Tabanan, Matahari Timur – Di pesisir barat Pulau Bali, ombak Samudra Hindia menghantam karang hitam yang menjulang di tengah laut. Di atas karang itu berdiri megah Pura Tanah Lot, pura laut yang menjadi salah satu penjaga spiritual Bali. Namun di balik keindahannya, tersimpan kisah kuno tentang ular suci yang menjaga kesucian pura ini sejak ratusan tahun lalu.
Konon, pada abad ke-15, seorang pendeta suci bernama Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan spiritual menyebarkan ajaran dharma di Bali. Dalam perjalanannya ke barat, beliau tiba di sebuah pantai yang sangat indah. Di sana, beliau merasakan getaran energi yang luar biasa kuat — tempat itu dianggap cocok untuk pemujaan dewa laut, Dewa Baruna.
Namun, kedatangannya tidak disukai oleh Bendesa setempat yang khawatir kehilangan pengaruh. Bendesa datang bersama pengikutnya untuk mengusir sang pendeta. Dang Hyang Nirartha lalu menunjukkan kesaktiannya: dengan tongkat sucinya, ia memindahkan sebongkah batu besar dari daratan ke tengah laut. Di atas batu itulah beliau duduk bersamadi. Batu itu kemudian dikenal sebagai Tanah Lot, yang berarti tanah di tengah laut.
Ular dari Selendang Suci
Sebelum meninggalkan tempat itu, Dang Hyang Nirartha melepas selendang sucinya (kain poleng) dan meletakkannya di pinggir karang. Dengan mantra dan doa, selendang itu berubah menjadi ular besar berwarna hitam dan belang putih.
Ular itu diberi tugas menjaga Tanah Lot dari gangguan roh jahat dan orang-orang yang berniat buruk terhadap pura.
Masyarakat percaya bahwa hingga kini, keturunan ular suci itu masih hidup di celah-celah batu karang di bawah pura. Mereka dikenal sebagai ular laut penjaga Tanah Lot — berwarna belang hitam-putih, berukuran besar, namun tidak pernah menyerang siapa pun kecuali mereka yang berniat jahat.
Menurut penduduk sekitar, setiap purnama tilem (bulan mati), ombak di sekitar Tanah Lot menjadi lebih bergemuruh, dan ular penjaga kerap muncul sekilas di antara buih laut. Para pemangku pura akan membawa sesajen dan menabur bunga ke arah laut sebagai bentuk penghormatan kepada sang penjaga.
Orang-orang tua di Desa Beraban sering berkata: “Selama ular itu tetap di sana, Tanah Lot akan aman. Bila ia pergi, laut akan murka.”
Secara ilmiah, ular laut di Tanah Lot memang benar ada — spesies ular laut belang hitam putih (Laticauda colubrina) yang hidup di gua bawah karang. Namun bagi masyarakat Bali, mereka bukan sekadar hewan, melainkan perwujudan energi penjaga suci warisan Dang Hyang Nirartha.
Hingga kini, para pemangku dan pemandu wisata masih menjaga kisah ini dengan hormat. Mereka percaya, selama manusia tetap menjaga kesucian dan keseimbangan alam di Tanah Lot, ular suci itu akan terus melindungi pulau Bali dari marabahaya yang datang dari lautan.
Referensi barang yang perlu dibawa pengunjung jika ingin berwisata atau sembahyang di Pura Tanah Lot:

