Kabut turun perlahan di jalur Senaru, menelan pepohonan dan jejak-jejak pendaki di belakangnya. Langit yang tadinya jernih berubah kelabu, seakan gunung sedang menutup diri. Raka berjalan paling depan, diikuti tiga temannya—Dimas, Rere, dan Naya—namun langkah mereka mulai ragu. Kompas di tangan Raka kembali menunjuk arah berbeda dari jalur peta. Jarumnya berputar tidak menentu, seolah kehilangan utara.
“Mending kita berhenti dulu,” ujar Dimas, terdengar gelisah.
Namun Raka menggeleng. “Kita nggak jauh dari pos. Tinggal sedikit lagi.”
Kabut semakin pekat. Daerah itu tiba-tiba senyap, tak terdengar lagi suara burung, dedaunan, atau bahkan hembusan angin. Hening yang tidak wajar. Rere merapatkan jaket, tengkuknya terasa dingin seperti disentuh sesuatu yang tidak terlihat.
Lalu, dari balik kabut, muncul seseorang.
Sosok perempuan muda berpakaian putih, rambutnya panjang sampai pinggang, tidak tersentuh angin. Dia hanya berdiri, menatap Raka tanpa ekspresi. Perlahan, tangannya terangkat, menunjuk ke arah kiri—ke sebuah jalur setapak kecil nyaris tertutup semak.
“Lihat… ada orang,” bisik Naya, suara tercekat.
Raka, entah kenapa, merasa harus mengikuti arah itu. “Mungkin itu jalan pintas ke pos. Dia pasti pendaki juga,” katanya, meski suaranya tak sepenuhnya yakin.
Mereka mengikuti jalur yang ditunjuk, tapi semakin jauh melangkah, pohon-pohon berubah semakin rapat, dan kabut makin dingin—serasa menyusup ke tulang. Tak ada rambu, tak ada jejak kaki lain. Mereka mulai sadar… jalur itu bukan jalur pendakian resmi.
Tiba-tiba Rere berhenti.
“Rak… aku tadi lihat dia lagi,” katanya pelan. “Bukan di belakang, tapi di depan. Dia cuma diam… nunggu.”
Raka menelan ludah. “Kamu lihat jelas?”
Rere mengangguk. “Dan kakinya… nggak nginjek tanah.”
Dan saat mereka menoleh ke belakang, jalur yang tadi mereka lewati sudah hilang dalam kabut. Seolah mereka tidak pernah berjalan di sana.
Dimas mulai panik. “Ini salah. Kita harus balik!”
Tapi sebelum mereka bergerak, terdengar suara perempuan lirih—bukan dari depan, bukan dari belakang, tetapi dari segala arah kabut:
“Jangan sombong… jangan angkuh… Rinjani bukan tempat untuk menantang.”
Suara itu menggema, seperti bisikan yang masuk langsung ke dalam kepala.
Raka terpaku. Ia teringat ucapan juru kunci basecamp tadi pagi, yang ia anggap sekadar lelucon:
“Kalau lupa izin sama Dewi Anjani, perjalananmu bakal diatur… bukan oleh manusia.”
Sosok putih itu kembali muncul, lebih dekat, wajahnya kini terlihat jelas—cantik, tapi matanya kosong seperti danau yang tak berpenghuni. Ia kembali menunjuk arah lain. Bukan jalur yang lebih dalam, tetapi jalur keluar.
Tanpa berpikir, mereka berlari mengikuti arah itu. Kabut mulai menipis, suara alam kembali terdengar, dan tidak lama kemudian papan bertuliskan POS II Senaru muncul di depan mata mereka—seolah menyelamatkan mereka di detik terakhir.
Mereka berhenti terengah, saling memandang tanpa kata.
Raka menoleh ke belakang, ke arah jalur yang baru saja mereka tinggalkan.
Sosok putih itu masih berdiri di sana… tapi kali ini tersenyum. Senyum yang bukan ramah, melainkan seolah berkata: Aku membiarkan kalian pergi. Untuk sekarang.
Dan ketika kabut menutup sosok itu sepenuhnya, Raka akhirnya sadar—bukan dia yang menemukan jalan keluar.
Mereka diantar pulang.
Karena Rinjani hanya mengizinkan pendaki yang tahu diri.
Berikut referensi beberapa barang yang wajib dibawa saat mendaki Gunung Rinjani:
- Tenda yang aman dan nyaman, bisa kamu dapatkan di sini
- Raincoat agar aman dari hujan yang suka tiba-tiba datang.
- Ransel yang tangguh untuk mendaki.
- Jaket gunung biar tidak dicekam dingin menggigil.
- Pisau lipat biar bisa memotong vegetasi yang bisa dipakai campuran mie.
- Topi gunung biar kepala tidak kepusingan kena embun.
- Sandal dan sepatu gunung yang keren tapi berkualitas, agar kaki tidak lecet. (MT-003)

