Rendang, Matahari Timur – Udara malam di kaki Gunung Agung terasa dingin dan lembap. Ari Tanang mengencangkan tali ranselnya, melirik tiga temannya — Kadek Dian, Weda, dan Lesti — yang berdiri di bawah gapura Pura Besakih. Angin bertiup pelan, membawa aroma dupa yang samar dari arah pura.
“Udah siap?” tanya Weda. Ari hanya mengangguk. Mereka memulai pendakian tanpa banyak bicara.
Di gunung ini, ada satu aturan tak tertulis: jangan bawa olahan daging sapi, dan jangan pakai emas. Bukan sekadar larangan adat — tapi peringatan dari para penjaga gunung yang tak terlihat. Yang melanggar, katanya, nggak bakal pulang dalam wujud yang sama.
Awalnya semua terasa normal. Hujan turun rintik-rintik, udara segar, jalur licin tapi aman. Sampai Ari turun sebentar ke basecamp untuk ambil logistik yang tertinggal.
Saat kembali ke jalur, langkahnya terhenti.
Di bawah pohon besar, tiga orang berpakaian adat Bali sedang sembahyang. Satu pria, dua perempuan. Wajah mereka teduh… tapi mata mereka kosong, seperti menatap sesuatu jauh di balik kabut.
Ari hanya sempat berkata lirih, “Permisi.” Tak ada jawaban. Hanya angin yang berputar pelan di sekitar dupa yang menyala.
Beberapa menit kemudian, saat Ari menyusul timnya ke atas, jantungnya nyaris berhenti.Di Pos 2, dia melihat tiga orang yang sama. Dengan posisi, pakaian, dan dupa yang sama. Padahal jarak dari tempat tadi ke Pos 2 butuh hampir satu jam jalan kaki. Yang lebih aneh — tanah di sekitar mereka kering total, padahal hujan baru reda.
Aroma bunga kamboja menempel di udara, menyengat.
Menjelang malam, mereka sampai di Pos 3. Langit gelap lebih cepat dari seharusnya, seperti ada tirai hitam dijatuhkan dari langit. Suara-suara asing mulai terdengar: langkah pelan di semak, desisan napas dari arah tak jelas, dan… lenguhan seperti babi hutan, tapi anehnya — datang dari atas pohon.
“Sejak kapan babi bisa manjat?” bisik Weda, suaranya parau. Tak ada yang menjawab. Hanya bunyi hujan rintik dan napas yang berat.
Menuju Pos 5, kabut turun tebal dan dingin menggigit kulit. Tiba-tiba Ari berhenti mendadak. Senter di tangannya menyorot sesuatu. Makhluk kecil berbulu hitam.
Kepalanya botak, kulitnya licin mengilap seperti basah. Ukurannya tak lebih besar dari spion motor. Ia berdiri di tengah jalur, menatap mereka dengan mata merah menyala. Lalu perlahan — makhluk itu mengangkat tangannya, menunjuk ke bawah, ke sisi jurang. Dan dari mulutnya keluar suara mengerikan — jeritan panjang, mirip babi disembelih.
Seketika, darah mereka membeku. Ari menyorot arah yang ditunjuk makhluk itu — dan melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Di balik kabut, ada sosok perempuan melayang. Rambutnya panjang menutupi sebagian wajah, tapi ubun-ubunnya botak seperti dicabik. Matanya besar, melotot liar. Giginya acak-acakan, menganga seperti hendak menelan cahaya. Kulitnya pucat kebiruan, pakaian compang-camping, dan tubuhnya menggantung tanpa pijakan.
Dalam sekejap, sosok itu menyerbu ke arah makhluk kecil tadi. Kuku-kukunya yang panjang seperti sabit menembus bulu hitam itu — dan suara melengking menggema di tengah kabut. Darah hitam menetes ke tanah, menyebarkan bau anyir yang tajam.
Sosok perempuan itu lalu menatap ke arah Ari dan kawan-kawannya. Sekejap mata, dia menghilang ke dalam kabut, meninggalkan udara yang terasa berat seperti menelan napas mereka.
Tak ada yang bersuara. Lesti mulai menangis pelan. Kadek menatap kosong ke tanah. Malam itu, mereka hanya duduk mematung, tak berani menyalakan api unggun.
Menjelang pagi, kabut perlahan terurai. Mentari muncul di ufuk timur, menciptakan siluet Gunung Rinjani yang megah, dan Gunung Raung yang berdiri kokoh di barat.
Untuk sesaat, semua ketakutan seolah sirna.
Tapi saat mereka menuruni jalur kembali, bau bunga kamboja kembali tercium samar, bercampur aroma dupa yang terbakar. Ari menoleh ke belakang — dan di antara kabut yang menipis, dia sempat melihat bayangan tiga sosok berpakaian adat berdiri di bawah pohon besar.
Diam. Menatap.
Pendakian itu bukan sekadar ujian fisik. Bagi mereka, Gunung Agung telah menunjukkan wajah lain — tempat di mana dunia manusia dan dunia gaib hanya dipisahkan oleh kabut tipis. (Ade Andani)

