25 C
Bali
16 Desember 2025
Beranda blog Halaman 3

Legenda Kebo Iwa: Raksasa yang Membangun Danau Batur

0

Bangli, Matahari Timur – Alkisah, hiduplah sepasang suami istri yang telah lama mendambakan kehadiran seorang anak. Doa mereka tak pernah putus, hingga pada suatu hari Sang Hyang Widi Wasa mengabulkannya. Mereka dikaruniai seorang putra yang amat mereka sayangi. Sejak kecil, sang anak tumbuh sangat cepat dan memiliki nafsu makan yang luar biasa besarnya—setara dengan sepuluh orang dewasa. Karena kekuatan dan besarnya tubuhnya, ia diberi nama Kebo Iwa, yang berarti “kerbau”.

Seiring bertambahnya usia, tubuh Kebo Iwa makin besar, demikian pula selera makannya. Setiap harinya, ia bisa menghabiskan makanan untuk seratus orang. Orangtuanya kewalahan, dan penduduk desa pun resah. Bila lapar, Kebo Iwa mudah tersulut amarah. Ia bisa merusak rumah penduduk, menumbangkan pohon-pohon, bahkan merusak pura. Warga desa hidup dalam ketakutan setiap kali ia murka.

Suatu saat, musim paceklik melanda daerah itu. Para petani gagal panen dan tak mampu lagi menyediakan makanan bagi Kebo Iwa. Kekhawatiran menyelimuti hati mereka—jika Kebo Iwa marah, seluruh desa bisa hancur. Setelah bermusyawarah, warga pun menyusun sebuah siasat. Mereka akan memanjakannya dengan makanan melimpah, namun bersamaan dengan itu mengumpulkan batu kapur dalam jumlah besar. Setelah persiapan matang, kepala desa menemui Kebo Iwa.

Dengan hati-hati, mereka mengajukan permintaan agar Kebo Iwa membantu menggali sebuah sumur raksasa. Sebagai imbalannya, ia dijanjikan makanan berlimpah. Kebo Iwa yang polos dan mudah gembira segera menyetujuinya. Ia mulai bekerja, menggali tanah dengan kekuatan yang tak tertandingi. Di sisi lain, warga desa perlahan menumpuk batu kapur di dekat lokasi penggalian.

Ketika melihat tumpukan batu kapur, Kebo Iwa sempat heran. Namun warga berkata bahwa batu itu akan dipakai untuk membangunkannya rumah besar yang megah. Mendengar itu, Kebo Iwa semakin bersemangat. Hari demi hari ia menggali, hingga sumur itu berubah menjadi lubang raksasa yang mulai dipenuhi air dari dalam tanah. Atas permintaan kepala desa, ia terus memperlebar dan memperdalam lubang itu.

Setelah bekerja tanpa henti, Kebo Iwa akhirnya kelelahan dan meminta makanan. Warga segera memberinya hidangan melimpah, dan setelah kenyang ia tertidur pulas. Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Kepala desa memberi isyarat, dan seluruh warga serempak menggulingkan batu-batu kapur ke dalam lubang. Air yang memancar dari dalam tanah bercampur dengan debu kapur, menimbulkan uap yang membuat sesak. Kebo Iwa terbangun, namun sudah terlambat. Air deras dan batu kapur menenggelamkannya, hingga ia menghembuskan napas terakhir di dalam lubang ciptaannya sendiri.

Air terus memancar tanpa henti, membanjiri desa dan wilayah sekitarnya. Lubang besar yang digali Kebo Iwa perlahan menjadi danau luas yang kini dikenal sebagai Danau Batur, sementara tumpukan tanah di sekelilingnya menjelma menjadi Gunung Batur. Begitulah kisah tentang Kebo Iwa, sosok perkasa yang tak terkalahkan, namun akhirnya takluk oleh siasat penduduk desa dan takdir sang alam.

Begitulah kisah legenda Kebo Iwa dan cerita terbentuknya Danau Batur yang sekarang menjadi objek wisata kenamaan di Bangli.

***

Suka kisah-kisah  dongeng legenda atau cerita rakyat? Setiap legenda menyimpan rahasia.
Setiap halaman membangkitkan jiwa Nusantara.
Miliki buku kisah dongeng penghangat jiwa dan rasakan getaran magis dari tanah para dewa. Dapatkan cerita menggetarkan tentang legenda di berbagai daerah di Indonesia, di sini. (MT-003)

Legenda Rawa Pening, Kisah Pemuda Jelmaan Naga

0

Semarang, Matahari Timur – Di sebuah lembah subur di kaki Gunung Telomoyo, hiduplah seorang pemuda miskin bernama Baru Klinthing. Ia bukan pemuda biasa, karena lahir dari rahim seorang wanita jelmaan naga bernama Endang Sawitri, dan ayahnya adalah naga sakti bernama Baru Klinting. Sejak kecil, ia dikucilkan oleh penduduk karena wujudnya yang aneh—kulitnya bersisik halus dan lidahnya bercabang. Meski begitu, hati Baru Klinthing penuh kasih dan sabar menghadapi hinaan.

Suatu hari, ia memutuskan untuk berkelana mencari jati diri dan membuktikan siapa sebenarnya dirinya. Ia bersemedi di lereng gunung dan bertapa memohon petunjuk kepada para dewa. Setelah waktu berlalu, tubuhnya berubah menjadi manusia sempurna tanpa sisik. Ia pun merasa waktunya telah tiba untuk kembali ke desa yang dulu menolaknya. Namun, niatnya bukan untuk balas dendam, melainkan untuk menguji hati penduduk.

Baru Klinthing datang ke desa dengan pakaian sederhana, tubuh kurus, dan wajah letih. Ia meminta sedikit makanan kepada warga yang sedang berpesta besar untuk merayakan hasil panen. Namun, tak satu pun dari mereka mau memberinya makan. Mereka malah mengusirnya dengan kasar, menertawakannya, dan menutup pintu rapat-rapat. Hanya seorang nenek tua yang miskin bernama Nyi Latung yang mau memberinya sesuap nasi dan air.

Selesai makan, Baru Klinthing berterima kasih dan berkata pelan, “Nenek, nanti jika kau melihat air meluap dari tanah, cepatlah naik ke bukit bersama lesungmu.” Nyi Latung mengangguk tanpa mengerti maksud kata-kata itu. Baru Klinthing pun berjalan kembali ke tengah desa, lalu menancapkan sebatang lidi ke tanah dan menantang para warga. “Jika kalian benar kuat dan sombong seperti yang kalian tunjukkan, cabutlah lidi ini!”

Penduduk desa tertawa. Mereka mencoba mencabut lidi itu satu per satu, tapi tak seorang pun mampu menggerakkannya. Dengan tenang, Baru Klinthing menarik lidi itu keluar. Seketika, dari lubang tempat lidi itu tertancap, memancar air deras yang tak berhenti mengalir. Air itu makin lama makin tinggi, menenggelamkan seluruh desa. Orang-orang panik berlarian, tapi tak ada yang selamat selain Nyi Latung yang sudah naik ke bukit.

Air terus meluap hingga menutupi seluruh lembah. Di atas bukit, Nyi Latung menyaksikan bagaimana desa yang sombong itu berubah menjadi danau luas dengan air kebiruan yang berkilau di bawah sinar matahari. Dari kejauhan, terdengar suara gaib menyerupai desis naga yang seakan berputar di bawah permukaan air.

Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal sebagai Rawa Pening, yang berarti ‘rawa yang bening’. Masyarakat percaya bahwa di dasar danau itu masih bersemayam arwah Baru Klinthing, sang penjaga air dan penegak keadilan. Legenda ini menjadi pengingat agar manusia tak sombong dan selalu berbagi kepada sesama, karena kesombongan dan keangkuhan bisa menenggelamkan segalanya dalam sekejap.

***

Suka kisah-kisah legenda? Setiap legenda menyimpan rahasia.
Setiap halaman membangkitkan jiwa Nusantara.
Miliki buku kisah Legenda Nusantara dan rasakan getaran magis dari tanah para dewa. Dapatkan cerita menggetarkan tentang legenda di berbagai daerah di Indonesia, di sini.(MT-003)

Legenda Tukad Petanu: Sungai yang Dihantui Kutukan Dewa

0

Gianyar, Matahari Timur – Di jantung Pulau Bali yang penuh pesona, mengalir sebuah sungai yang disebut Tukad Petanu. Sungai ini tampak indah dengan airnya yang jernih berkilauan di bawah cahaya matahari. Namun, di balik keindahannya, tersimpan kisah legenda yang menjadi bagian penting dari sejarah spiritual Bali. Masyarakat setempat percaya bahwa Tukad Petanu menyimpan kutukan kuno yang berasal dari keserakahan dan kesombongan seorang raja pada masa lalu.

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja bernama Mayadenawa, penguasa Kerajaan Bedahulu yang terkenal sakti dan angkuh. Ia memiliki kemampuan luar biasa, bahkan bisa berubah wujud menjadi makhluk apa pun yang diinginkannya. Karena kesaktiannya itu, Mayadenawa merasa tidak membutuhkan dewa, dan melarang rakyatnya menyembah serta mempersembahkan sesajen di pura. Larangan itu membuat para dewa murka, sebab keseimbangan alam terganggu.

Melihat ulah Mayadenawa, Dewa Indra pun turun ke bumi bersama pasukannya untuk menumpas kesombongan sang raja. Pertempuran dahsyat terjadi di lembah dan hutan-hutan Bali. Pasukan Mayadenawa akhirnya kalah, dan ia sendiri melarikan diri ke dalam hutan. Untuk mengelabui para dewa, ia berubah wujud menjadi berbagai makhluk, bahkan menapakkan kakinya miring agar jejaknya sulit dikenali—dari sinilah nama Tampaksiring berasal.

Namun, pelariannya tidak berlangsung lama. Ketika fajar menyingsing, pasukan Dewa Indra berhasil menemukan dan memanah Mayadenawa hingga tewas. Dari darah sang raja yang mengalir ke tanah, terbentuklah sebuah aliran sungai yang kini disebut Tukad Petanu. Konon, darah itu mengutuk sungai tersebut menjadi sumber air yang suci sekaligus angker, karena mengandung jejak murka dan penyesalan.

Sejak saat itu, air di Tukad Petanu diyakini tidak pernah digunakan untuk upacara keagamaan. Masyarakat percaya bahwa siapa pun yang menggunakan air sungai itu untuk melukat atau membersihkan diri secara spiritual, bisa terkena malapetaka atau mengalami kesialan. Bahkan, menurut cerita lama dan legenda yang berkembang, tanah di sekitar sungai itu tidak bisa menghasilkan panen sempurna selama seratus tahun setelah kutukan Mayadenawa.

Meski demikian, Tukad Petanu tetap menjadi simbol keseimbangan antara kekuatan baik dan buruk di alam semesta. Di satu sisi, airnya memantulkan cahaya seperti permata, menandakan kesucian alam Bali; namun di sisi lain, kisah tragis di baliknya mengingatkan manusia agar tidak sombong dan tetap menghormati kekuatan ilahi. Sungai itu kini menjadi saksi bisu hubungan abadi antara manusia, alam, dan para dewa.

Hingga kini, masyarakat sekitar masih menjaga dan menghormati Tukad Petanu. Setiap kali melewati sungai itu, mereka menundukkan kepala sejenak, sebagai bentuk penghormatan kepada roh alam dan arwah Raja Mayadenawa. Legenda Tukad Petanu pun hidup turun-temurun sebagai pengingat bahwa kesombongan akan membawa kehancuran, sedangkan kerendahan hati akan menjaga harmoni antara manusia dan semesta.

***

Suka kisah-kisah legenda? Setiap legenda menyimpan rahasia.
Setiap halaman membangkitkan jiwa Nusantara.
Miliki buku kisah Legenda Nusantara dan rasakan getaran magis dari tanah para dewa. Dapatkan cerita menggetarkan tentang legenda di berbagai daerah di Indonesia, di sini.(MT-003)

Jo Stevens: Australia Bangga Gunakan Aksara Bali di Kantor Konsulat

0

Denpasar, Matahari Timur – Konsul-Jenderal Australia di Bali, Jo Stevens, bersama Gubernur Bali, Dr. Ir. Wayan Koster, meresmikan papan nama baru Konsulat-Jenderal Australia yang kini menggunakan aksara Bali berdampingan dengan aksara Latin.

Konsulat-Jenderal Australia menjadi kantor perwakilan diplomatik pertama di Bali yang menerapkan kebijakan ini. Jo Stevens menyatakan dukungannya terhadap upaya pelestarian budaya lokal yang digagas Gubernur Koster melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang penggunaan aksara Bali pada papan nama instansi pemerintahan.

Meskipun biasanya gedung-gedung diplomatik dikecualikan dari persyaratan tersebut, Konsulat-Jenderal Australia melakukan hal ini sebagai tanda rasa hormat dan
apresiasi yang mendalam terhadap budaya Bali.

Konsul-Jenderal Jo Stevens mengatakan, Bali adalah tempat yang istimewa bagi warga Australia, yang senang berkunjung karena kekayaan warisan dan budayanya.

“Dengan menambahkan aksara Bali pada papan nama gedung kami, kami menunjukkan rasa hormat Australia yang mendalam dan abadi terhadap masyarakat dan budaya Bali,” kata Jo Stevens Senin 10 November 2025.

Dia mengatakan, ini merupakan tanda dukungan secara fisik dan simbolis kepada Gubernur Koster dalam upayanya untuk mempromosikan dan melestarikan budaya Bali.

“Saya sangat senang Gubernur Koster hadir di sini hari ini untuk meresmikan papan nama kami. Australia akan selalu menjadi sahabat dan mitra dekat bagi Bali,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster terima kasih atas dukungan Konsul-Jenderal terhadap kerja keras Pemerintah Bali dalam melestarikan dan memajukan budaya Bali.

“Saya berharap kantor-kantor luar negeri lainnya dapat mencontoh Konsulat-Jenderal Australia,” tegas Koster.

Peresmian ini juga dihadiri oleh Wali Kota Denpasar, Kepala Dinas Pariwisata Bali, dan Dinas Kebudayaan Bali. (MT-003)

Odisha–Bali Pererat Ikatan Maritim dan Budaya Melalui Kunjungan Ida Rsi Putra Manuaba

0

Bhubaneswar, Matahari Timur — Tokoh Gandhian asal Bali, Indonesia, Padma Shri Ida Rsi Putra Manuaba (Agus Indra Udayana), melakukan kunjungan kehormatan kepada Yang Mulia Gubernur Odisha di Raj Bhavan, Bhubaneswar, pada Kamis (6/11) siang.

Pertemuan berlangsung hangat dan penuh makna, membahas upaya mempererat hubungan budaya dan spiritual antara Odisha dan Bali, dua wilayah yang memiliki ikatan sejarah panjang sejak masa kejayaan maritim kuno Kalinga.

Dalam kesempatan tersebut, Ida Rsi Putra Manuaba menyampaikan kekagumannya terhadap warisan budaya dan nilai-nilai spiritual Odisha, yang menurutnya memiliki kedekatan mendalam dengan tradisi dan filosofi kehidupan masyarakat Bali. Ia juga menegaskan pentingnya menghidupkan kembali hubungan budaya dan kemanusiaan yang telah lama menyatukan kedua daerah.

Yang Mulia Gubernur Odisha, yang dikenal sebagai pendukung ajaran Mahatma Gandhi dan penggerak dialog lintas budaya, menyambut kunjungan tersebut dengan penuh antusias. Gubernur menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Ida Rsi Putra Manuaba dalam menyebarkan pesan perdamaian dan ajaran Mahatma Gandhi di Indonesia melalui kegiatan sosial dan spiritual di berbagai ashram yang dipimpinnya.

Kedua tokoh sepakat memperkuat kerja sama di bidang kebudayaan, pendidikan, dan pertukaran ilmiah, dengan menekankan pentingnya hubungan antarmasyarakat (people-to-people connection). Salah satu hasil konkret dari pertemuan ini adalah munculnya gagasan membentuk Program Pertukaran Cendekiawan dan Budaya (Scholar and Cultural Exchange Programme) antara Odisha dan Indonesia. Program ini diharapkan dapat mempererat pemahaman antarbangsa sekaligus menghidupkan kembali semangat maritim dan nilai-nilai perdamaian yang pernah menghubungkan Kalinga dan Bali.

Usai pertemuan di Raj Bhavan, delegasi melanjutkan audiensi dengan Sekretaris Utama Pemerintah Odisha, Ibu Rupa Roshan Sahu, IAS, yang menyatakan komitmen penuh untuk menindaklanjuti hasil pembicaraan tersebut. Dalam pertemuan itu, juga disepakati rencana pendirian “Kursi Indonesia” (Indonesian Chair) di Ramadevi Women’s University sebagai simbol persahabatan akademik antara kedua wilayah.

Kunjungan bersejarah ini menjadi tonggak penting dalam memperkokoh hubungan budaya, akademik, dan spiritual antara Indonesia dan India, khususnya antara Bali dan Odisha.

Dalam pernyataannya, Ida Rsi Putra Manuaba menegaskan makna kunjungan ini sebagai jembatan kemanusiaan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan:

“Selama lebih dari sepuluh tahun saya hidup di Odisha, saya menyaksikan betapa kuatnya nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas di sini. Melalui kerja sama pendidikan dan kebudayaan, kita dapat membangun kembali jembatan masa lalu menjadi lembaran indah masa kini — demi persaudaraan dan kemajuan bersama.” (MT-003)

Rusak Puluhan Tahun, Jalan Penghubung Desa Lokapaksa – Desa Ularan Akhirnya Diperbaiki

0

Buleleng, Matahari Timur – Setelah puluhan tahun rusak parah, jalan penghubung strategis antara Dusun Sorga, Desa Lokapaksa, dan Desa Ularan di Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali akhirnya mengalami peningkatan signifikan. Pengerjaan jalan sepanjang 1,26 kilometer ini telah mencapai 99 persen.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, Wakil Bupati (Wabup) Gede Supriatna dan Sekretaris Daerah (Sekda) Gede Suyasa beserta jajaran berkesempatan meninjau hasil peningkatan jalan tersebut saat kunjungan kerja Bupati dan Wakil Bupati Buleleng, Kamis (6/11/2025). Dirinya mengakui bahwa kerusakan jalan ini telah berlangsung sangat lama. “Dari 15 tahun yang lalu atau bahkan lebih ya mungkin sudah 20 atau 30 tahun lalu, dari pengakuan warga sudah tidak pernah mendapatkan perawatan, sudah hancur sekali,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa jalan ini menjadi prioritas utama penanganan Pemkab Buleleng mengingat tingkat kerusakan dan medannya yang ekstrem. Dengan kondisi yang ada, jalan ini kerap memicu kecelakaan. Warga juga mengeluh karena hasil-hasil pertanian tidak bisa maksimal diangkut secara maksimal. “Ini menjadi masalahnya. Jadi kami anggarkan Rp2 miliar lebih untuk tahap pertama peningkatan yang difokuskan pada pengerasan badan jalan dengan hotmix,” kata Sutjidra.

Perbekel (Kepala Desa) Desa Lokapaksa Putu Dodik Tryana mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan perbaikan ini terletak pada kolaborasi yang solid antara dua desa. Menghadapi kendala administrasi karena jalan berada di dua wilayah, Pemerintah Desa Lokapaksa dan Ularan bersinergi membuat perjanjian kerjasama dan mengajukan proposal bersama ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng. “Kebetulan kita dua desa sangat bagus komunikasinya. Berdasarkan itu kita buat perjanjian kerjasama desa, mengajukan proposal, dan akhirnya astungkara terwujud pengaspalan,” ceritanya. Ia menambahkan bahwa manfaat jalan ini jauh melampaui dua desa, kini juga dinikmati oleh warga dari Desa Unggahan, Sepang, dan bahkan Pangkungparuk.

Bagi warga, perbaikan jalan ini adalah jawaban atas doa dan perjuangan puluhan tahun. Seorang warga Lokapaksa, Putu Rastika atau akrab disapa Raras (34), menyatakan bahwa dalam hidupnya, baru sekarang jalan itu diperbaiki secara permanen. “Saya dari 34 tahun sampai sekarang ini barulah terealisasi. Mungkin jalannya dibuat kurang lebih sudah 50 tahunan, nol-nol sama sekali tidak ada pengerasan,” sebutnya. Ia mengingat betapa sulitnya kondisi jalan sebelumnya, di mana jalan kaki pun berisiko terpeleset, anak-anak kesulitan ke sekolah, dan akses untuk ibu melahirkan atau mengangkut hasil bumi sangat terhambat. Terutama di musim hujan dimana jalan berubah menjadi kubangan lumpur.

Meski pengerjaan drainase masih dilakukan secara bertahap dengan koordinasi kontraktor dan tokoh masyarakat setempat untuk mengalirkan air ke titik-titik tertentu. Peningkatan jalan ini tidak hanya sekadar perbaikan fisik, tetapi juga pemulihan akses ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan bagi masyarakat.

Selain meninjau peningkatan jalan, Bupati Sutjidra dan rombongan juga meninjau perkembangan revitalisasi gedung SD Negeri 1 Bubunan. Bupati Sutjidra menyoroti pembangunan UKS di sekolah setempat yang masih memakai tanah Desa Adat. Jika tanah tersebut diserahkan kepada sekolah, harus ada berita acara penyerahan dari Desa Adat ke sekolah. “Ya walaupun sekarang masih pinjam pakai, nanti selanjutnya bisa dihibahkan. Ini untuk menghindari konflik di kemudian hari,” tutup Sutjidra. (MT-003)

PKK Bali Galakkan Koperasi Desa sebagai Gerakan Ekonomi Keluarga Berdaya

0

Denpasar, Matahari Timur – Sekretaris I Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, mendorong para kader PKK di Kota Denpasar untuk membentuk koperasi desa sebagai upaya meningkatkan perekonomian keluarga. Hal itu disampaikan saat menghadiri kegiatan Aksi Sosial TP PKK Provinsi Bali ‘Menyapa dan Berbagi’ di Wantilan Pura Candi Narmada, Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Selasa (4/11).

Dalam kegiatan tersebut, Ny. Seniasih turut berbaur bersama kader PKK Kota Denpasar yang tengah melakukan demo memasak. Beragam hasil olahan tangan para kader mendapat apresiasi karena cita rasanya yang gurih dan beragam.

“Hasil masakan ini sangat gurih dan layak dikonsumsi. Olahan ikan juga penting bagi perkembangan otak anak-anak di masa pertumbuhan. Karena itu, para kader perlu membentuk koperasi desa untuk menampung dan memasarkan produk olahan mereka, sehingga hasil penjualannya dapat menggerakkan perekonomian keluarga,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan kehidupan masyarakat ke depan semakin kompleks sehingga diperlukan sinergi antara TP PKK, pemerintah, dan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas, kualitas layanan, serta pemberdayaan masyarakat.

“Dengan sinergi yang baik, masyarakat bisa mendapatkan akses pelayanan yang lebih dekat, cepat, dan sesuai kebutuhan. Saya mengajak seluruh kader PKK agar melaksanakan tugas dan fungsi dengan semangat, antusias, serta mengikuti alur organisasi secara baik,” tegasnya.

Menurutnya, untuk menyukseskan program Tim Penggerak PKK, para kader juga harus mampu berkolaborasi dengan masyarakat serta menjadi ujung tombak pelaksanaan program-program prioritas pemerintah, baik pusat maupun daerah.

“Selain melaksanakan program yang sudah ditetapkan, kita juga wajib memiliki kepedulian terhadap peristiwa di sekitar kita. Mari tumbuhkan semangat gotong royong dan rasa peduli terhadap keluarga serta masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan uluran tangan. Jangan sampai ada warga yang terabaikan dari perhatian,” pesannya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, menyampaikan terima kasih atas perhatian TP PKK Provinsi Bali yang melibatkan kader Denpasar dalam kegiatan sosial tersebut.

“Aksi nyata ini merupakan wujud kepedulian terhadap warga yang membutuhkan perhatian, terutama anak-anak penyandang disabilitas. Selain itu, terdapat satu orang ibu hamil dengan risiko tinggi berusia 44 tahun yang juga menerima bantuan,” ujarnya.

Dalam kegiatan itu, diserahkan 50 paket bantuan kepada masyarakat, terdiri atas 10 kader TP PKK, 10 lansia, 10 balita, 10 ibu hamil, dan 10 penyandang disabilitas. (MT-003)

Kunker Hari Kedua, Sutjidra-Supriatna Pantau Pembangunan Jalan Tunjung-Bukti dan SMPN 1 Kubutambahan

0

Buleleng, Matahari Timur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Wakil Bupati Gede Supriatna melanjutkan agenda kunjungan kerja hari kedua dengan meninjau sejumlah proyek pembangunan di Kecamatan Sawan, Tejakula, dan Kubutambahan, Selasa (4/11/2025). Salah satu fokus utama kunjungan tersebut adalah pembangunan Jalan Merak yang menghubungkan Desa Bukti dan Desa Tunjung, serta peninjauan kondisi fasilitas pendidikan di SMPN 1 Kubutambahan.

Didampingi Sekda Buleleng Gede Suyasa dan Kepala Dinas PUTR I Putu Adiptha Eka Putra, Sutjidra-Supriatna meninjau langsung proyek peningkatan Jalan Merak yang sudah rusak selama 23 tahun. Jalan sepanjang tujuh kilometer dengan lebar tiga meter itu kini mulai dibetonisasi untuk mencegah kerusakan akibat penggerusan air. Peningkatan jalan tersebut menelan anggaran sebesar Rp4,2 miliar dari APBD Kabupaten Buleleng tahun 2025.

Jalan ini menjadi akses vital bagi warga, terutama bagi siswa-siswi yang bersekolah di SMPN Satu Atap Tunjung serta masyarakat yang membawa hasil perkebunan, seperti mangga dan kelapa. Sebelumnya, kondisi jalan yang rusak parah bahkan sempat menjadi viral karena ditanami pohon pisang oleh warga.

Bupati Sutjidra menjelaskan bahwa pembangunan jalan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat di desa.
“Ya, bertahap karena kemampuan fiskal kita juga terbatas. Jadi yang prioritas seperti ini kan untuk memudahkan akses, terutama ke sekolah, kemudian membawa hasil-hasil pertanian,” ujarnya.

Sementara itu, Perbekel Tunjung I Made Sadia mengungkapkan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah daerah terhadap infrastruktur desanya. “Pokoknya masyarakat Desa Tunjung seluruhnya berterima kasih kepada Pak Bupati dan Wakil Bupati beserta jajaran. Astungkara Joss Paten 2029,” serunya.

Usai meninjau jalan di Desa Tunjung, rombongan melanjutkan kunjungan ke SMPN 1 Kubutambahan. Di sekolah tersebut, Bupati Sutjidra meninjau kondisi bangunan serta berdialog dengan pihak sekolah terkait kebutuhan sarana pendidikan. Ia menilai SMPN 1 Kubutambahan sebagai salah satu sekolah dengan jumlah siswa terbanyak di wilayah timur Buleleng.

“Sekolah ini jumlah siswanya gemuk sekali. Jadi ada dua shift, pagi dan sore, sehingga sangat layak untuk mendapatkan program di tahun ini. Tahun depan juga akan kita revitalisasi untuk yang belum tersentuh. Muridnya hampir 1.000 orang di sini,” kata Sutjidra.

Bupati menambahkan, pemerintah juga akan memperhatikan pembangunan ruang kepala sekolah yang sudah tidak layak pakai. Selain itu, ia mengungkapkan rencana pembangunan SMP reguler baru di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, dengan bantuan dari Pemerintah Provinsi Bali. “Kalau sekolah itu sudah berdiri nanti, siswa-siswi yang di perbatasan akan tertarik ke SMP baru di Desa Pacung,” jelasnya.

Selanjutnya, pada tatap muka dengan masyarakat yang dipusatkan di GOR Besi Mejajar, Kubutambahan Bupati Sutjidra menyampaikan pula rencana pembangunan sebuah rumah sakit di Kecamatan Tejakula untuk mendekatkan akses kesehatan ke masyarakat. Pada kesempatan ini diberikan pula berbagai bantuan kepada masyarakat maupun kelompok usaha. (MT-003)

Penjelasan Awal Ranperda APBD Buleleng 2026, Fokus pada Optimalisasi Pajak dan Efisiensi

0

Buleleng, Matahari Timur – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng telah mulai menyosialisasikan rancangan kebijakan anggaran tahun depan. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, secara resmi telah menyampaikan penjelasan awal mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026. Penyampaian ini menandai dimulainya proses pembahasan yang lebih mendalam bersama dengan fraksi-fraksi di DPRD Kabupaten Buleleng.

Dirinya menyampaikan optimisme terhadap peningkatan target pendapatan daerah pada tahun 2026. Ia mengindikasikan bahwa peningkatan signifikan akan bersumber dari sektor pajak dan retribusi daerah. Keyakinan ini didasarkan pada capaian yang sudah terlihat pada tahun berjalan, dimana realisasi penerimaan di sektor tersebut menunjukkan tren yang sangat positif. “Kita optimis karena tahun ini ternyata pajak dan retribusi kita hampir peningkatannya sangat signifikan. Di triwulan ketiga ini kita dalam posisi hijau di angka 74%. Mudah-mudahan dalam dua bulan lagi capaiannya bisa di atas 90%,” ujar Sutjidra saat ditemui usai Rapat Paripurna Penyampaian Penjelasan Ranperda Kabupaten Buleleng tentang APBD Tahun Anggaran 2026 di Ruang Sidang Utama Gedung DPRD Buleleng, Selasa (4/11/2025).

Lebih lanjut, Sutjidra menjelaskan beberapa pos pendapatan yang diharapkan memberikan kontribusi lebih besar. Pajak reklame, Pajak Hiburan dan Rekreasi (PHR), serta retribusi parkir di Destinasi Tujuan Wisata (DTW) menjadi andalan untuk digenjot. “Pajak reklame itu pasti akan meningkat. Kemudian PHR ini cukup signifikan juga peningkatannya, selain retribusi yang lain seperti parkir. Itu kita manfaatkan DTW-DTW kita nanti,” jelasnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memaksimalkan potensi pendapatan asli daerah (PAD), khususnya dari sektor pariwisata yang menjadi unggulan Buleleng.

Di sisi belanja, prinsip efisiensi akan terus menjadi landasan utama dalam penyusunan APBD 2026. Bupati asal Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan ini mengonfirmasi bahwa langkah strategis yang telah dimulai, seperti perampingan struktur organisasi perangkat daerah (OPD). Pola ini, menurutnya, merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mengefisienkan penggunaan anggaran. “Tahun yang 2026 juga sama. Efisiensi pertama. Perampingan SKPD. Sudah ya. Nah, sudah itu. Kemudian diversifikasi untuk pendapatan,” tutur Bupati Sutjidra.

Penurunan terjadi juga pada Belanja Tak Terduga (BTT). Bupati Sutjidra mengungkapkan bahwa penurunan ini didasari oleh evaluasi terhadap penanganan bencana sebelumnya. Ia mengapresiasi peran serta masyarakat melalui semangat gotong royong dalam pembersihan daerah aliran sungai, penanaman pohon, dan gorong-gorong, yang telah berhasil meminimalisir dampak bencana. “Kemarin hujan karena saking lebatnya ada genangan tapi tidak menimbulkan hal-hal yang mengkhawatirkan. Kita terima karena cuaca, selagi sekarang lagi musim hujan, tapi kita juga berusaha untuk mengantisipasinya bersama masyarakat,” ungkap dia.

Upaya antisipasi dan pencegahan tersebut, lanjutnya, kini diwujudkan dalam program kebersihan rutin yang melibatkan seluruh komponen. Setiap Jumat, seluruh SKPD, TNI, Polri, Aparatur Sipil Negara (ASN), dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di setiap kecamatan turun melakukan kegiatan kebersihan. Tidak hanya itu, peran serta dunia pendidikan juga digerakkan. “Sekarang juga kita melibatkan sekolah-sekolah. Anak-anak sekolah diberikan jam ekstrakurikuler, waktu pagi sehari setiap Sabtu satu jam, untuk melakukan kebersihan di sekolah dan di lingkungan sekolah,” imbuh Sutjidra.

Dengan penyampaian penjelasan awal ini, Ranperda APBD Buleleng 2026 resmi memasuki tahap pembahasan intensif. Pemerintah Daerah dan DPRD akan duduk bersama untuk merumuskan anggaran yang aspiratif, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Buleleng, dengan tetap mengedepankan prinsip efisiensi dan optimalisasi pendapatan daerah. (MT-003)

 

Kunker Hari Pertama, Bupati Buleleng Tinjau Pembangunan Jalan Kalibukbuk dan Ruang Kelas SMPN 8 Singaraja

0

Buleleng, Matahari Timur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, bersama Ketua TP PKK Ny. Wardhany Sutjidra, Wakil Bupati Gede Supriatna, dan Sekda Gede Suyasa, memulai kunjungan kerja tahun 2025 dengan meninjau beberapa pembangunan di Kecamatan Buleleng. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan bahwa pembangunan infrastruktur berjalan sesuai dengan rencana.

Dalam kunjungannya, Bupati Sutjidra meninjau pembangunan jembatan di Jalan Angsangan ruas jalan desa Kalibukbuk dan pembangunan ruang kelas di SMPN 8 Singaraja. Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan sangat penting untuk meningkatkan konektivitas dan mobilitas masyarakat. Apalagi jembatan Angsangan ini menghubungkan antara ruas jalan utama dan Pantai Binaria. “Kalo akses lebih bagus jadi salah satu akses yang dapat digunakan pengunjung-pengunjung yang akan ke Pantai Binaria,”ungkapnya.

Selanjutnya rombongan Bupati mengunjungi pembangunan ruang kelas di SMPN 8 SIngaraja. Untuk diketahui, SMPN 8 Singaraja merupakan sekolah yang baru namun menampung siswa yang cukup banyak sehingga kekurangan ruangan menjadi salah satu kendala belajar mengajar. Pembangunan ruang kelas baru di SMPN 8 Singaraja diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut. “Jadi wajib tadi guru-gurunya itu meningkatkan kompetensi khususnya di bidang bahasa Inggris untuk bisa menularkan kepada anak-anaknya. Jadi kualitas anak-anaknya juga harus meningkat. Apalagi ini daerah pariwisata,”ungkap Sutjidra.

Setelah meninjau pembangunan, Bupati Sutjidra dan rombongan bertatap muka dengan masyarakat dari kecamatan Sukasada, Buleleng, dan Banjar di Wantilan Pantai Binaria Lovina. Dalam sambutannya, Bupati Sutjidra menjelaskan bahwa pemerintah sedang berkonsentrasi menuntaskan pembangunan infrastruktur satu persatu. “Saat ini, masih ada sekitar 300 kilometer jalan yang menjadi tugas Pemerintah Daerah untuk dituntaskan. Pembangunan infrastruktur ini dikerjakan satu persatu mengingat kemampuan fiskal daerah yang rendah,”jelasnya.

Dalam kegiatan kunjungan kerja ini, juga dilakukan penyerahan bantuan kepada masyarakat, termasuk sembako, alat bantu penyandang disabilitas, susu formula, hibah uang untuk pembelian bibit ternak, dan bantuan bedah rumah. Bupati Sutjidra berharap bahwa bantuan ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan di Kabupaten Buleleng. (MT-003)