26.5 C
Bali
1 November 2026
Beranda blog

Kuasa Hukum Dokter KC Pertanyakan Puluhan Bukti yang Tak Dilampirkan Penyidik

0

Denpasar, Matahari Timur – Tim kuasa hukum Karina Chandra (KC) mempertanyakan kelengkapan alat bukti yang digunakan penyidik Polresta Denpasar dalam perkara dugaan penggelapan asal-usul anak. Mereka mengklaim telah menyerahkan lebih dari 30 dokumen kepada penyidik, tetapi dokumen tersebut tidak ditemukan dalam berkas yang dipersoalkan dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (29/10/2026).

Keberatan tersebut disampaikan kuasa hukum KC dan ibunya, LJL, Siti Sapurah, S.H., yang dikenal dengan sapaan Ipung, setelah persidangan yang menghadirkan saksi fakta dari pihak pemohon, Nadia Putri Septiari. Melalui praperadilan ini, pihak pemohon berupaya menguji sah atau tidaknya penetapan tersangka terhadap KC.

Ipung mengatakan, dokumen yang diserahkan kepada penyidik Polresta Denpasar mencakup sejumlah surat yang menurut pihaknya dapat menjelaskan latar belakang perkara. Dokumen tersebut, kata dia, disampaikan secara langsung maupun melalui kepolisian resor.

“Lebih dari 30 alat bukti sudah kami serahkan kepada penyidik. Namun, menurut kami, dokumen-dokumen itu tidak dilampirkan dalam berkas yang diajukan pihak termohon,” ujar Ipung.

Salah satu dokumen yang dipersoalkan ialah surat keterangan mengenai standar operasional prosedur (SOP) Rumah Sakit Prima Medika. Menurut Ipung, surat tersebut menjelaskan bahwa penunjukan KC sebagai penjamin telah sesuai prosedur rumah sakit karena usianya telah memenuhi persyaratan.

Pihak pemohon juga mengantongi surat keterangan lahir yang, menurut mereka, menerangkan bahwa KC merupakan ibu kandung dari anak yang dilahirkan di Rumah Sakit Prima Medika pada 14 Februari 2026.

Dokumen lain yang menjadi perhatian adalah surat kuasa pengurusan akta. Ipung menyebut surat itu berisi permohonan dari pihak pelapor kepada KC untuk mengurus dan mengambil akta perkawinan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Denpasar.

Selain itu, terdapat surat keterangan desa yang menurut pihak pemohon menerangkan identitas ibu dan ayah anak tersebut, yakni Karina Chandra dan suaminya, Reiner Sugata Liman.

Bagi pihak pemohon, dokumen-dokumen itu penting untuk menjelaskan hubungan para pihak serta persoalan administrasi yang menjadi bagian dari perkara. Karena itu, mereka mempertanyakan alasan dokumen tersebut tidak disertakan dalam pembuktian surat oleh pihak termohon.

Dalam sidang yang sama, Nadia Putri Septiari dihadirkan sebagai saksi fakta. Keterangannya diharapkan dapat menjelaskan proses pengelolaan dokumen dan surat-menyurat yang dilakukan kantor hukum kuasa pemohon.

Ipung mengatakan, permohonan praperadilan tersebut bukan bertujuan meminta keringanan atau belas kasihan, melainkan menguji proses hukum yang mendasari penetapan tersangka terhadap kliennya. Ia berharap hakim tunggal yang menangani perkara dapat menilai seluruh fakta dan dokumen yang diajukan para pihak.

Dalam argumentasi hukumnya, Ipung turut merujuk Pasal 55 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Ia menilai ketentuan tersebut relevan dengan persoalan pembuktian asal-usul anak melalui akta kelahiran yang diterbitkan instansi berwenang.

“Semoga pemahaman hukum kami sama dengan hakim tunggal yang memeriksa perkara ini. Saya tidak ingin belas kasihan. Secara hukum, ada ketentuan bahwa akta kelahiran yang diterbitkan oleh instansi terkait menjadi bukti asal-usul seseorang. Dalam perkara ini, dokumen itu tidak ada,” kata Ipung.

Persoalan mengenai kelengkapan bukti dan prosedur penetapan tersangka tersebut menjadi bagian dari dalil yang diajukan pemohon dalam praperadilan. Penilaian terhadap relevansi dokumen, proses penyidikan, dan keabsahan penetapan tersangka tetap menjadi kewenangan hakim yang memeriksa perkara. (MT-004)

 

 

 

 

Praperadilan Dokter KC Dimulai, Kuasa Hukum Siapkan 44 Bukti

0

Denpasar, Matahari Timur – Penetapan dokter KC dan ibunya, LJL, sebagai tersangka kasus dugaan penggelapan asal-usul anak oleh penyidik Polresta Denpasar digugat melalui praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Pihak pemohon menilai penetapan tersangka tersebut diduga cacat prosedur.

Sidang perdana praperadilan digelar Selasa (27/10), dipimpin hakim tunggal RR. Diah Poernomojekti, SH, dengan penyidik Polresta Denpasar sebagai pihak tergugat. Kuasa hukum dokter KC, Siti Sapurah, SH, alias Ipung, mempersoalkan proses penyidikan yang dinilai tidak memberikan kesempatan kepada kliennya untuk mengajukan saksi yang meringankan maupun saksi ahli.

“Sejak awal penyidikan, tanggal 10 Maret 2026, klien kami tidak pernah ditanya apakah akan mengajukan saksi meringankan, saksi menguntungkan dan saksi ahli. Hanya satu kali dipanggil, langsung gelar perkara dan jadi LP (Laporan Polisi),” ujar Ipung seusai sidang.

Ipung menilai penetapan dokter KC dan ibunya sebagai tersangka berlangsung terburu-buru. Dia juga menyoroti waktu penetapan tersangka pada 2 September 2026, yang menurutnya berdekatan dengan proses perkara perdata antara dokter KC dan pihak pelapor. Dia menyebut surat pemanggilan tersangka diterbitkan pada 8 September 2026, sementara perkara perdata tersebut masih bergulir di PN Denpasar.

Ipung menduga terdapat keterkaitan antara perkembangan perkara perdata dan penetapan tersangka tersebut. Namun, dugaan itu merupakan dalil pihak pemohon yang hendak diuji melalui praperadilan.

“Inilah yang ingin kami uji di sidang praperadilan. Apakah jika masih ada perkara perdata, maka perkara pidana bisa dilanjutkan. Karena harusnya ditangguhkan,” kata Ipung.

Pihak pemohon juga mempersoalkan penerapan pasal terkait dugaan penggelapan asal-usul anak serta status perkawinan dokter KC yang masih tercatat belum menikah dalam KTP. Menurut Ipung, hal itu terjadi karena akta nikah sebelumnya ditahan oleh suami dokter KC, Reiner.

“Kami sudah mengirimkan somasi ke Reiner, pasca kami buat laporan Pasal 486 KUHP di Polda Bali, dan akta nikah itu sudah dikembalikan ke klien kami,” ungkapnya.

Sidang dijadwalkan berlanjut Rabu (28/10/2026). Ipung menyatakan pihaknya telah menyiapkan 44 surat bukti dan saksi ahli untuk mendukung permohonan praperadilan. (MT-004)

 

38 Karya Perupa Payangan Dipamerkan di Griya Santrian Sanur

0

Denpasar, Matahari Timur – Sebanyak 38 karya seni rupa dipamerkan Himpunan Perupa Payangan dalam pameran kolektif bertajuk Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur. Pameran yang berlangsung 18 September hingga 31 Oktober 2026 tersebut menjadi ruang bagi para perupa Payangan mengeksplorasi tradisi sekaligus memperluas ekspresi artistik.

Beragam karya ditampilkan, mulai dari seni tradisi, perpaduan estetika tradisional dan modern, karya abstrak, hingga seni patung. Keragaman tersebut memperlihatkan perkembangan kreativitas perupa Payangan yang tidak lagi terpaku pada satu corak.

Ketua Himpunan Perupa Payangan, Made Dolar Astawa, mengatakan pameran tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan komunitas perupa Payangan. Jika sebelumnya eksplorasi lebih banyak dilakukan ke dalam melalui filosofi Bayu-dep-Karma, pameran di Sanur menjadi momentum untuk melangkah keluar dan membuka ruang kreativitas yang lebih luas.

“Udhar Banda Karma merupakan upaya bersama untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa kami yang lebih terbuka,” ujar Made Dolar Astawa.

Menurutnya, keberagaman 38 karya justru menjadi kekuatan Himpunan Perupa Payangan. Sebagian karya masih mempertahankan karakter tradisi, sementara karya lainnya mempertemukan estetika tradisional dengan pendekatan modern hingga bergerak menuju abstraksi.

Pameran tersebut mendapat dukungan Bupati Gianyar serta Santrian Art Gallery yang memberikan ruang kepada para perupa Payangan untuk memperluas jangkauan ekspresi dan mempertemukan karya mereka dengan publik yang lebih beragam.

Kurator pameran, Dr. I Nyoman Suardina, mengatakan perpindahan lokasi pameran dari Payangan ke Sanur bukan sekadar perpindahan geografis. Perpindahan tersebut, kata dia, dapat dimaknai sebagai “perpindahan epistemik”, yakni pergeseran dari ruang yang kuat dengan pakem tradisi menuju ruang dialog seni yang lebih terbuka.

Sanur memiliki sejarah panjang sebagai ruang perjumpaan berbagai pengaruh seni. Dalam konteks itu, kehadiran perupa Payangan tidak hanya untuk menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga menghadirkan pertanyaan mengenai sejauh mana tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan akarnya.

Konsep Udhar Banda Karma menjadi gagasan utama pameran. Secara etimologis, udhar dimaknai sebagai mengurai atau melepaskan ikatan, banda sebagai belenggu atau kekangan, sedangkan karma berkaitan dengan perbuatan atau hasil dari tindakan masa lalu.

Konsep tersebut diterjemahkan sebagai upaya membebaskan kreativitas dari keterikatan terhadap pakem yang terlalu kaku. Tradisi tidak ditinggalkan, melainkan ditempatkan sebagai fondasi bagi seniman untuk bergerak dan melakukan eksplorasi.

Perjalanan tersebut terlihat dari karya-karya yang dipamerkan. Sejumlah karya masih memperlihatkan estetika klasik Payangan melalui garis, detail, teknik, dan karakter visual tradisional. Namun, tradisi tidak sekadar dihadirkan sebagai pengulangan.

Pada karya lainnya, karakter pewayangan, lanskap, dan simbol-simbol Bali dipertemukan dengan komposisi serta sapuan kuas yang lebih modern. Eksplorasi kemudian bergerak menuju abstraksi melalui permainan warna, tekstur, energi, dan emosi.

Eksplorasi juga hadir melalui karya tiga dimensi. Material seperti kayu dan batu tidak hanya digunakan untuk membentuk figur tradisional, tetapi dikembangkan melalui permainan bentuk, ruang, dan volume.

Keseluruhan 38 karya tersebut membentuk spektrum perjalanan kreatif, mulai dari tradisi yang dipertahankan, tradisi yang ditafsirkan kembali, hingga tradisi yang diterjemahkan melalui bahasa seni yang lebih kontemporer.

Tradisi Bukan Belenggu

Owner Santrian Art Gallery, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA, menyambut pameran tersebut sebagai pertemuan dua karakter geografis dan kultural Bali, yakni Payangan yang berada di kawasan pedalaman dan Sanur yang sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan budaya.

Menurutnya, seni dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kedua ruang tersebut.

“Merawat tradisi bukan berarti memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh, bertransformasi, dan relevan dengan zaman,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan pemilik Santrian Art Gallery.

Pameran Udhar Banda Karma menjadi ruang bagi para perupa Payangan untuk memperlihatkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berdialog dalam satu karya, baik melalui lukisan maupun karya tiga dimensi.

Pameran ini sekaligus menjadi catatan perjalanan Himpunan Perupa Payangan dalam memperluas ruang eksplorasi. Tradisi tetap menjadi akar, tetapi tidak ditempatkan sebagai belenggu dalam perjalanan kreativitas para perupa. (MT-001)

 

 

 

 

Kuasa Hukum KC Siap Tempuh Praperadilan, Demi Ibu dan Bayinya

0

Denpasar, Matahari Timur – Pemandangan menyedihkan terlihat di Mapolresta Denpasar, Selasa, 8 September 2026. Seorang wanita tampak menggendong bayinya yang masih berusia enam bulan, dengan wajah penuh kepedihan saat melangkah menuju ruang pemeriksaan penyidik.

Di tengah hiruk pikuk proses hukum yang sedang dihadapinya, perempuan muda berinisial KC itu tak datang seorang diri. Bayi kecil yang masih membutuhkan dekapan dan ASI sang ibu ikut berada dalam pelukannya.

KC, yang berprofesi sebagai dokter, bersama ibunya berinisial LJL, memenuhi panggilan penyidik Polresta Denpasar setelah keduanya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penggelapan asal-usul anak.

Keduanya datang didampingi penasihat hukum, Siti Sapurah SH atau yang akrab disapa Ipung. Sang kuasa hukum juga dikenal sebagai aktivis perlindungan perempuan dan anak.

Setelah sebelumnya upaya meminta penghentian penyidikan melalui Surat Perintah Penghentian Penyidikan atau SP3 belum menemui titik terang, perkara tersebut terus bergulir.

Usai menjalani pemeriksaan, Ipung kembali mempertanyakan dasar penetapan tersangka terhadap kedua kliennya. Menurutnya, terdapat sejumlah hal yang dinilai janggal dalam proses hukum tersebut.

Penetapan tersangka terhadap KC dan ibunya mendapat penolakan dari pihak kuasa hukum. Ipung menilai perkara tersebut memiliki kaitan dengan perselisihan hak asuh anak yang tengah terjadi di antara KC dan suaminya.

Menurut Ipung, tuduhan dugaan penggelapan asal-usul anak dinilai tidak memiliki dasar materiil yang kuat. Sebab, identitas ibu kandung bayi tersebut, kata dia, telah tercantum secara jelas dalam Surat Keterangan Lahir.

“Pertanyaan saya, dalam Surat Keterangan Lahir anak disebut nama ibunya jelas KC. Apakah ada yang disembunyikan? Silakan lakukan tes DNA,” ujar Siti Sapurah saat mendampingi pemeriksaan kliennya di Mapolresta Denpasar.

Ia juga membantah narasi yang menyebut kliennya memberikan keterangan palsu mengenai status perkawinan saat menjalani proses persalinan di Rumah Sakit Prima Medika.

Menurut Ipung, sejak awal KC tidak memegang dokumen fisik berupa Kartu Keluarga maupun akta perkawinan karena dokumen tersebut, menurut keterangan pihaknya, berada dalam penguasaan pihak pelapor yang merupakan suami KC.

Kondisi itu menyebabkan administrasi rumah sakit diisi berdasarkan Kartu Tanda Penduduk lama milik KC yang masih mencantumkan status belum kawin.

“Klien saya sudah mengatakan di awal tidak punya KK dan akta perkawinan suami, dan hanya punya KTP belum kawin. Terus di mananya penggelapan?” tegasnya.

Ipung menilai persoalan administrasi tersebut tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai upaya untuk menyembunyikan asal-usul anak. Terlebih, menurutnya, bayi tersebut sejak lahir hingga saat ini berada dalam pengasuhan KC dan masih menyusu langsung kepada ibunya.

Di tengah proses pemeriksaan itu, perhatian Ipung tertuju pada bayi yang masih berada dalam dekapan KC.

Menurutnya, perkara hukum yang sedang berjalan tidak seharusnya mengabaikan kondisi seorang bayi yang masih berusia enam bulan dan masih membutuhkan kehadiran sang ibu.

“Ini hanyalah balas dendam untuk merebut hak asuh anak karena gugatan rekonvensinya di pengadilan ditolak seluruhnya. Tapi beranikah memenjarakan seorang ibu dengan bayi yang masih enam bulan?” cetusnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Ipung sebagai pandangannya terhadap perkara yang kini menyeret kliennya ke proses hukum.

Dalam pemeriksaan Berita Acara Pemeriksaan atau BAP, pihak kuasa hukum juga menyampaikan keberatan. Mereka menilai hak KC dan ibunya untuk mengajukan saksi yang meringankan atau saksi a de charge belum diakomodasi secara optimal.

Karena itu, Ipung memastikan akan menempuh berbagai jalur hukum untuk melawan penetapan tersangka terhadap kedua kliennya.

Langkah yang disiapkan antara lain mengajukan permohonan praperadilan, melaporkan pihak-pihak yang dinilai terkait dalam proses tersebut ke Divisi Profesi dan Pengamanan atau Propam Polri, serta menyampaikan surat permohonan pengawasan kepada Kapolda Bali hingga Kapolri.

Bagi Ipung, perjuangan tersebut bukan sekadar membela seorang klien yang kini telah berstatus tersangka.

“Saya akan praperadilankan dan saya akan Propam-kan semua yang terlibat di sini. Saya tidak membela tersangka, tapi membela bayi enam bulan,” kata Ipung.

Di tengah sengketa dan proses hukum yang masih berjalan, pemandangan seorang ibu yang datang menjalani pemeriksaan sambil menggendong bayinya menjadi gambaran lain dari sebuah perkara yang kini bergulir.

Sementara orang-orang dewasa berdebat tentang pasal, bukti, dan proses hukum, seorang bayi berusia enam bulan itu tetap berada dalam pelukan ibunya—belum memahami apa yang sedang terjadi, tetapi masih membutuhkan satu hal yang paling sederhana: kehadiran seorang ibu. (MT-003)

Bupati Sutjidra Hadiri Rsi Yadnya Padiksaan Madwijati di Giri Emas

0

Buleleng, MatahariTimur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menghadiri Upacara Rsi Yadnya Padiksaan Madwijati Ida Gede Diksita Arya Gunawan dan Ida Diksita Istri Malianis Ida Diksita Istri Sriasih, yang berlangsung di Banjar Dinas Dangin Yeh, Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Kamis (27/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sutjidra didampingi Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokompim) Setda Buleleng Gede Jumat Adi Jaya. Kehadiran Bupati menjadi bentuk perhatian sekaligus penghormatan Pemerintah Kabupaten Buleleng terhadap pelaksanaan upacara keagamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali.

Bupati Sutjidra menyampaikan ucapan selamat atas pelaksanaan Upacara Rsi Yadnya Padiksaan Madwijati tersebut. Ia berharap Ida Gede Diksita Arya Gunawan senantiasa dapat menjalankan swadharma sebagai seorang Sulinggih dengan penuh ketulusan dan tanggung jawab.

Menurutnya, keberadaan seorang Sulinggih memiliki peran penting dalam kehidupan umat Hindu, khususnya dalam memberikan tuntunan, membina umat, serta menjadi teladan dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan dan dharma. Karena itu, pelaksanaan Padiksaan Madwijati diharapkan menjadi momentum untuk semakin menguatkan pengabdian kepada umat dan kehidupan sosial keagamaan masyarakat.

Bupati juga mendoakan agar seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar, serta membawa kedamaian dan keberkahan bagi keluarga besar yang melaksanakan maupun bagi umat Hindu secara luas. “Dumogi memargi antar tur labda karya,” ucapnya.

Sebelum menghadiri rangkaian upacara, Bupati Sutjidra terlebih dahulu diterima oleh Camat Sawan, Danramil 09 Sawan, Perbekel Giri Emas, Kelian Desa Adat Giri Emas, serta keluarga besar Ida Gede Diksita Arya Gunawan. Penyambutan tersebut mencerminkan eratnya hubungan antara pemerintah daerah dengan masyarakat dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.

Kehadiran Bupati Buleleng dalam Upacara Rsi Yadnya Padiksaan Madwijati ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk terus menjaga kedekatan dengan masyarakat serta memberikan perhatian terhadap kehidupan sosial, keagamaan, dan kebudayaan. Dukungan tersebut diharapkan turut memperkuat pelestarian nilai-nilai luhur agama dan budaya Bali di tengah perkembangan zaman. (MT-Sug)

Ngaben Massal di Kalianget Diikuti 44 Sawa, Bupati Sutjidra Serahkan Bantuan

0

Buleleng, MatahariTimur – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya/Ngaben Massal yang digelar masyarakat Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Buleleng, Rabu (26/8/2026). Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama jajaran hadir memenuhi undangan sekaligus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan upacara adat dan keagamaan tersebut.

Kehadiran Bupati Sutjidra disambut hangat oleh keluarga dan krama yang melaksanakan rangkaian upacara. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang silaturahmi antara Pemerintah Kabupaten Buleleng dengan masyarakat, khususnya dalam menjaga kedekatan dan kebersamaan dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan.

Upacara Pitra Yadnya/Ngaben Massal ini diikuti oleh 44 sawa, sementara rangkaian ngeraphu diikuti 50 sawa. Pelaksanaan secara massal menjadi salah satu bentuk kebersamaan masyarakat dalam menjalankan kewajiban keagamaan sekaligus memperkuat semangat gotong royong antar-krama.

Puncak karya pengabenan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Seluruh rangkaian upacara dilaksanakan dengan berpedoman pada tata pelaksanaan adat dan agama Hindu yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sutjidra menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Upacara Pitra Yadnya secara bersama-sama. Menurutnya, pelaksanaan upacara tidak hanya memiliki makna spiritual bagi keluarga yang melaksanakan, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberadaan adat dan budaya Bali.

Bupati berharap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pelaksanaan Pitra Yadnya dapat terus dipahami dan diwariskan kepada generasi muda. Dengan demikian, tradisi dan adat Bali dapat tetap hidup, berkembang, dan lestari meskipun masyarakat menghadapi berbagai perubahan serta perkembangan zaman.

Sebagai bentuk dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan karya pengabenan massal tersebut, Bupati Sutjidra juga menyerahkan bantuan dana yang diterima langsung oleh ketua panitia. Dukungan ini diharapkan dapat membantu kelancaran seluruh rangkaian upacara sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga tradisi, adat, serta budaya Bali. (MT-Sug)

 

Hadiri PKKMB IAHN Mpu Kuturan 2026, Wabup Buleleng Ajak Teguhkan Semangat Generasi Unggul

0

Buleleng, Matahari Timur – Pemerintah Kabupaten Buleleng sebagai Guru Wisesa memiliki peran penting dalam mendukung lahirnya generasi muda yang unggul, berkarakter, dan memiliki semangat pengabdian kepada masyarakat, daerah, serta bangsa. Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui kehadiran Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna dalam Pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Tahun 2026 di Kampus IAHN Mpu Kuturan, Singaraja, Rabu (26/8/2026).

PKKMB tahun ini mengusung tema “Wiratama Vidya Dharma: Membentuk Generasi Unggul, Berkarakter, dan Berbakti pada Bangsa.” Tema tersebut dinilai relevan dengan tantangan generasi muda saat ini, sekaligus menjadi pijakan bagi mahasiswa baru untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter, integritas, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Memasuki kehidupan perguruan tinggi merupakan fase penting dalam perjalanan pendidikan. Karena itu, PKKMB diharapkan menjadi ruang awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik, memahami nilai-nilai kehidupan kampus, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari generasi penerus bangsa.

Keberadaan IAHN Mpu Kuturan juga dinilai memiliki arti strategis bagi pembangunan sumber daya manusia di Buleleng. Selain membuka akses pendidikan tinggi yang lebih luas bagi masyarakat, perguruan tinggi ini memiliki peran dalam membentuk generasi yang memiliki kompetensi sekaligus memahami nilai-nilai agama, budaya, dan kearifan lokal Bali.

Pemerintah Kabupaten Buleleng memberikan apresiasi terhadap keberadaan IAHN Mpu Kuturan sebagai salah satu aset penting pendidikan di daerah. Kolaborasi antara pemerintah dan institusi pendidikan dinilai perlu terus diperkuat agar pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki karakter kuat dan siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Melalui momentum PKKMB ini, mahasiswa baru diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi dengan sebaik-baiknya. Semangat belajar, menjaga integritas, menghormati nilai-nilai budaya, serta membangun kepedulian sosial menjadi bekal penting untuk menghadapi masa depan.

Wakil Bupati Gede Supriatna juga mengajak seluruh mahasiswa untuk menjadikan masa kuliah sebagai ruang untuk mengembangkan potensi diri sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu berkontribusi bagi Buleleng dan Indonesia. Dengan ilmu, karakter, dan semangat pengabdian yang berjalan beriringan, generasi muda diharapkan mampu menjadi kekuatan penting dalam pembangunan daerah dan bangsa. (MT-Sug)

Ngaben Massal di Bontihing, Bupati Sutjidra Tegaskan Dukungan Adat dan Budaya Bali

0

Buleleng, MatahariTimur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Ny. Wardhany Sutjidra menghadiri Upacara Karya Pitra Yadnya/Ngaben Massal yang diselenggarakan oleh Krama Dadia Pasek Gelgel II, Banjar Dinas Kanginan, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Rabu (26/8).

Kehadiran Bupati Sutjidra dalam rangkaian upacara tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus dukungan Pemerintah Kabupaten Buleleng terhadap pelaksanaan adat dan agama Hindu yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali.

Upacara Karya Pitra Yadnya ini diikuti oleh sebanyak 17 sawa dan 18 peserta ngerapuh. Seluruh rangkaian upacara dilaksanakan secara bersama-sama dengan melibatkan krama, sehingga selain menjadi pelaksanaan kewajiban keagamaan, kegiatan tersebut juga memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Puncak Karya Pitra Yadnya/Ngaben Masal dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 29 Agustus 2026, bertempat di Wantilan Desa Adat Bontihing. Prosesi tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian upacara untuk menghantarkan atma menuju tahapan selanjutnya sesuai dengan keyakinan dan tata cara agama Hindu.

Dalam kesempatan tersebut, kehadiran Bupati bersama Ny. Wardhany Sutjidra juga mencerminkan kedekatan pemerintah daerah dengan masyarakat, khususnya dalam mendukung berbagai kegiatan adat, agama, dan budaya yang tumbuh serta diwariskan secara turun-temurun.

Pemerintah Kabupaten Buleleng terus mendorong agar nilai-nilai adat, agama, dan budaya Bali tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. Pelaksanaan Ngaben Massal ini tidak hanya memiliki makna spiritual bagi keluarga dan krama yang melaksanakannya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya bersama menjaga keberlanjutan tradisi dan budaya Bali. MT-Sug)

Berlangsung Lima Hari, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar

0

Buleleng, MatahariTimur – Pelaksanaan Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Kamis (23/8). Selama lima hari penyelenggaraan, festival ini berhasil mencatatkan perputaran ekonomi sebesar Rp3,091 miliar lebih. Diperkirakan sampai akhir kegiatan, perputaran ekonomi mencapai Rp3.6 miliar lebih.

Angka tersebut menjadi bukti nyata bahwa produk UMKM lokal Buleleng sangat digemari masyarakat, wisatawan domestik maupun mancanegara. Buleleng Festival 2026 diikuti sebanyak 105 UMKM lokal dari berbagai sektor, antara lain kriya, kuliner, olahan pangan, dan fashion. Para pelaku usaha tersebut tersebar di tiga zona, yakni Zona A sebanyak 48 tenan, Zona B sebanyak 38 tenan, dan Zona C sebanyak 19 tenan.

“Selama enam hari ini masyarakat telah menyaksikan dan merasakan kekayaan seni, budaya, kuliner, dan kreativitas warga Buleleng yang memancarkan energi positif bagi pariwisata dan perekonomian daerah,” ujar Bupati Sutjidra.

Dari sisi ekonomi, Bupati menegaskan festival ini membuka ruang seluas-luasnya bagi pelaku UMKM untuk menampilkan produk kreatif dan kuliner khas Buleleng. Selain itu juga memperkuat jaringan pasar dan memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk berkarya. Sementara dari sisi budaya, pemerintah daerah berhasil memfasilitasi pelestarian dan inovasi, di mana tradisi bertemu kreativitas modern sehingga budaya Buleleng tetap relevan dan hidup.

Bupati Sutjidra menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari panitia, seniman, komunitas, pelaku usaha, hingga aparat keamanan dari Polres Buleleng dan Kodim 1609/Buleleng. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh perangkat daerah, Kelian Desa Adat Buleleng, Prajuru Banjar Adat, sponsor, relawan, dan seluruh pengunjung yang telah menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan selama festival berlangsung.

“Terima kasih kepada seluruh pengunjung Buleleng Festival yang telah menjaga keamanan, ketertiban dan kebersihan lingkungan, sehingga Buleleng Festival tahun 2026 dapat berjalan nyaman, aman, tertib dan asri,” ucapnya.

Menutup sambutannya, bupati mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk membawa semangat “Uriping Rasa” ke kehidupan sehari-hari: terus melestarikan budaya, saling menghargai, memperkuat gotong royong, dan mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan. Pemkab Buleleng juga berkomitmen akan terus mendukung pengembangan kebudayaan dan ekonomi kreatif melalui program-program yang berpihak kepada pelaku seni dan UMKM.

“Semoga hasil dan semangat festival ini memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat Buleleng,” tutup Bupati Sutjidra. (MT-Sug)

Puncak Karya Praja Mandala Singa Ambara Raja, Bupati Sutjidra Dorong Pelestarian Tradisi dan Persatuan

0

Buleleng, Matahari Timur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Ny. Wardhany Sutjidra, Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna bersama Ny. Hermawati Supriatna, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP), serta jajaran kepala perangkat daerah melaksanakan persembahyangan bersama dalam rangka Puncak Karya Mamungkah, Melaspas, Ngenteg Linggih, dan Mapedudusan Agung di Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja serta Kantor Bupati Buleleng, Rabu (29/7).

Prosesi yadnya dipuput oleh Ida Pandita Mpu Nabe Ratangkara Bayu Segara Gni Ananda Wijaya Nata, Ida Sri Bhagawan Rama Sogata, Ida Rsi Bujangga Waisnawa Surya Adnyana, serta Ida Pandita Mpu Nabe Dwi Dharma Wijaya Nanda. Kegiatan keagamaan ini merupakan wujud sraddha bhakti sekaligus ungkapan rasa syukur atas rampungnya pembangunan kawasan tersebut, serta memohon keselamatan, kerahayuan, dan keharmonisan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Buleleng.

Dalam sambutannya, Bupati I Nyoman Sutjidra menyampaikan bahwa kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai Titik Nol Kota Singaraja dan kini bernama Praja Mandala Singa Ambara Raja merupakan milik seluruh masyarakat Buleleng. Melalui pelaksanaan upacara secara sekala dan niskala, diharapkan kawasan tersebut senantiasa lestari, metaksu, serta memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kebersihan, ketertiban, keamanan, dan kenyamanan kawasan sebagai ikon baru Kabupaten Buleleng.

“Praja Mandala Singa Ambara Raja ini milik masyarakat Buleleng, milik kita semua. Bukan milik saya ataupun milik Pak Wakil Bupati. Mari kita jaga bersama agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat,” tegasnya.

Bupati Sutjidra juga mengungkapkan keinginannya untuk mengembangkan kembali Pelabuhan Buleleng sebagai bagian dari upaya mengembalikan kejayaan Kota Singaraja. Menurutnya, Pelabuhan Buleleng memiliki nilai sejarah yang penting karena menjadi saksi ketika Buleleng pernah dikenal sebagai pusat pendidikan, perdagangan, pemerintahan, dan kebudayaan di Bali. Pengembangan kawasan tersebut diharapkan mampu memperkuat identitas sejarah sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Buleleng.

Rangkaian upacara turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan perangkat daerah, tokoh agama, tokoh adat, serta berbagai elemen masyarakat. Prosesi berlangsung khidmat sesuai tata cara agama Hindu sebagai bentuk penyucian dan penyempurnaan kawasan yang telah dibangun. Melalui pelaksanaan karya ini, Pemerintah Kabupaten Buleleng berharap Praja Mandala Singa Ambara Raja tidak hanya menjadi ikon daerah yang memiliki nilai estetika dan historis, tetapi juga memiliki nilai spiritual sebagai simbol persatuan, kebanggaan, dan semangat masyarakat Buleleng dalam mewujudkan daerah yang maju, harmonis, dan sejahtera. (MT-Sug)