24.3 C
Bali
1 November 2026
Beranda blog Halaman 6

Bupati Sutjidra Pimpin Penanaman Pohon, Perkuat Konservasi di Desa Ambengan

0

Buleleng, Matahari Timur – Semangat konservasi dan pelestarian lingkungan hidup kembali digelorakan di Buleleng. Bertepatan dengan peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan menyambut Hari Jadi ke-206 Desa Ambengan, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara langsung memimpin kegiatan penanaman pohon di Hutan Desa setempat, Sabtu (22/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna serta Sekretaris TP PKK Kabupaten Buleleng, Ny. Hermawati Supriatna, menandakan komitmen kuat pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian alam.

Dalam arahannya, Bupati Sutjidra menekankan pentingnya aksi nyata memelihara keseimbangan ekosistem. Ia mendorong seluruh komponen masyarakat untuk terus melakukan upaya pelestarian lingkungan. Momentum musim hujan yang telah tiba, menurutnya, menjadi saat yang tepat sekaligus pengingat untuk bersama-sama mengantisipasi potensi bencana alam dengan memperkuat ketahanan alam melalui penanaman pohon.

“Desa Ambengan memiliki peran strategis sebagai salah satu desa hulu di Buleleng. Kelestarian alam di sini akan berdampak langsung pada ketersediaan air dan keseimbangan lingkungan di wilayah hilir. Mari kita jaga bersama desa kita ini, jaga hutannya, untuk mencegah banjir dan longsor, serta menjamin keberlanjutan kehidupan bagi anak cucu kita,” ajak Bupati Sutjidra dengan penuh semangat.

Aksi penanaman pohon ini tidak hanya bersifat seremonial belaka, melainkan sebuah langkah praktis dan berorientasi masa depan. Sebanyak 200 bibit pohon buah-buahan unggulan ditanam secara gotong royong di area seluas 20 are. Komposisi bibit yang dipilih pun terencana, terdiri dari 100 bibit durian, 50 bibit manggis, dan 50 bibit alpukat. Pemilihan jenis pohon buah ini tidak hanya bertujuan untuk konservasi tanah dan air, tetapi juga memiliki nilai ekonomis jangka panjang yang dapat memberdayakan masyarakat sekitar.

Kegiatan yang diwarnai dengan suasana kekeluargaan ini mendapat sambutan hangat dari warga. Kehadiran pimpinan daerah di tengah-tengah mereka dinilai sebagai bentuk perhatian dan dukungan nyata bagi upaya pelestarian yang telah lama dijaga secara turun-temurun. Penanaman pohon multipurpose ini diharapkan dapat menjadi simbol penyatuan semangat antara pelestarian ekologi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan ditanamnya ratusan bibit pohon ini, Hutan Desa Ambengan tidak hanya menjadi paru-paru dan penjaga tata air Buleleng, tetapi juga menyimpan potensi menjadi kebun masa depan yang menghidupi. (MT-003)

Dorong Kesadaran Masyarakat Jaga Kebersihan Sungai, Bupati Sutjidra: Kegiatan Bersih-Bersih Dilakukan Berkelanjutan

0

Buleleng, Matahari Timur – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya aliran sungai yang rawan terdampak saat musim hujan. Hal ini ditegaskan oleh Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra setelah memimpin kegiatan pembersihan lingkungan yang dipusatkan di wilayah Kali Mumbul, kawasan yang selama ini menjadi titik rawan permasalahan akibat penumpukan sampah, Jumat (21/11).

“Kegiatan hari ini kita fokuskan di Kali Mumbul karena lokasi ini sering bermasalah. Astungkara masyarakat ikut berpartisipasi,” ujar Bupati Sutjidra

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir dan ikut berpartisipasi yakni masyarakat dari Kelurahan Banjar Jawa dan wilayah sekitar Kali Mumbul. Selain itu, unsur pemerintah daerah melalui OPD terkait, serta aparat TNI dan Polri juga terlibat dalam aksi bersih-bersih tersebut.

Bupati Sutjidra menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berlangsung hari ini, tetapi akan terus dilanjutkan secara berkala sebagai langkah antisipatif menghadapi musim hujan. “Kegiatan ini akan terus berlanjut untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan, apalagi menurut BMKG curah hujan cukup tinggi hingga bulan Februari,” terangnya.

Lebih lanjut, dirinya menyampaikan, kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama aliran sungai di masing-masing wilayah, menunjukkan perkembangan positif. “Dari hasil pengamatan, masyarakat mulai sadar untuk membersihkan aliran sungai, termasuk di kawasan permukiman,” jelas Bupati Sutjidra.

Terakhir, Bupati Sutjidra juga mengajak seluruh masyarakat agar semakin peduli terhadap persoalan sampah. Karena hal ini yang dinilai paling berpengaruh terhadap kebersihan sungai. Melalui program Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS). “Harapannya masyarakat sadar bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah akan terus berupaya mengelola sampah dan menjadikan Buleleng bersih dari sampah, terutama sampah plastik sekali pakai,” tutupnya. (MT-003)

Legenda Pan Balang Tamak: Misteri Kendi dan Muslihat Liciknya

0

Denpasar, Matahari Timur – Pada zaman dahulu, di sebuah desa yang subur di Bali, hiduplah seorang laki-laki cerdik bernama Pan Balang Tamak. Namanya terkenal di seluruh desa bukan karena kebaikannya, melainkan karena kecerdikan sekaligus kelicikannya. Ia selalu berusaha mendapatkan keuntungan dengan cara paling mudah, bahkan jika harus memanipulasi keadaan dan memperdaya orang lain. Meski demikian, kecerdikannya sering membuat warga kesal sekaligus kagum.

Suatu hari, kelian desa mengumumkan bahwa warga harus bergotong royong membersihkan pura menjelang upacara besar. Semua warga diharuskan datang. Pan Balang Tamak yang malas bekerja segera mencari cara agar bisa menghindari kewajiban itu. Ia lalu menghadap kelian desa sambil pura-pura sakit. “Saya ingin ikut ngayah, tetapi badan saya terasa sangat lemah,” katanya sambil memegangi dahi. Kelian desa yang sudah menduga akalnya hanya mengangguk sinis, namun karena tak ada bukti, ia membiarkan Pan Balang Tamak pulang.

Beberapa hari kemudian, desa kembali mengadakan gotong royong untuk mempersiapkan upacara. Kali ini tidak ada alasan untuk mangkir. Pan Balang Tamak pun memutar otak lebih keras. Ia kemudian mengambil seekor anjing peliharaannya, memotong sebagian bulunya, dan menempelkannya pada tubuhnya sendiri menggunakan getah kering. Dengan begitu ia tampak seperti manusia yang ditumbuhi bulu tidak wajar, seolah terkena penyakit aneh. Ketika datang ke balai banjar, ia memperlihatkan “penyakit”-nya dan membuat warga ketakutan sehingga mereka memintanya segera pulang.

Kelian desa yang sudah berkali-kali dibohongi Pan Balang Tamak akhirnya merasa kesal dan ingin memberikan pelajaran. Ia kemudian merencanakan gotong royong besar berikutnya untuk membersihkan sungai. Kali ini, kelian desa mengumumkan bahwa siapa pun yang tidak datang akan dikenai denda besar. Pan Balang Tamak panik karena tidak bisa lagi menggunakan alasan sakit atau penyakit aneh. Maka ia pun mencari celah baru untuk mengakali aturan desa.

Keesokan harinya, Pan Balang Tamak datang ke sungai, tetapi bukan untuk bekerja. Ia membawa sebuah kendi dan mengisinya dengan air sungai. Setiap kali warga melihat ke arahnya, ia pura-pura bekerja keras, tetapi sebenarnya ia hanya memindahkan air dari sungai ke kendi, lalu membuangnya kembali ke sungai. Gerakannya yang acak-acakan membuat warga curiga, namun ia selalu mengaku bahwa dirinya “mengalirkan air biar suci,” alasan yang terdengar konyol tetapi sulit dibantah saat itu.

Setelah upacara selesai, warga semakin jengkel karena Pan Balang Tamak terus mengakali setiap tugas desa. Maka kelian desa memutuskan membuat aturan baru: siapa pun yang datang gotong royong tetapi tidak bekerja dengan benar akan dikenai hukuman lebih berat daripada yang tidak datang sama sekali. Pan Balang Tamak yang merasa paling cerdik justru terjebak oleh rencananya sendiri. Karena ia hadir tetapi tidak bekerja, ia menjadi satu-satunya warga yang akhirnya mendapatkan hukuman paling berat.

Sejak saat itu, Pan Balang Tamak menjadi bahan pelajaran bagi seluruh warga desa. Namanya dikenang sebagai simbol kecerdikan yang disalahgunakan, yang pada akhirnya membawa kerugian bagi diri sendiri. Legenda Pan Balang Tamak mengingatkan masyarakat bahwa kelicikan mungkin dapat menipu orang lain untuk sementara waktu, namun kebenaran dan niat baik selalu menang pada akhirnya.

***

Suka kisah-kisah  dongeng legenda atau cerita rakyat? Setiap legenda menyimpan rahasia.
Setiap halaman membangkitkan jiwa Nusantara.
Miliki buku kisah dongeng penghangat jiwa dan rasakan getaran magis dari tanah para dewa. Dapatkan cerita menggetarkan tentang legenda di berbagai daerah di Indonesia, di sini. (MT-003)

Legenda Kebo Iwa: Raksasa yang Membangun Danau Batur

0

Bangli, Matahari Timur – Alkisah, hiduplah sepasang suami istri yang telah lama mendambakan kehadiran seorang anak. Doa mereka tak pernah putus, hingga pada suatu hari Sang Hyang Widi Wasa mengabulkannya. Mereka dikaruniai seorang putra yang amat mereka sayangi. Sejak kecil, sang anak tumbuh sangat cepat dan memiliki nafsu makan yang luar biasa besarnya—setara dengan sepuluh orang dewasa. Karena kekuatan dan besarnya tubuhnya, ia diberi nama Kebo Iwa, yang berarti “kerbau”.

Seiring bertambahnya usia, tubuh Kebo Iwa makin besar, demikian pula selera makannya. Setiap harinya, ia bisa menghabiskan makanan untuk seratus orang. Orangtuanya kewalahan, dan penduduk desa pun resah. Bila lapar, Kebo Iwa mudah tersulut amarah. Ia bisa merusak rumah penduduk, menumbangkan pohon-pohon, bahkan merusak pura. Warga desa hidup dalam ketakutan setiap kali ia murka.

Suatu saat, musim paceklik melanda daerah itu. Para petani gagal panen dan tak mampu lagi menyediakan makanan bagi Kebo Iwa. Kekhawatiran menyelimuti hati mereka—jika Kebo Iwa marah, seluruh desa bisa hancur. Setelah bermusyawarah, warga pun menyusun sebuah siasat. Mereka akan memanjakannya dengan makanan melimpah, namun bersamaan dengan itu mengumpulkan batu kapur dalam jumlah besar. Setelah persiapan matang, kepala desa menemui Kebo Iwa.

Dengan hati-hati, mereka mengajukan permintaan agar Kebo Iwa membantu menggali sebuah sumur raksasa. Sebagai imbalannya, ia dijanjikan makanan berlimpah. Kebo Iwa yang polos dan mudah gembira segera menyetujuinya. Ia mulai bekerja, menggali tanah dengan kekuatan yang tak tertandingi. Di sisi lain, warga desa perlahan menumpuk batu kapur di dekat lokasi penggalian.

Ketika melihat tumpukan batu kapur, Kebo Iwa sempat heran. Namun warga berkata bahwa batu itu akan dipakai untuk membangunkannya rumah besar yang megah. Mendengar itu, Kebo Iwa semakin bersemangat. Hari demi hari ia menggali, hingga sumur itu berubah menjadi lubang raksasa yang mulai dipenuhi air dari dalam tanah. Atas permintaan kepala desa, ia terus memperlebar dan memperdalam lubang itu.

Setelah bekerja tanpa henti, Kebo Iwa akhirnya kelelahan dan meminta makanan. Warga segera memberinya hidangan melimpah, dan setelah kenyang ia tertidur pulas. Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Kepala desa memberi isyarat, dan seluruh warga serempak menggulingkan batu-batu kapur ke dalam lubang. Air yang memancar dari dalam tanah bercampur dengan debu kapur, menimbulkan uap yang membuat sesak. Kebo Iwa terbangun, namun sudah terlambat. Air deras dan batu kapur menenggelamkannya, hingga ia menghembuskan napas terakhir di dalam lubang ciptaannya sendiri.

Air terus memancar tanpa henti, membanjiri desa dan wilayah sekitarnya. Lubang besar yang digali Kebo Iwa perlahan menjadi danau luas yang kini dikenal sebagai Danau Batur, sementara tumpukan tanah di sekelilingnya menjelma menjadi Gunung Batur. Begitulah kisah tentang Kebo Iwa, sosok perkasa yang tak terkalahkan, namun akhirnya takluk oleh siasat penduduk desa dan takdir sang alam.

Begitulah kisah legenda Kebo Iwa dan cerita terbentuknya Danau Batur yang sekarang menjadi objek wisata kenamaan di Bangli.

***

Suka kisah-kisah  dongeng legenda atau cerita rakyat? Setiap legenda menyimpan rahasia.
Setiap halaman membangkitkan jiwa Nusantara.
Miliki buku kisah dongeng penghangat jiwa dan rasakan getaran magis dari tanah para dewa. Dapatkan cerita menggetarkan tentang legenda di berbagai daerah di Indonesia, di sini. (MT-003)

Legenda Rawa Pening, Kisah Pemuda Jelmaan Naga

0

Semarang, Matahari Timur – Di sebuah lembah subur di kaki Gunung Telomoyo, hiduplah seorang pemuda miskin bernama Baru Klinthing. Ia bukan pemuda biasa, karena lahir dari rahim seorang wanita jelmaan naga bernama Endang Sawitri, dan ayahnya adalah naga sakti bernama Baru Klinting. Sejak kecil, ia dikucilkan oleh penduduk karena wujudnya yang aneh—kulitnya bersisik halus dan lidahnya bercabang. Meski begitu, hati Baru Klinthing penuh kasih dan sabar menghadapi hinaan.

Suatu hari, ia memutuskan untuk berkelana mencari jati diri dan membuktikan siapa sebenarnya dirinya. Ia bersemedi di lereng gunung dan bertapa memohon petunjuk kepada para dewa. Setelah waktu berlalu, tubuhnya berubah menjadi manusia sempurna tanpa sisik. Ia pun merasa waktunya telah tiba untuk kembali ke desa yang dulu menolaknya. Namun, niatnya bukan untuk balas dendam, melainkan untuk menguji hati penduduk.

Baru Klinthing datang ke desa dengan pakaian sederhana, tubuh kurus, dan wajah letih. Ia meminta sedikit makanan kepada warga yang sedang berpesta besar untuk merayakan hasil panen. Namun, tak satu pun dari mereka mau memberinya makan. Mereka malah mengusirnya dengan kasar, menertawakannya, dan menutup pintu rapat-rapat. Hanya seorang nenek tua yang miskin bernama Nyi Latung yang mau memberinya sesuap nasi dan air.

Selesai makan, Baru Klinthing berterima kasih dan berkata pelan, “Nenek, nanti jika kau melihat air meluap dari tanah, cepatlah naik ke bukit bersama lesungmu.” Nyi Latung mengangguk tanpa mengerti maksud kata-kata itu. Baru Klinthing pun berjalan kembali ke tengah desa, lalu menancapkan sebatang lidi ke tanah dan menantang para warga. “Jika kalian benar kuat dan sombong seperti yang kalian tunjukkan, cabutlah lidi ini!”

Penduduk desa tertawa. Mereka mencoba mencabut lidi itu satu per satu, tapi tak seorang pun mampu menggerakkannya. Dengan tenang, Baru Klinthing menarik lidi itu keluar. Seketika, dari lubang tempat lidi itu tertancap, memancar air deras yang tak berhenti mengalir. Air itu makin lama makin tinggi, menenggelamkan seluruh desa. Orang-orang panik berlarian, tapi tak ada yang selamat selain Nyi Latung yang sudah naik ke bukit.

Air terus meluap hingga menutupi seluruh lembah. Di atas bukit, Nyi Latung menyaksikan bagaimana desa yang sombong itu berubah menjadi danau luas dengan air kebiruan yang berkilau di bawah sinar matahari. Dari kejauhan, terdengar suara gaib menyerupai desis naga yang seakan berputar di bawah permukaan air.

Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal sebagai Rawa Pening, yang berarti ‘rawa yang bening’. Masyarakat percaya bahwa di dasar danau itu masih bersemayam arwah Baru Klinthing, sang penjaga air dan penegak keadilan. Legenda ini menjadi pengingat agar manusia tak sombong dan selalu berbagi kepada sesama, karena kesombongan dan keangkuhan bisa menenggelamkan segalanya dalam sekejap.

***

Suka kisah-kisah legenda? Setiap legenda menyimpan rahasia.
Setiap halaman membangkitkan jiwa Nusantara.
Miliki buku kisah Legenda Nusantara dan rasakan getaran magis dari tanah para dewa. Dapatkan cerita menggetarkan tentang legenda di berbagai daerah di Indonesia, di sini.(MT-003)

Legenda Tukad Petanu: Sungai yang Dihantui Kutukan Dewa

0

Gianyar, Matahari Timur – Di jantung Pulau Bali yang penuh pesona, mengalir sebuah sungai yang disebut Tukad Petanu. Sungai ini tampak indah dengan airnya yang jernih berkilauan di bawah cahaya matahari. Namun, di balik keindahannya, tersimpan kisah legenda yang menjadi bagian penting dari sejarah spiritual Bali. Masyarakat setempat percaya bahwa Tukad Petanu menyimpan kutukan kuno yang berasal dari keserakahan dan kesombongan seorang raja pada masa lalu.

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja bernama Mayadenawa, penguasa Kerajaan Bedahulu yang terkenal sakti dan angkuh. Ia memiliki kemampuan luar biasa, bahkan bisa berubah wujud menjadi makhluk apa pun yang diinginkannya. Karena kesaktiannya itu, Mayadenawa merasa tidak membutuhkan dewa, dan melarang rakyatnya menyembah serta mempersembahkan sesajen di pura. Larangan itu membuat para dewa murka, sebab keseimbangan alam terganggu.

Melihat ulah Mayadenawa, Dewa Indra pun turun ke bumi bersama pasukannya untuk menumpas kesombongan sang raja. Pertempuran dahsyat terjadi di lembah dan hutan-hutan Bali. Pasukan Mayadenawa akhirnya kalah, dan ia sendiri melarikan diri ke dalam hutan. Untuk mengelabui para dewa, ia berubah wujud menjadi berbagai makhluk, bahkan menapakkan kakinya miring agar jejaknya sulit dikenali—dari sinilah nama Tampaksiring berasal.

Namun, pelariannya tidak berlangsung lama. Ketika fajar menyingsing, pasukan Dewa Indra berhasil menemukan dan memanah Mayadenawa hingga tewas. Dari darah sang raja yang mengalir ke tanah, terbentuklah sebuah aliran sungai yang kini disebut Tukad Petanu. Konon, darah itu mengutuk sungai tersebut menjadi sumber air yang suci sekaligus angker, karena mengandung jejak murka dan penyesalan.

Sejak saat itu, air di Tukad Petanu diyakini tidak pernah digunakan untuk upacara keagamaan. Masyarakat percaya bahwa siapa pun yang menggunakan air sungai itu untuk melukat atau membersihkan diri secara spiritual, bisa terkena malapetaka atau mengalami kesialan. Bahkan, menurut cerita lama dan legenda yang berkembang, tanah di sekitar sungai itu tidak bisa menghasilkan panen sempurna selama seratus tahun setelah kutukan Mayadenawa.

Meski demikian, Tukad Petanu tetap menjadi simbol keseimbangan antara kekuatan baik dan buruk di alam semesta. Di satu sisi, airnya memantulkan cahaya seperti permata, menandakan kesucian alam Bali; namun di sisi lain, kisah tragis di baliknya mengingatkan manusia agar tidak sombong dan tetap menghormati kekuatan ilahi. Sungai itu kini menjadi saksi bisu hubungan abadi antara manusia, alam, dan para dewa.

Hingga kini, masyarakat sekitar masih menjaga dan menghormati Tukad Petanu. Setiap kali melewati sungai itu, mereka menundukkan kepala sejenak, sebagai bentuk penghormatan kepada roh alam dan arwah Raja Mayadenawa. Legenda Tukad Petanu pun hidup turun-temurun sebagai pengingat bahwa kesombongan akan membawa kehancuran, sedangkan kerendahan hati akan menjaga harmoni antara manusia dan semesta.

***

Suka kisah-kisah legenda? Setiap legenda menyimpan rahasia.
Setiap halaman membangkitkan jiwa Nusantara.
Miliki buku kisah Legenda Nusantara dan rasakan getaran magis dari tanah para dewa. Dapatkan cerita menggetarkan tentang legenda di berbagai daerah di Indonesia, di sini.(MT-003)

Jo Stevens: Australia Bangga Gunakan Aksara Bali di Kantor Konsulat

0

Denpasar, Matahari Timur – Konsul-Jenderal Australia di Bali, Jo Stevens, bersama Gubernur Bali, Dr. Ir. Wayan Koster, meresmikan papan nama baru Konsulat-Jenderal Australia yang kini menggunakan aksara Bali berdampingan dengan aksara Latin.

Konsulat-Jenderal Australia menjadi kantor perwakilan diplomatik pertama di Bali yang menerapkan kebijakan ini. Jo Stevens menyatakan dukungannya terhadap upaya pelestarian budaya lokal yang digagas Gubernur Koster melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang penggunaan aksara Bali pada papan nama instansi pemerintahan.

Meskipun biasanya gedung-gedung diplomatik dikecualikan dari persyaratan tersebut, Konsulat-Jenderal Australia melakukan hal ini sebagai tanda rasa hormat dan
apresiasi yang mendalam terhadap budaya Bali.

Konsul-Jenderal Jo Stevens mengatakan, Bali adalah tempat yang istimewa bagi warga Australia, yang senang berkunjung karena kekayaan warisan dan budayanya.

“Dengan menambahkan aksara Bali pada papan nama gedung kami, kami menunjukkan rasa hormat Australia yang mendalam dan abadi terhadap masyarakat dan budaya Bali,” kata Jo Stevens Senin 10 November 2025.

Dia mengatakan, ini merupakan tanda dukungan secara fisik dan simbolis kepada Gubernur Koster dalam upayanya untuk mempromosikan dan melestarikan budaya Bali.

“Saya sangat senang Gubernur Koster hadir di sini hari ini untuk meresmikan papan nama kami. Australia akan selalu menjadi sahabat dan mitra dekat bagi Bali,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster terima kasih atas dukungan Konsul-Jenderal terhadap kerja keras Pemerintah Bali dalam melestarikan dan memajukan budaya Bali.

“Saya berharap kantor-kantor luar negeri lainnya dapat mencontoh Konsulat-Jenderal Australia,” tegas Koster.

Peresmian ini juga dihadiri oleh Wali Kota Denpasar, Kepala Dinas Pariwisata Bali, dan Dinas Kebudayaan Bali. (MT-003)

Odisha–Bali Pererat Ikatan Maritim dan Budaya Melalui Kunjungan Ida Rsi Putra Manuaba

0

Bhubaneswar, Matahari Timur — Tokoh Gandhian asal Bali, Indonesia, Padma Shri Ida Rsi Putra Manuaba (Agus Indra Udayana), melakukan kunjungan kehormatan kepada Yang Mulia Gubernur Odisha di Raj Bhavan, Bhubaneswar, pada Kamis (6/11) siang.

Pertemuan berlangsung hangat dan penuh makna, membahas upaya mempererat hubungan budaya dan spiritual antara Odisha dan Bali, dua wilayah yang memiliki ikatan sejarah panjang sejak masa kejayaan maritim kuno Kalinga.

Dalam kesempatan tersebut, Ida Rsi Putra Manuaba menyampaikan kekagumannya terhadap warisan budaya dan nilai-nilai spiritual Odisha, yang menurutnya memiliki kedekatan mendalam dengan tradisi dan filosofi kehidupan masyarakat Bali. Ia juga menegaskan pentingnya menghidupkan kembali hubungan budaya dan kemanusiaan yang telah lama menyatukan kedua daerah.

Yang Mulia Gubernur Odisha, yang dikenal sebagai pendukung ajaran Mahatma Gandhi dan penggerak dialog lintas budaya, menyambut kunjungan tersebut dengan penuh antusias. Gubernur menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Ida Rsi Putra Manuaba dalam menyebarkan pesan perdamaian dan ajaran Mahatma Gandhi di Indonesia melalui kegiatan sosial dan spiritual di berbagai ashram yang dipimpinnya.

Kedua tokoh sepakat memperkuat kerja sama di bidang kebudayaan, pendidikan, dan pertukaran ilmiah, dengan menekankan pentingnya hubungan antarmasyarakat (people-to-people connection). Salah satu hasil konkret dari pertemuan ini adalah munculnya gagasan membentuk Program Pertukaran Cendekiawan dan Budaya (Scholar and Cultural Exchange Programme) antara Odisha dan Indonesia. Program ini diharapkan dapat mempererat pemahaman antarbangsa sekaligus menghidupkan kembali semangat maritim dan nilai-nilai perdamaian yang pernah menghubungkan Kalinga dan Bali.

Usai pertemuan di Raj Bhavan, delegasi melanjutkan audiensi dengan Sekretaris Utama Pemerintah Odisha, Ibu Rupa Roshan Sahu, IAS, yang menyatakan komitmen penuh untuk menindaklanjuti hasil pembicaraan tersebut. Dalam pertemuan itu, juga disepakati rencana pendirian “Kursi Indonesia” (Indonesian Chair) di Ramadevi Women’s University sebagai simbol persahabatan akademik antara kedua wilayah.

Kunjungan bersejarah ini menjadi tonggak penting dalam memperkokoh hubungan budaya, akademik, dan spiritual antara Indonesia dan India, khususnya antara Bali dan Odisha.

Dalam pernyataannya, Ida Rsi Putra Manuaba menegaskan makna kunjungan ini sebagai jembatan kemanusiaan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan:

“Selama lebih dari sepuluh tahun saya hidup di Odisha, saya menyaksikan betapa kuatnya nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas di sini. Melalui kerja sama pendidikan dan kebudayaan, kita dapat membangun kembali jembatan masa lalu menjadi lembaran indah masa kini — demi persaudaraan dan kemajuan bersama.” (MT-003)

Rusak Puluhan Tahun, Jalan Penghubung Desa Lokapaksa – Desa Ularan Akhirnya Diperbaiki

0

Buleleng, Matahari Timur – Setelah puluhan tahun rusak parah, jalan penghubung strategis antara Dusun Sorga, Desa Lokapaksa, dan Desa Ularan di Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali akhirnya mengalami peningkatan signifikan. Pengerjaan jalan sepanjang 1,26 kilometer ini telah mencapai 99 persen.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, Wakil Bupati (Wabup) Gede Supriatna dan Sekretaris Daerah (Sekda) Gede Suyasa beserta jajaran berkesempatan meninjau hasil peningkatan jalan tersebut saat kunjungan kerja Bupati dan Wakil Bupati Buleleng, Kamis (6/11/2025). Dirinya mengakui bahwa kerusakan jalan ini telah berlangsung sangat lama. “Dari 15 tahun yang lalu atau bahkan lebih ya mungkin sudah 20 atau 30 tahun lalu, dari pengakuan warga sudah tidak pernah mendapatkan perawatan, sudah hancur sekali,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa jalan ini menjadi prioritas utama penanganan Pemkab Buleleng mengingat tingkat kerusakan dan medannya yang ekstrem. Dengan kondisi yang ada, jalan ini kerap memicu kecelakaan. Warga juga mengeluh karena hasil-hasil pertanian tidak bisa maksimal diangkut secara maksimal. “Ini menjadi masalahnya. Jadi kami anggarkan Rp2 miliar lebih untuk tahap pertama peningkatan yang difokuskan pada pengerasan badan jalan dengan hotmix,” kata Sutjidra.

Perbekel (Kepala Desa) Desa Lokapaksa Putu Dodik Tryana mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan perbaikan ini terletak pada kolaborasi yang solid antara dua desa. Menghadapi kendala administrasi karena jalan berada di dua wilayah, Pemerintah Desa Lokapaksa dan Ularan bersinergi membuat perjanjian kerjasama dan mengajukan proposal bersama ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng. “Kebetulan kita dua desa sangat bagus komunikasinya. Berdasarkan itu kita buat perjanjian kerjasama desa, mengajukan proposal, dan akhirnya astungkara terwujud pengaspalan,” ceritanya. Ia menambahkan bahwa manfaat jalan ini jauh melampaui dua desa, kini juga dinikmati oleh warga dari Desa Unggahan, Sepang, dan bahkan Pangkungparuk.

Bagi warga, perbaikan jalan ini adalah jawaban atas doa dan perjuangan puluhan tahun. Seorang warga Lokapaksa, Putu Rastika atau akrab disapa Raras (34), menyatakan bahwa dalam hidupnya, baru sekarang jalan itu diperbaiki secara permanen. “Saya dari 34 tahun sampai sekarang ini barulah terealisasi. Mungkin jalannya dibuat kurang lebih sudah 50 tahunan, nol-nol sama sekali tidak ada pengerasan,” sebutnya. Ia mengingat betapa sulitnya kondisi jalan sebelumnya, di mana jalan kaki pun berisiko terpeleset, anak-anak kesulitan ke sekolah, dan akses untuk ibu melahirkan atau mengangkut hasil bumi sangat terhambat. Terutama di musim hujan dimana jalan berubah menjadi kubangan lumpur.

Meski pengerjaan drainase masih dilakukan secara bertahap dengan koordinasi kontraktor dan tokoh masyarakat setempat untuk mengalirkan air ke titik-titik tertentu. Peningkatan jalan ini tidak hanya sekadar perbaikan fisik, tetapi juga pemulihan akses ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan bagi masyarakat.

Selain meninjau peningkatan jalan, Bupati Sutjidra dan rombongan juga meninjau perkembangan revitalisasi gedung SD Negeri 1 Bubunan. Bupati Sutjidra menyoroti pembangunan UKS di sekolah setempat yang masih memakai tanah Desa Adat. Jika tanah tersebut diserahkan kepada sekolah, harus ada berita acara penyerahan dari Desa Adat ke sekolah. “Ya walaupun sekarang masih pinjam pakai, nanti selanjutnya bisa dihibahkan. Ini untuk menghindari konflik di kemudian hari,” tutup Sutjidra. (MT-003)

PKK Bali Galakkan Koperasi Desa sebagai Gerakan Ekonomi Keluarga Berdaya

0

Denpasar, Matahari Timur – Sekretaris I Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, mendorong para kader PKK di Kota Denpasar untuk membentuk koperasi desa sebagai upaya meningkatkan perekonomian keluarga. Hal itu disampaikan saat menghadiri kegiatan Aksi Sosial TP PKK Provinsi Bali ‘Menyapa dan Berbagi’ di Wantilan Pura Candi Narmada, Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Selasa (4/11).

Dalam kegiatan tersebut, Ny. Seniasih turut berbaur bersama kader PKK Kota Denpasar yang tengah melakukan demo memasak. Beragam hasil olahan tangan para kader mendapat apresiasi karena cita rasanya yang gurih dan beragam.

“Hasil masakan ini sangat gurih dan layak dikonsumsi. Olahan ikan juga penting bagi perkembangan otak anak-anak di masa pertumbuhan. Karena itu, para kader perlu membentuk koperasi desa untuk menampung dan memasarkan produk olahan mereka, sehingga hasil penjualannya dapat menggerakkan perekonomian keluarga,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan kehidupan masyarakat ke depan semakin kompleks sehingga diperlukan sinergi antara TP PKK, pemerintah, dan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas, kualitas layanan, serta pemberdayaan masyarakat.

“Dengan sinergi yang baik, masyarakat bisa mendapatkan akses pelayanan yang lebih dekat, cepat, dan sesuai kebutuhan. Saya mengajak seluruh kader PKK agar melaksanakan tugas dan fungsi dengan semangat, antusias, serta mengikuti alur organisasi secara baik,” tegasnya.

Menurutnya, untuk menyukseskan program Tim Penggerak PKK, para kader juga harus mampu berkolaborasi dengan masyarakat serta menjadi ujung tombak pelaksanaan program-program prioritas pemerintah, baik pusat maupun daerah.

“Selain melaksanakan program yang sudah ditetapkan, kita juga wajib memiliki kepedulian terhadap peristiwa di sekitar kita. Mari tumbuhkan semangat gotong royong dan rasa peduli terhadap keluarga serta masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan uluran tangan. Jangan sampai ada warga yang terabaikan dari perhatian,” pesannya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, menyampaikan terima kasih atas perhatian TP PKK Provinsi Bali yang melibatkan kader Denpasar dalam kegiatan sosial tersebut.

“Aksi nyata ini merupakan wujud kepedulian terhadap warga yang membutuhkan perhatian, terutama anak-anak penyandang disabilitas. Selain itu, terdapat satu orang ibu hamil dengan risiko tinggi berusia 44 tahun yang juga menerima bantuan,” ujarnya.

Dalam kegiatan itu, diserahkan 50 paket bantuan kepada masyarakat, terdiri atas 10 kader TP PKK, 10 lansia, 10 balita, 10 ibu hamil, dan 10 penyandang disabilitas. (MT-003)