23.7 C
Bali
29 Juli 2026
Beranda blog Halaman 6

Kisah Perempuan Berbaju Putih di Jalur Senaru-Rinjani

0

Kabut turun perlahan di jalur Senaru, menelan pepohonan dan jejak-jejak pendaki di belakangnya. Langit yang tadinya jernih berubah kelabu, seakan gunung sedang menutup diri. Raka berjalan paling depan, diikuti tiga temannya—Dimas, Rere, dan Naya—namun langkah mereka mulai ragu. Kompas di tangan Raka kembali menunjuk arah berbeda dari jalur peta. Jarumnya berputar tidak menentu, seolah kehilangan utara.

“Mending kita berhenti dulu,” ujar Dimas, terdengar gelisah.

Namun Raka menggeleng. “Kita nggak jauh dari pos. Tinggal sedikit lagi.”

Kabut semakin pekat. Daerah itu tiba-tiba senyap, tak terdengar lagi suara burung, dedaunan, atau bahkan hembusan angin. Hening yang tidak wajar. Rere merapatkan jaket, tengkuknya terasa dingin seperti disentuh sesuatu yang tidak terlihat.

Lalu, dari balik kabut, muncul seseorang.

Sosok perempuan muda berpakaian putih, rambutnya panjang sampai pinggang, tidak tersentuh angin. Dia hanya berdiri, menatap Raka tanpa ekspresi. Perlahan, tangannya terangkat, menunjuk ke arah kiri—ke sebuah jalur setapak kecil nyaris tertutup semak.

“Lihat… ada orang,” bisik Naya, suara tercekat.

Raka, entah kenapa, merasa harus mengikuti arah itu. “Mungkin itu jalan pintas ke pos. Dia pasti pendaki juga,” katanya, meski suaranya tak sepenuhnya yakin.

Mereka mengikuti jalur yang ditunjuk, tapi semakin jauh melangkah, pohon-pohon berubah semakin rapat, dan kabut makin dingin—serasa menyusup ke tulang. Tak ada rambu, tak ada jejak kaki lain. Mereka mulai sadar… jalur itu bukan jalur pendakian resmi.

Tiba-tiba Rere berhenti.

“Rak… aku tadi lihat dia lagi,” katanya pelan. “Bukan di belakang, tapi di depan. Dia cuma diam… nunggu.”

Raka menelan ludah. “Kamu lihat jelas?”

Rere mengangguk. “Dan kakinya… nggak nginjek tanah.”

Dan saat mereka menoleh ke belakang, jalur yang tadi mereka lewati sudah hilang dalam kabut. Seolah mereka tidak pernah berjalan di sana.

Dimas mulai panik. “Ini salah. Kita harus balik!”

Tapi sebelum mereka bergerak, terdengar suara perempuan lirih—bukan dari depan, bukan dari belakang, tetapi dari segala arah kabut:
“Jangan sombong… jangan angkuh… Rinjani bukan tempat untuk menantang.”

Suara itu menggema, seperti bisikan yang masuk langsung ke dalam kepala.

Raka terpaku. Ia teringat ucapan juru kunci basecamp tadi pagi, yang ia anggap sekadar lelucon:
“Kalau lupa izin sama Dewi Anjani, perjalananmu bakal diatur… bukan oleh manusia.”

Sosok putih itu kembali muncul, lebih dekat, wajahnya kini terlihat jelas—cantik, tapi matanya kosong seperti danau yang tak berpenghuni. Ia kembali menunjuk arah lain. Bukan jalur yang lebih dalam, tetapi jalur keluar.

Tanpa berpikir, mereka berlari mengikuti arah itu. Kabut mulai menipis, suara alam kembali terdengar, dan tidak lama kemudian papan bertuliskan POS II Senaru muncul di depan mata mereka—seolah menyelamatkan mereka di detik terakhir.

Mereka berhenti terengah, saling memandang tanpa kata.

Raka menoleh ke belakang, ke arah jalur yang baru saja mereka tinggalkan.

Sosok putih itu masih berdiri di sana… tapi kali ini tersenyum. Senyum yang bukan ramah, melainkan seolah berkata: Aku membiarkan kalian pergi. Untuk sekarang.

Dan ketika kabut menutup sosok itu sepenuhnya, Raka akhirnya sadar—bukan dia yang menemukan jalan keluar.

Mereka diantar pulang.

Karena Rinjani hanya mengizinkan pendaki yang tahu diri.

Berikut referensi beberapa barang yang wajib dibawa saat mendaki Gunung Rinjani:

  1. Tenda yang aman dan nyaman, bisa kamu dapatkan di sini 
  2. Raincoat agar aman dari hujan yang suka tiba-tiba datang.
  3. Ransel yang tangguh untuk mendaki.
  4. Jaket gunung biar tidak dicekam dingin menggigil.
  5. Pisau lipat biar bisa memotong vegetasi yang bisa dipakai campuran mie.
  6. Topi gunung biar kepala tidak kepusingan kena embun.
  7. Sandal dan sepatu gunung yang keren tapi berkualitas, agar kaki tidak lecet. (MT-003)

Bali–Bulgaria Satukan Rasa: Diplomasi Kopi Arak Jadi Jalan Baru Kerja Sama Global

0

Denpasar, Matahari Timur – Suasana di ruang tamu Jayasabha, kediaman resmi Gubernur Bali, tampak berbeda pada Jumat (31/10/2025) sore. Aroma kopi Bali tanpa gula yang disajikan berdampingan dengan arak tradisional menyambut kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri Bulgaria, Nikolay Pavlov, bersama Duta Besar Bulgaria untuk Indonesia, Tanya Dimitrova.

Kedatangan delegasi Bulgaria ini diterima langsung oleh Gubernur Bali dan menjadi momentum penguatan hubungan budaya dan kerja sama antar kedua wilayah. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan nonformal, menandai langkah diplomasi yang tidak hanya bersifat protokoler, tetapi juga membuka ruang kolaborasi berbasis budaya dan kearifan lokal.

Kunjungan ini disebut sebagai awal dari upaya mempererat hubungan Bali dan Bulgaria, termasuk dalam bidang seni, pariwisata, dan pertukaran kebudayaan.

Audiensi yang dihadiri langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster itu turut dihadiri Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat I Made Dwi Arbani serta Kepala Biro Humas dan Protokol IB. Surja Manuaba. Di ruangan yang hangat namun berwibawa itu, dua bangsa dengan sejarah dan budaya panjang saling bertukar pandangan, ide, dan harapan.

Wakil Menteri Pavlov membuka pembicaraan dengan menyampaikan bahwa pada tahun depan, Indonesia dan Bulgaria akan merayakan 70 tahun hubungan diplomatik. Kunjungannya ke Bali, ujarnya, bukan sekadar pertemuan formal, melainkan juga simbol penghormatan terhadap peran penting Bali dalam citra Indonesia di mata dunia. “Kami ingin menjalin hubungan yang lebih erat dengan Bali — di bidang perdagangan, pariwisata, pendidikan, pertanian, hingga pertukaran teknologi,” ujarnya penuh antusias.

Ia juga menuturkan apresiasi terhadap tenaga kerja asal Indonesia, khususnya dari Bali, yang dinilai memiliki kualitas kerja dan kepribadian yang sangat baik. Sebagai tindak lanjut, Pavlov mengumumkan rencana kunjungan delegasi sekitar 25 wali kota dari berbagai kota di Bulgaria pada Desember mendatang, untuk menjajaki peluang kerja sama “sister city” antara pemerintah daerah di Bulgaria dan Bali.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Wayan Koster menyambut baik inisiatif tersebut dengan semangat kolaboratif. “Kami siap membuka ruang komunikasi dan kerja sama yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat, baik dalam bidang kebudayaan, pendidikan, maupun ekonomi kreatif,” ujarnya.

Suasana pertemuan kemudian mencair dalam keakraban. Di sela percakapan serius, Gubernur Koster mengajak Wakil Menteri Pavlov dan Dubes Dimitrova bersulang dengan arak Bali yang dicampur kopi Bali tanpa gula — sebuah tradisi lokal yang sederhana namun sarat makna. Tawa ringan dan tepukan tangan kecil mengiringi momen itu, menjadikan diplomasi antarnegara terasa begitu manusiawi dan bersahabat.

Dalam pembicaraan yang berlanjut, Pavlov juga menyampaikan ketertarikan untuk mengembangkan pertukaran budaya, termasuk kemungkinan mengundang seniman Bali tampil di Festival Kesenian di Bulgaria, serta menghadirkan kelompok seni Bulgaria ke Bali. Duta Besar Dimitrova menambahkan bahwa sebelumnya seniman Bulgaria pernah tampil di Klungkung dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Gubernur Koster menanggapi dengan antusias dan mengundang pihak Bulgaria untuk berpartisipasi dalam Pesta Kesenian Bali (PKB), yang setiap tahun menjadi ajang promosi dan pelestarian budaya Bali. “Melalui seni, kita membangun jembatan hati dan rasa antarbangsa,” ucapnya.

Selain seni dan budaya, kedua pihak juga menyinggung peluang pertukaran pelajar dan kerja sama antaruniversitas, guna memperluas wawasan generasi muda dan mempererat hubungan antarbangsa melalui jalur pendidikan.

Sebagai penutup yang penuh makna, Gubernur Koster menyerahkan cinderamata berupa kain endek khas Bali kepada Wakil Menteri Pavlov simbol keindahan tradisi dan kreativitas rakyat Bali, serta bentuk dukungan nyata terhadap UMKM lokal.

Pertemuan yang diwarnai dengan senyum, budaya, dan secangkir kopi arak menjadi bukti bahwa diplomasi tidak selalu kaku dan formal. Kadang, jalinan antarnegara bisa tumbuh hangat dari segelas kopi arak, selembar kain, dan niat tulus untuk saling memahami.

Note: 

Rekomendasi obat herbal diatebes yang berkualitas

1. Pola Hidup yang beraneka ragam, rawan memicu diabetes. Yuk, mari cegah diabetes pakai obat herbal yang bisa didapatkan di: https://s.shopee.co.id/4VTcmKhWAr
2. Ingin gula darah normal kembali? Atasi saya memakai yang tinggi pakai teh herbal yang bisa diperoleh di sini.

 

3. Mau mengatasi diabetes menggunakan obat tradisional yang ampuh? Ini dia pilihannya bisa didapatkan di: https://s.shopee.co.id/10tkcELTnv

4. Terlanjur luka karena diabetes? Jangan khawatir, nih ada kapsul pengering luka ekstrak ikan gabus, yuk gercepin di https://s.shopee.co.id/50PtNkFtQQ
5. Pasien diabetes memang mestinya mengurangi konsumsi gula, tapi ada sih produk aman, yakni madu untuk atasi diabetes. Madu untuk diabetes bisa dicoba ya, biar tidak was-was lagi konsumsi yang manis-manis. Buruan dapatkan di: https://s.shopee.co.id/4AqmOaZlD

(MT-003)

Dari Polemik ke Perdamaian: BAST Akses Jalan GWK Akhirnya Disepakati

0

Badung, Matahari Timur – Pemerintah Kabupaten Badung dan Manajemen Garuda Wisnu Kencana (GWK) menandatangani Berita Acara Serah Terima (BAST) pinjam pakai lahan untuk akses jalan warga Banjar Giri Dharma, Desa Ungasan, yang sebelumnya sempat menimbulkan polemik antarwarga.

Penandatanganan BAST dilaksanakan di Gedung Jayasabha, Jumat (31/10) oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Kuasa Direksi PT Garuda Adhimatra Indonesia Erwyanto Tedjakusuma dan diketahui Gubernur Bali Wayan Koster. Penandatanganan BAST juga disaksikan Komisaris Utama PT Garuda Adhimatra Indonesia, Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma.

Solusi terbaik yang ditawarkan Gubernur Koster beberapa waktu lalu untuk menengahi polemik akses jalan akhirnya mengembalikan situasi normal di banjar setempat.

Gubernur Koster berharap penandatanganan BAST pinjam pakai lahan ini mengakhiri polemik antara warga dengan pihak manajemen GWK.

“Kita harapkan situasi kembali normal,” ujar Gubernur Koster saat berbincang dengan Bupati Adi Arnawa dan jajaran manajemen GWK yang hadir di Jayasabha.

Untuk diketahui, dalam BAST disebutkan bahwa PT Garuda Adhimatra Indonesia sebagai Pihak Pertama meminjampakaikan lahan berbentuk badan jalan kepada Pemkab Badung sebagai Pihak Kedua. Dalam BAST juga disebutkan bahwa lahan dengan lebar +4 meter dan panjang +450 meter dimiliki dan dikuasai oleh pihak pertama.

Pemkab Badung sebagai pihak kedua hanya diperkenankan untuk menggunakan lahan dimaksud untuk kepentingan akses lalu lintas masyarakat Banjar Giri Dharma Desa Ungasan.

Note: 

Rekomendasi obat herbal diatebes yang berkualitas

1. Pola Hidup yang beraneka ragam, rawan memicu diabetes. Yuk, mari cegah diabetes pakai obat herbal yang bisa didapatkan di: https://s.shopee.co.id/4VTcmKhWAr
2. Ingin gula darah normal kembali? Atasi saya memakai yang tinggi pakai teh herbal yang bisa diperoleh di sini.

 

3. Mau mengatasi diabetes menggunakan obat tradisional yang ampuh? Ini dia pilihannya bisa didapatkan di: https://s.shopee.co.id/10tkcELTnv

4. Terlanjur luka karena diabetes? Jangan khawatir, nih ada kapsul pengering luka ekstrak ikan gabus, yuk gercepin di https://s.shopee.co.id/50PtNkFtQQ
5. Pasien diabetes memang mestinya mengurangi konsumsi gula, tapi ada sih produk aman, yakni madu untuk atasi diabetes. Madu untuk diabetes bisa dicoba ya, biar tidak was-was lagi konsumsi yang manis-manis. Buruan dapatkan di: https://s.shopee.co.id/4AqmOaZlD

(MT-003)

Bupati Sutjidra Apresiasi TJSL Lampu Panel Surya dari PT GEB

0

Buleleng, Matahari Timur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengapresiasi tanggung jawab sosial dari PT General Energi Bali (GEB) yang diwujudkan dalam bantuan lampu penerangan jalan senilai satu miliar rupiah.

Perusahaan General Energi Bali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Buleleng dengan menyerahkan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa 30 titik lampu panel surya senilai sekitar Rp 1 miliar. Lampu-lampu tersebut dipasang di sepanjang jalan dari Tukad Sumaga sampai Celukan Bawang.

Bupati I Nyoman Sutjidra mengapresiasi langkah positif yang diambil oleh PT. General Energi Bali dan berharap perusahaan-perusahaan lain dapat mengikuti contoh ini. “Kegiatan seperti ini sangat positif sekali, artinya perusahaan-perusahaan yang berinvestasi itu tanggung jawab sosialnya ada,” ujarnya.

Bupati Sutjidra juga menekankan bahwa perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di Buleleng harus memenuhi tanggung jawab sosialnya. “Kedepan, kegiatan-kegiatan seperti ini harus wajib dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah berinvestasi di Buleleng,” katanya.

Selain General Energi Bali, beberapa perusahaan lain juga telah memberikan kontribusi TJSL untuk mendukung pembangunan di Buleleng. Bupati Sutjidra berharap bahwa kontribusi-kontribusi seperti ini dapat terus meningkat dan membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Bupati I Nyoman Sutjidra menyampaikan Buleleng sangat terbuka bagi investor untuk berinvestasi di Buleleng. Ia menekankan Pemerintah Kabupaten Buleleng akan memberikan sejumlah kemudahan bagi investor. “Kami Pemerintah Kabupaten sangat welcome dan siap untuk menyelesaikan masalah perizinan dan sebagainya. Intinya kalau investasinya jelas pasti kami respon lah,” ujar Sutjidra. (MT-001)

Kisah Mistis Penunggu Pos 3 Gunung Arjuno: Jangan Tatap Matanya

0

Malang, Matahari Timur – Malam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya di lereng Gunung Arjuno. Aku dan tiga temanBagas, Reno, dan Dindamemutuskan berhenti di sebuah tanah datar tak jauh dari jalur Pos 3. Angin berhembus pelan, tapi membawa aroma anehseperti dupa yang baru saja padam.

Siapa yang bakar dupa?” tanya Bagas setengah bercanda.

Tak ada yang menjawab. Kami tidak membawa dupa, bahkan api unggun belum kami nyalakan.

Saat kabut makin tebal, suara langkah kaki terdengar di sekitar tenda. Pelan, tapi ritmis, seperti seseorang berjalan mengitari kami. Reno keluar lebih dulu dengan senter. “Siapa di luar?” teriaknya. Hening. Tak ada jawabanhanya suara dedaunan bergesekan.

Namun, dari cahaya senter, aku melihatnya. Di antara kabut, berdiri sosok tinggi kurus, mengenakan pakaian seperti prajurit zaman Majapahit. Wajahnya tertutup bayangan, tapi matanya menyala redup, merah seperti bara api.

Jangan bicara,” bisik Dinda pelan sambil menunduk. Jangan tatap matanya.

Entah dari mana ia tahu, tapi kami semua menuruti.

Sosok itu berjalan pelan melewati tenda kami, lalu berhenti di depan patok kecil yang tertancap di tanah. Ia menunduk lama—seolah berdoa. Lalu menghilang begitu saja, lenyap ditelan kabut tanpa suara langkah pergi.

Keesokan paginya, ketika matahari muncul dari balik Gunung Welirang, kami memeriksa tempat sosok itu berdiri semalam.

Di sana ada batu nisan kecil berlumut, dengan tulisan hampir hilang:Prajurit Jaga Arjuno, 1471 M.

Situs Peninggalan Majapahit

Gunung Arjuno terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Secara geografis, gunung ini berada di antara Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Mojokerto.

Gunung Arjuno (sering juga disebut Arjuna) memiliki ketinggian sekitar 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Gunung Semeru.

Gunung ini berdampingan dengan Gunung Welirang, dan keduanya termasuk dalam kompleks pegunungan ArjunoWelirang, yang masih aktif secara vulkanik.

Selain keindahan alamnya, Arjuno juga dikenal sarat dengan mitos, situs-situs peninggalan Majapahit, serta dipercaya sebagai tempat spiritual yang dijaga makhluk gaib dan para leluhur.

Berikut referensi beberapa barang yang wajib dibawa saat mendaki Gunung Arjuno:

  1. Tenda yang aman dan nyaman, bisa kamu dapatkan di sini 
  2. Raincoat agar aman dari hujan yang suka tiba-tiba datang.
  3. Ransel yang tangguh untuk mendaki.
  4. Jaket gunung biar tidak dicekam dingin menggigil.
  5. Pisau lipat biar bisa memotong vegetasi yang bisa dipakai campuran mie.
  6. Topi gunung biar kepala tidak kepusingan kena embun.
  7. Sandal dan sepatu gunung yang keren tapi berkualitas, agar kaki tidak lecet.

Kisah Fiksi by Nyoman Area

Misteri Ular Hitam Putih Penjaga Pura Tengah Laut Tanah Lot

0

Tabanan, Matahari Timur – Di pesisir barat Pulau Bali, ombak Samudra Hindia menghantam karang hitam yang menjulang di tengah laut. Di atas karang itu berdiri megah Pura Tanah Lot, pura laut yang menjadi salah satu penjaga spiritual Bali. Namun di balik keindahannya, tersimpan kisah kuno tentang ular suci yang menjaga kesucian pura ini sejak ratusan tahun lalu.

Konon, pada abad ke-15, seorang pendeta suci bernama Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan spiritual menyebarkan ajaran dharma di Bali. Dalam perjalanannya ke barat, beliau tiba di sebuah pantai yang sangat indah. Di sana, beliau merasakan getaran energi yang luar biasa kuat tempat itu dianggap cocok untuk pemujaan dewa laut, Dewa Baruna.

Namun, kedatangannya tidak disukai oleh Bendesa setempat yang khawatir kehilangan pengaruh. Bendesa datang bersama pengikutnya untuk mengusir sang pendeta. Dang Hyang Nirartha lalu menunjukkan kesaktiannya: dengan tongkat sucinya, ia memindahkan sebongkah batu besar dari daratan ke tengah laut. Di atas batu itulah beliau duduk bersamadi. Batu itu kemudian dikenal sebagai Tanah Lot, yang berarti tanah di tengah laut.

Ular dari Selendang Suci

Sebelum meninggalkan tempat itu, Dang Hyang Nirartha melepas selendang sucinya (kain poleng) dan meletakkannya di pinggir karang. Dengan mantra dan doa, selendang itu berubah menjadi ular besar berwarna hitam dan belang putih.

Ular itu diberi tugas menjaga Tanah Lot dari gangguan roh jahat dan orang-orang yang berniat buruk terhadap pura.

Masyarakat percaya bahwa hingga kini, keturunan ular suci itu masih hidup di celah-celah batu karang di bawah pura. Mereka dikenal sebagai ular laut penjaga Tanah Lot berwarna belang hitam-putih, berukuran besar, namun tidak pernah menyerang siapa pun kecuali mereka yang berniat jahat.

Menurut penduduk sekitar, setiap purnama tilem (bulan mati), ombak di sekitar Tanah Lot menjadi lebih bergemuruh, dan ular penjaga kerap muncul sekilas di antara buih laut. Para pemangku pura akan membawa sesajen dan menabur bunga ke arah laut sebagai bentuk penghormatan kepada sang penjaga.

Orang-orang tua di Desa Beraban sering berkata: “Selama ular itu tetap di sana, Tanah Lot akan aman. Bila ia pergi, laut akan murka.”

Secara ilmiah, ular laut di Tanah Lot memang benar ada spesies ular laut belang hitam putih (Laticauda colubrina) yang hidup di gua bawah karang. Namun bagi masyarakat Bali, mereka bukan sekadar hewan, melainkan perwujudan energi penjaga suci warisan Dang Hyang Nirartha.

Hingga kini, para pemangku dan pemandu wisata masih menjaga kisah ini dengan hormat. Mereka percaya, selama manusia tetap menjaga kesucian dan keseimbangan alam di Tanah Lot, ular suci itu akan terus melindungi pulau Bali dari marabahaya yang datang dari lautan.

Referensi barang yang perlu dibawa pengunjung jika ingin berwisata atau sembahyang di Pura Tanah Lot:

  1. Dupa untuk sembahyang
  2. Payung agar terhindar dari panas menyengat
  3. Sandal santai untuk menikmati jalan-jalan di pantai
  4. Tas kasual yang nyaman di bahu
  5. Tumbler minuman agar tidak dehidrasi. (MT-003)

BAMFES 2025: Ibu Putri Koster Dorong UMKM dan IKM Bali Tembus Pasar Lebih Luas

0

Badung, Matahari Timur Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, mendorong para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Industri Kecil Menengah (IKM) di Bali agar terus mengembangkan jiwa kewirausahaan dan berdaya saing tinggi. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Bali Fashion Market Festival (BAMFES) di Swiss-Belresort Pecatu, Minggu (26/10) malam.

Dalam sambutannya, Ibu Putri Koster menegaskan bahwa masyarakat Bali memiliki bakat luar biasa dalam menciptakan karya seni dan kerajinan, namun masih menghadapi tantangan dalam memasarkan produk-produk tersebut secara luas.

“Karena itu, harus ditingkatkan jiwa entrepreneurship-nya,” ujar Ibu Putri Koster.

Ia berharap para pelaku UMKM dan IKM di Bali dapat terus berkembang dan mampu membuka outlet secara mandiri di berbagai lokasi strategis, termasuk hotel dan pusat wisata, sehingga tidak hanya bergantung pada pameran yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Lebih lanjut, Ibu Putri Koster juga mengajak para seniman dan perajin Bali untuk memanfaatkan IKM Bali Bangkit, wadah yang dibentuk Dekranasda Provinsi Bali sebagai sarana promosi, kurasi, sekaligus pembinaan berkelanjutan bagi UMKM dan IKM hingga tahun 2030 mendatang.

“UMKM dan IKM jangan takut. Sampaikan kepada kami jika ingin mengikuti pameran di Bali Bangkit. Tapi syaratnya harus continue dan konsisten. Kami tentu akan melakukan kurasi secara ketat supaya ke depannya ada peningkatan, baik dari sumber daya maupun kualitas kerajinannya,” jelasnya.

Selain menekankan pentingnya konsistensi, Ibu Putri Koster juga mendorong para seniman Bali agar terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman dan tren global tanpa meninggalkan jati diri budaya lokal.

Jangan menutup diri dari dunia luar. Tapi kita juga harus menjaga kelestarian karya-karya kerajinan Bali khususnya, dan Nusantara pada umumnya. Itu tugas kita sebagai anak bangsa,” tegasnya.

Ketua Dekranasda Provinsi Bali tersebut juga menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Bali Fashion Market Festival (BAMFES) yang dinilainya menjadi ajang penting dalam mempertemukan para pelaku UMKM dan IKM Bali dengan para konsumen serta buyer potensial. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan kemandirian pelaku usaha lokal. (MT-001)

Kisah Nyata, Jeritan Misterius di Jalur Pendakian Gunung Agung

0

Rendang, Matahari Timur – Udara malam di kaki Gunung Agung terasa dingin dan lembap. Ari Tanang mengencangkan tali ranselnya, melirik tiga temannya Kadek Dian, Weda, dan Lesti — yang berdiri di bawah gapura Pura Besakih. Angin bertiup pelan, membawa aroma dupa yang samar dari arah pura.

Udah siap?” tanya Weda. Ari hanya mengangguk. Mereka memulai pendakian tanpa banyak bicara.

Di gunung ini, ada satu aturan tak tertulis: jangan bawa olahan daging sapi, dan jangan pakai emas. Bukan sekadar larangan adattapi peringatan dari para penjaga gunung yang tak terlihat. Yang melanggar, katanya, nggak bakal pulang dalam wujud yang sama.

Awalnya semua terasa normal. Hujan turun rintik-rintik, udara segar, jalur licin tapi aman. Sampai Ari turun sebentar ke basecamp untuk ambil logistik yang tertinggal.

Saat kembali ke jalur, langkahnya terhenti.

Di bawah pohon besar, tiga orang berpakaian adat Bali sedang sembahyang. Satu pria, dua perempuan. Wajah mereka teduhtapi mata mereka kosong, seperti menatap sesuatu jauh di balik kabut.

Ari hanya sempat berkata lirih, “Permisi.” Tak ada jawaban. Hanya angin yang berputar pelan di sekitar dupa yang menyala.

Beberapa menit kemudian, saat Ari menyusul timnya ke atas, jantungnya nyaris berhenti.Di Pos 2, dia melihat tiga orang yang sama. Dengan posisi, pakaian, dan dupa yang sama. Padahal jarak dari tempat tadi ke Pos 2 butuh hampir satu jam jalan kaki. Yang lebih anehtanah di sekitar mereka kering total, padahal hujan baru reda.

Aroma bunga kamboja menempel di udara, menyengat.

Menjelang malam, mereka sampai di Pos 3. Langit gelap lebih cepat dari seharusnya, seperti ada tirai hitam dijatuhkan dari langit. Suara-suara asing mulai terdengar: langkah pelan di semak, desisan napas dari arah tak jelas, dan… lenguhan seperti babi hutan, tapi anehnyadatang dari atas pohon.

Sejak kapan babi bisa manjat?” bisik Weda, suaranya parau. Tak ada yang menjawab. Hanya bunyi hujan rintik dan napas yang berat.

Menuju Pos 5, kabut turun tebal dan dingin menggigit kulit. Tiba-tiba Ari berhenti mendadak. Senter di tangannya menyorot sesuatu. Makhluk kecil berbulu hitam.

Kepalanya botak, kulitnya licin mengilap seperti basah. Ukurannya tak lebih besar dari spion motor. Ia berdiri di tengah jalur, menatap mereka dengan mata merah menyala. Lalu perlahanmakhluk itu mengangkat tangannya, menunjuk ke bawah, ke sisi jurang. Dan dari mulutnya keluar suara mengerikan jeritan panjang, mirip babi disembelih.

Seketika, darah mereka membeku. Ari menyorot arah yang ditunjuk makhluk itu — dan melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Di balik kabut, ada sosok perempuan melayang. Rambutnya panjang menutupi sebagian wajah, tapi ubun-ubunnya botak seperti dicabik. Matanya besar, melotot liar. Giginya acak-acakan, menganga seperti hendak menelan cahaya. Kulitnya pucat kebiruan, pakaian compang-camping, dan tubuhnya menggantung tanpa pijakan.

Dalam sekejap, sosok itu menyerbu ke arah makhluk kecil tadi. Kuku-kukunya yang panjang seperti sabit menembus bulu hitam itu — dan suara melengking menggema di tengah kabut. Darah hitam menetes ke tanah, menyebarkan bau anyir yang tajam.

Sosok perempuan itu lalu menatap ke arah Ari dan kawan-kawannya. Sekejap mata, dia menghilang ke dalam kabut, meninggalkan udara yang terasa berat seperti menelan napas mereka.

Tak ada yang bersuara. Lesti mulai menangis pelan. Kadek menatap kosong ke tanah. Malam itu, mereka hanya duduk mematung, tak berani menyalakan api unggun.

Menjelang pagi, kabut perlahan terurai. Mentari muncul di ufuk timur, menciptakan siluet Gunung Rinjani yang megah, dan Gunung Raung yang berdiri kokoh di barat.

Untuk sesaat, semua ketakutan seolah sirna.

Tapi saat mereka menuruni jalur kembali, bau bunga kamboja kembali tercium samar, bercampur aroma dupa yang terbakar. Ari menoleh ke belakang — dan di antara kabut yang menipis, dia sempat melihat bayangan tiga sosok berpakaian adat berdiri di bawah pohon besar.

Diam. Menatap.

Pendakian itu bukan sekadar ujian fisik. Bagi mereka, Gunung Agung telah menunjukkan wajah lain — tempat di mana dunia manusia dan dunia gaib hanya dipisahkan oleh kabut tipis. (Ade Andani)

Kementerian Kesehatan Siapkan Langkah Nyata Bantu RSUD Wangaya Bali

0

Denpasar, Matahari Timur – Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin melakukan kunjungan kerja ke RSUD Wangaya Denpasar, Jumat (24/10/2025), untuk menindaklanjuti usulan Gubernur Bali Wayan Koster yang sebelumnya disampaikan pada 16 September 2025 di Jakarta.

Saat itu, Gubernur Koster hadir di Jakarta untuk menyampaikan permohonan bantuan alat kesehatan (alkes) bagi RSUD Wangaya yang mengalami kerusakan akibat banjir. Usulan tersebut merupakan tindak lanjut dari permintaan Walikota Denpasar I.G.N. Jaya Negara sebagai aspirasi masyarakat Kota Denpasar.

Tak butuh waktu lama, Menkes Budi langsung meninjau kondisi rumah sakit dan memastikan bantuan akan segera direalisasikan. Kunjungan Menkes turut didampingi Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Wali Kota Denpasar Kadek Agus Arya Wibawa, Direktur RSUD Wangaya dr. Anak Agung Made Widiasa, serta sejumlah pejabat SKPD terkait.

Setelah meninjau langsung kondisi fasilitas rumah sakit, Menkes Budi Sadikin menyampaikan komitmennya untuk merealisasikan bantuan alat kesehatan senilai puluhan miliar rupiah pada tahun ini.

“Kita memang sudah rencanakan untuk bantu Wangaya. Tadi saya lihat daftar alat-alatnya, nilainya sekitar 20 sampai 30 miliar rupiah. Harusnya bisa didapat tahun ini,” ujar Menkes Budi Sadikin.

Ia juga berpesan agar alat kesehatan yang akan diberikan dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Denpasar dan Bali.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari langkah memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, khususnya dalam percepatan pemulihan serta peningkatan kualitas layanan kesehatan pasca banjir yang melanda RSUD Wangaya pada 9 September 2025.

Menteri Budi Gunadi meninjau langsung kondisi fasilitas layanan dan infrastruktur rumah sakit yang terdampak banjir. Berdasarkan laporan manajemen RSUD Wangaya, kerugian akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai Rp50 miliar, mencakup kerusakan alat kesehatan, infrastruktur gedung, hingga sistem operasional pelayanan pasien.

Dalam arahannya, Menkes menekankan pentingnya implementasi transformasi sistem kesehatan nasional, termasuk penguatan layanan primer, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta percepatan digitalisasi layanan kesehatan di daerah.

Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap pemulihan fasilitas kesehatan di Bali.

“Kami berterima kasih kepada Bapak Menteri Kesehatan yang telah meninjau langsung RSUD Wangaya. Pemprov Bali berkomitmen memperkuat sistem kesehatan yang tangguh, termasuk membangun rumah sakit daerah yang lebih siap menghadapi bencana,” ujar Koster.

Direktur RSUD Wangaya, dr. Anak Agung Made Widiasa, menambahkan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga pelayanan kepada masyarakat meski dihadapkan pada keterbatasan sarana pasca banjir.

Banjir merusak gudang obat, ruang keuangan, genset, dan beberapa alat medis. Kami sudah mengajukan kebutuhan alat kesehatan ke Kemenkes, dan 12 jenis alat baru akan segera dikirim untuk mendukung pelayanan madya,” jelasnya.

Menutup kunjungan, Menkes Budi Gunadi menegaskan kesiapan pemerintah pusat dalam mendukung pemulihan RSUD Wangaya.

Membangun rumah sakit memang tidak mudah, tapi menjaga dan memperkuatnya jauh lebih penting. RSUD Wangaya sangat vital bagi 800 ribu warga Denpasar. Pemerintah pusat siap membantu penyediaan alat kesehatan agar pelayanan bisa segera pulih dan semakin kuat, tegasnya. (MT-001)

Bupati Buleleng Harapkan Pejabat Baru Wujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Melayani

0

Buleleng, Matahari Timur – Pemerintah Kabupaten Buleleng melaksanakan pelantikan Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama dan Administrator di lingkungan Pemkab Buleleng. Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menegaskan dalam pelantikan kali ini hanya ada pengisian jabatan kosong melalui promosi, maupun rotasi. Pelantikan ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola pemerintahan yang profesional, bersih, dan berorientasi pada pelayanan publik.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, menyampaikan bahwa pelantikan ini merupakan bagian dari proses penyegaran birokrasi serta langkah strategis dalam penataan organisasi perangkat daerah. Ia menegaskan, tidak ada pejabat yang mengalami penurunan jabatan atau demosi, karena seluruh proses dilakukan berdasarkan prinsip meritokrasi dan sistem manajemen talenta.

Pelantikan ini kan sudah lama ditunggu. Saya juga melaksanakan kegiatan ini tentu harus mencari figur-figur berdasarkan hasil dari meritokrasi dan sistem manajemen talenta. Semua pejabat sudah ada rapornya, kami lihat dari sana,” ujar Bupati Sutjidra.

Lebih lanjut, Bupati menjelaskan bahwa rotasi dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi pejabat agar memperoleh pengalaman baru di lingkungan kerja yang berbeda. Menurutnya, hal ini penting agar para pejabat dapat terus berkembang dan membawa semangat baru di instansi masing-masing. Ia mencontohkan bahwa dalam lima tahun, pejabat yang lama bertugas di satu dinas perlu digeser agar mendapatkan ilmu dan suasana baru.

Bupati Sutjidra menekankan agar pejabat yang baru dilantik dapat menunjukkan dedikasi tinggi terhadap pekerjaan, menjunjung loyalitas kepada pimpinan, serta menjaga etika dan moral dalam menjalankan tugas. Ia berharap seluruh pejabat mampu bekerja sama lintas instansi untuk mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik.

“Kita harapkan mereka bisa bekerja dengan baik, bekerja sama dengan masing-masing instansi untuk melaksanakan tata kelola pemerintahan yang baik dan pelayanan publik yang baik kepada masyarakat. Di situ penekanannya,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyinggung mengenai rencana perampingan struktur organisasi perangkat daerah yang tengah menunggu penyelesaian peraturan daerah (Perda). Ia menjelaskan bahwa beberapa dinas akan digabung, antara lain Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) dengan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Perkimta), serta Dinas Pariwisata dengan Dinas Kebudayaan.

Dengan perampingan ini kita bisa bekerja lebih cepat, efisien, dan efektif sehingga apa yang menjadi visi misi penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Buleleng dapat terwujud, yaitu menuju pemerintahan yang bersih dan melayani,” katanya. (MT-001)