagas setengah bercanda.

Tak ada yang menjawab. Kami tidak membawa dupa, bahkan api unggun belum kami nyalakan.

Saat kabut makin tebal, suara langkah kaki terdengar di sekitar tenda. Pelan, tapi ritmis, seperti seseorang berjalan mengitari kami. Reno keluar lebih dulu dengan senter. “Siapa di luar?” teriaknya. Hening. Tak ada jawaban—hanya suara dedaunan bergesekan.

Namun, dari cahaya senter, aku melihatnya. Di antara kabut, berdiri sosok tinggi kurus, mengenakan pakaian seperti prajurit zaman Majapahit. Wajahnya tertutup bayangan, tapi matanya menyala redup, merah seperti bara api.

“Jangan bicara,” bisik Dinda pelan sambil menunduk. ‘Jangan tatap matanya.‘

Entah dari mana ia tahu, tapi kami semua menuruti.

Sosok itu berjalan pelan melewati tenda kami, lalu berhenti di depan patok kecil yang tertancap di tanah. Ia menunduk lama—seolah berdoa. Lalu menghilang begitu saja, lenyap ditelan kabut tanpa suara langkah pergi.

Keesokan paginya, ketika matahari muncul dari balik Gunung Welirang, kami memeriksa tempat sosok itu berdiri semalam.

Di sana ada batu nisan kecil berlumut, dengan tulisan hampir hilang: ‘Prajurit Jaga Arjuno, 1471 M.‘

Situs Peninggalan Majapahit

Gunung Arjuno terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Secara geografis, gunung ini berada di antara Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Mojokerto.

Gunung Arjuno (sering juga disebut Arjuna) memiliki ketinggian sekitar 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Gunung Semeru.

Gunung ini berdampingan dengan Gunung Welirang, dan keduanya termasuk dalam kompleks pegunungan Arjuno–Welirang, yang masih aktif secara vulkanik.

Selain keindahan alamnya, Arjuno juga dikenal sarat dengan mitos, situs-situs peninggalan Majapahit, serta dipercaya sebagai tempat spiritual yang dijaga makhluk gaib dan para leluhur.

Berikut referensi beberapa barang yang wajib dibawa saat mendaki Gunung Arjuno:

  1. Tenda yang aman dan nyaman, bisa kamu dapatkan di sini 
  2. Raincoat agar aman dari hujan yang suka tiba-tiba datang.
  3. Ransel yang tangguh untuk mendaki.
  4. Jaket gunung biar tidak dicekam dingin menggigil.
  5. Pisau lipat biar bisa memotong vegetasi yang bisa dipakai campuran mie.
  6. Topi gunung biar kepala tidak kepusingan kena embun.
  7. Sandal dan sepatu gunung yang keren tapi berkualitas, agar kaki tidak lecet.

Kisah Fiksi by Nyoman Area

Misteri Ular Hitam Putih Penjaga Pura Tengah Laut Tanah Lot

0

Tabanan, Matahari Timur – Di pesisir barat Pulau Bali, ombak Samudra Hindia menghantam karang hitam yang menjulang di tengah laut. Di atas karang itu berdiri megah Pura Tanah Lot, pura laut yang menjadi salah satu penjaga spiritual Bali. Namun di balik keindahannya, tersimpan kisah kuno tentang ular suci yang menjaga kesucian pura ini sejak ratusan tahun lalu.

Konon, pada abad ke-15, seorang pendeta suci bernama Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan spiritual menyebarkan ajaran dharma di Bali. Dalam perjalanannya ke barat, beliau tiba di sebuah pantai yang sangat indah. Di sana, beliau merasakan getaran energi yang luar biasa kuat — tempat itu dianggap cocok untuk pemujaan dewa laut, Dewa Baruna.

Namun, kedatangannya tidak disukai oleh Bendesa setempat yang khawatir kehilangan pengaruh. Bendesa datang bersama pengikutnya untuk mengusir sang pendeta. Dang Hyang Nirartha lalu menunjukkan kesaktiannya: dengan tongkat sucinya, ia memindahkan sebongkah batu besar dari daratan ke tengah laut. Di atas batu itulah beliau duduk bersamadi. Batu itu kemudian dikenal sebagai Tanah Lot, yang berarti tanah di tengah laut.

Ular dari Selendang Suci

Sebelum meninggalkan tempat itu, Dang Hyang Nirartha melepas selendang sucinya (kain poleng) dan meletakkannya di pinggir karang. Dengan mantra dan doa, selendang itu berubah menjadi ular besar berwarna hitam dan belang putih.

Ular itu diberi tugas menjaga Tanah Lot dari gangguan roh jahat dan orang-orang yang berniat buruk terhadap pura.

Masyarakat percaya bahwa hingga kini, keturunan ular suci itu masih hidup di celah-celah batu karang di bawah pura. Mereka dikenal sebagai ular laut penjaga Tanah Lot — berwarna belang hitam-putih, berukuran besar, namun tidak pernah menyerang siapa pun kecuali mereka yang berniat jahat.

Menurut penduduk sekitar, setiap purnama tilem (bulan mati), ombak di sekitar Tanah Lot menjadi lebih bergemuruh, dan ular penjaga kerap muncul sekilas di antara buih laut. Para pemangku pura akan membawa sesajen dan menabur bunga ke arah laut sebagai bentuk penghormatan kepada sang penjaga.

Orang-orang tua di Desa Beraban sering berkata: “Selama ular itu tetap di sana, Tanah Lot akan aman. Bila ia pergi, laut akan murka.”

Secara ilmiah, ular laut di Tanah Lot memang benar ada — spesies ular laut belang hitam putih (Laticauda colubrina) yang hidup di gua bawah karang. Namun bagi masyarakat Bali, mereka bukan sekadar hewan, melainkan perwujudan energi penjaga suci warisan Dang Hyang Nirartha.

Hingga kini, para pemangku dan pemandu wisata masih menjaga kisah ini dengan hormat. Mereka percaya, selama manusia tetap menjaga kesucian dan keseimbangan alam di Tanah Lot, ular suci itu akan terus melindungi pulau Bali dari marabahaya yang datang dari lautan.

Referensi barang yang perlu dibawa pengunjung jika ingin berwisata atau sembahyang di Pura Tanah Lot:

  1. Dupa untuk sembahyang
  2. Payung agar terhindar dari panas menyengat
  3. Sandal santai untuk menikmati jalan-jalan di pantai
  4. Tas kasual yang nyaman di bahu
  5. Tumbler minuman agar tidak dehidrasi. (MT-003)