29 C
Bali
17 September 2026
Beranda blog

Kuasa Hukum KC Siap Tempuh Praperadilan, Demi Ibu dan Bayinya

0

Denpasar, Matahari Timur – Pemandangan menyedihkan terlihat di Mapolresta Denpasar, Selasa, 8 September 2026. Seorang wanita tampak menggendong bayinya yang masih berusia enam bulan, dengan wajah penuh kepedihan saat melangkah menuju ruang pemeriksaan penyidik.

Di tengah hiruk pikuk proses hukum yang sedang dihadapinya, perempuan muda berinisial KC itu tak datang seorang diri. Bayi kecil yang masih membutuhkan dekapan dan ASI sang ibu ikut berada dalam pelukannya.

KC, yang berprofesi sebagai dokter, bersama ibunya berinisial LJL, memenuhi panggilan penyidik Polresta Denpasar setelah keduanya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penggelapan asal-usul anak.

Keduanya datang didampingi penasihat hukum, Siti Sapurah SH atau yang akrab disapa Ipung. Sang kuasa hukum juga dikenal sebagai aktivis perlindungan perempuan dan anak.

Setelah sebelumnya upaya meminta penghentian penyidikan melalui Surat Perintah Penghentian Penyidikan atau SP3 belum menemui titik terang, perkara tersebut terus bergulir.

Usai menjalani pemeriksaan, Ipung kembali mempertanyakan dasar penetapan tersangka terhadap kedua kliennya. Menurutnya, terdapat sejumlah hal yang dinilai janggal dalam proses hukum tersebut.

Penetapan tersangka terhadap KC dan ibunya mendapat penolakan dari pihak kuasa hukum. Ipung menilai perkara tersebut memiliki kaitan dengan perselisihan hak asuh anak yang tengah terjadi di antara KC dan suaminya.

Menurut Ipung, tuduhan dugaan penggelapan asal-usul anak dinilai tidak memiliki dasar materiil yang kuat. Sebab, identitas ibu kandung bayi tersebut, kata dia, telah tercantum secara jelas dalam Surat Keterangan Lahir.

“Pertanyaan saya, dalam Surat Keterangan Lahir anak disebut nama ibunya jelas KC. Apakah ada yang disembunyikan? Silakan lakukan tes DNA,” ujar Siti Sapurah saat mendampingi pemeriksaan kliennya di Mapolresta Denpasar.

Ia juga membantah narasi yang menyebut kliennya memberikan keterangan palsu mengenai status perkawinan saat menjalani proses persalinan di Rumah Sakit Prima Medika.

Menurut Ipung, sejak awal KC tidak memegang dokumen fisik berupa Kartu Keluarga maupun akta perkawinan karena dokumen tersebut, menurut keterangan pihaknya, berada dalam penguasaan pihak pelapor yang merupakan suami KC.

Kondisi itu menyebabkan administrasi rumah sakit diisi berdasarkan Kartu Tanda Penduduk lama milik KC yang masih mencantumkan status belum kawin.

“Klien saya sudah mengatakan di awal tidak punya KK dan akta perkawinan suami, dan hanya punya KTP belum kawin. Terus di mananya penggelapan?” tegasnya.

Ipung menilai persoalan administrasi tersebut tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai upaya untuk menyembunyikan asal-usul anak. Terlebih, menurutnya, bayi tersebut sejak lahir hingga saat ini berada dalam pengasuhan KC dan masih menyusu langsung kepada ibunya.

Di tengah proses pemeriksaan itu, perhatian Ipung tertuju pada bayi yang masih berada dalam dekapan KC.

Menurutnya, perkara hukum yang sedang berjalan tidak seharusnya mengabaikan kondisi seorang bayi yang masih berusia enam bulan dan masih membutuhkan kehadiran sang ibu.

“Ini hanyalah balas dendam untuk merebut hak asuh anak karena gugatan rekonvensinya di pengadilan ditolak seluruhnya. Tapi beranikah memenjarakan seorang ibu dengan bayi yang masih enam bulan?” cetusnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Ipung sebagai pandangannya terhadap perkara yang kini menyeret kliennya ke proses hukum.

Dalam pemeriksaan Berita Acara Pemeriksaan atau BAP, pihak kuasa hukum juga menyampaikan keberatan. Mereka menilai hak KC dan ibunya untuk mengajukan saksi yang meringankan atau saksi a de charge belum diakomodasi secara optimal.

Karena itu, Ipung memastikan akan menempuh berbagai jalur hukum untuk melawan penetapan tersangka terhadap kedua kliennya.

Langkah yang disiapkan antara lain mengajukan permohonan praperadilan, melaporkan pihak-pihak yang dinilai terkait dalam proses tersebut ke Divisi Profesi dan Pengamanan atau Propam Polri, serta menyampaikan surat permohonan pengawasan kepada Kapolda Bali hingga Kapolri.

Bagi Ipung, perjuangan tersebut bukan sekadar membela seorang klien yang kini telah berstatus tersangka.

“Saya akan praperadilankan dan saya akan Propam-kan semua yang terlibat di sini. Saya tidak membela tersangka, tapi membela bayi enam bulan,” kata Ipung.

Di tengah sengketa dan proses hukum yang masih berjalan, pemandangan seorang ibu yang datang menjalani pemeriksaan sambil menggendong bayinya menjadi gambaran lain dari sebuah perkara yang kini bergulir.

Sementara orang-orang dewasa berdebat tentang pasal, bukti, dan proses hukum, seorang bayi berusia enam bulan itu tetap berada dalam pelukan ibunya—belum memahami apa yang sedang terjadi, tetapi masih membutuhkan satu hal yang paling sederhana: kehadiran seorang ibu. (MT-003)

Bupati Sutjidra Hadiri Rsi Yadnya Padiksaan Madwijati di Giri Emas

0

Buleleng, MatahariTimur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menghadiri Upacara Rsi Yadnya Padiksaan Madwijati Ida Gede Diksita Arya Gunawan dan Ida Diksita Istri Malianis Ida Diksita Istri Sriasih, yang berlangsung di Banjar Dinas Dangin Yeh, Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Kamis (27/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sutjidra didampingi Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokompim) Setda Buleleng Gede Jumat Adi Jaya. Kehadiran Bupati menjadi bentuk perhatian sekaligus penghormatan Pemerintah Kabupaten Buleleng terhadap pelaksanaan upacara keagamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali.

Bupati Sutjidra menyampaikan ucapan selamat atas pelaksanaan Upacara Rsi Yadnya Padiksaan Madwijati tersebut. Ia berharap Ida Gede Diksita Arya Gunawan senantiasa dapat menjalankan swadharma sebagai seorang Sulinggih dengan penuh ketulusan dan tanggung jawab.

Menurutnya, keberadaan seorang Sulinggih memiliki peran penting dalam kehidupan umat Hindu, khususnya dalam memberikan tuntunan, membina umat, serta menjadi teladan dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan dan dharma. Karena itu, pelaksanaan Padiksaan Madwijati diharapkan menjadi momentum untuk semakin menguatkan pengabdian kepada umat dan kehidupan sosial keagamaan masyarakat.

Bupati juga mendoakan agar seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar, serta membawa kedamaian dan keberkahan bagi keluarga besar yang melaksanakan maupun bagi umat Hindu secara luas. “Dumogi memargi antar tur labda karya,” ucapnya.

Sebelum menghadiri rangkaian upacara, Bupati Sutjidra terlebih dahulu diterima oleh Camat Sawan, Danramil 09 Sawan, Perbekel Giri Emas, Kelian Desa Adat Giri Emas, serta keluarga besar Ida Gede Diksita Arya Gunawan. Penyambutan tersebut mencerminkan eratnya hubungan antara pemerintah daerah dengan masyarakat dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.

Kehadiran Bupati Buleleng dalam Upacara Rsi Yadnya Padiksaan Madwijati ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk terus menjaga kedekatan dengan masyarakat serta memberikan perhatian terhadap kehidupan sosial, keagamaan, dan kebudayaan. Dukungan tersebut diharapkan turut memperkuat pelestarian nilai-nilai luhur agama dan budaya Bali di tengah perkembangan zaman. (MT-Sug)

Ngaben Massal di Kalianget Diikuti 44 Sawa, Bupati Sutjidra Serahkan Bantuan

0

Buleleng, MatahariTimur – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya/Ngaben Massal yang digelar masyarakat Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Buleleng, Rabu (26/8/2026). Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama jajaran hadir memenuhi undangan sekaligus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan upacara adat dan keagamaan tersebut.

Kehadiran Bupati Sutjidra disambut hangat oleh keluarga dan krama yang melaksanakan rangkaian upacara. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang silaturahmi antara Pemerintah Kabupaten Buleleng dengan masyarakat, khususnya dalam menjaga kedekatan dan kebersamaan dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan.

Upacara Pitra Yadnya/Ngaben Massal ini diikuti oleh 44 sawa, sementara rangkaian ngeraphu diikuti 50 sawa. Pelaksanaan secara massal menjadi salah satu bentuk kebersamaan masyarakat dalam menjalankan kewajiban keagamaan sekaligus memperkuat semangat gotong royong antar-krama.

Puncak karya pengabenan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Seluruh rangkaian upacara dilaksanakan dengan berpedoman pada tata pelaksanaan adat dan agama Hindu yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sutjidra menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Upacara Pitra Yadnya secara bersama-sama. Menurutnya, pelaksanaan upacara tidak hanya memiliki makna spiritual bagi keluarga yang melaksanakan, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberadaan adat dan budaya Bali.

Bupati berharap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pelaksanaan Pitra Yadnya dapat terus dipahami dan diwariskan kepada generasi muda. Dengan demikian, tradisi dan adat Bali dapat tetap hidup, berkembang, dan lestari meskipun masyarakat menghadapi berbagai perubahan serta perkembangan zaman.

Sebagai bentuk dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan karya pengabenan massal tersebut, Bupati Sutjidra juga menyerahkan bantuan dana yang diterima langsung oleh ketua panitia. Dukungan ini diharapkan dapat membantu kelancaran seluruh rangkaian upacara sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga tradisi, adat, serta budaya Bali. (MT-Sug)

 

Hadiri PKKMB IAHN Mpu Kuturan 2026, Wabup Buleleng Ajak Teguhkan Semangat Generasi Unggul

0

Buleleng, Matahari Timur – Pemerintah Kabupaten Buleleng sebagai Guru Wisesa memiliki peran penting dalam mendukung lahirnya generasi muda yang unggul, berkarakter, dan memiliki semangat pengabdian kepada masyarakat, daerah, serta bangsa. Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui kehadiran Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna dalam Pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Tahun 2026 di Kampus IAHN Mpu Kuturan, Singaraja, Rabu (26/8/2026).

PKKMB tahun ini mengusung tema “Wiratama Vidya Dharma: Membentuk Generasi Unggul, Berkarakter, dan Berbakti pada Bangsa.” Tema tersebut dinilai relevan dengan tantangan generasi muda saat ini, sekaligus menjadi pijakan bagi mahasiswa baru untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter, integritas, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Memasuki kehidupan perguruan tinggi merupakan fase penting dalam perjalanan pendidikan. Karena itu, PKKMB diharapkan menjadi ruang awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik, memahami nilai-nilai kehidupan kampus, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari generasi penerus bangsa.

Keberadaan IAHN Mpu Kuturan juga dinilai memiliki arti strategis bagi pembangunan sumber daya manusia di Buleleng. Selain membuka akses pendidikan tinggi yang lebih luas bagi masyarakat, perguruan tinggi ini memiliki peran dalam membentuk generasi yang memiliki kompetensi sekaligus memahami nilai-nilai agama, budaya, dan kearifan lokal Bali.

Pemerintah Kabupaten Buleleng memberikan apresiasi terhadap keberadaan IAHN Mpu Kuturan sebagai salah satu aset penting pendidikan di daerah. Kolaborasi antara pemerintah dan institusi pendidikan dinilai perlu terus diperkuat agar pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki karakter kuat dan siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Melalui momentum PKKMB ini, mahasiswa baru diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi dengan sebaik-baiknya. Semangat belajar, menjaga integritas, menghormati nilai-nilai budaya, serta membangun kepedulian sosial menjadi bekal penting untuk menghadapi masa depan.

Wakil Bupati Gede Supriatna juga mengajak seluruh mahasiswa untuk menjadikan masa kuliah sebagai ruang untuk mengembangkan potensi diri sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu berkontribusi bagi Buleleng dan Indonesia. Dengan ilmu, karakter, dan semangat pengabdian yang berjalan beriringan, generasi muda diharapkan mampu menjadi kekuatan penting dalam pembangunan daerah dan bangsa. (MT-Sug)

Ngaben Massal di Bontihing, Bupati Sutjidra Tegaskan Dukungan Adat dan Budaya Bali

0

Buleleng, MatahariTimur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Ny. Wardhany Sutjidra menghadiri Upacara Karya Pitra Yadnya/Ngaben Massal yang diselenggarakan oleh Krama Dadia Pasek Gelgel II, Banjar Dinas Kanginan, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Rabu (26/8).

Kehadiran Bupati Sutjidra dalam rangkaian upacara tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus dukungan Pemerintah Kabupaten Buleleng terhadap pelaksanaan adat dan agama Hindu yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali.

Upacara Karya Pitra Yadnya ini diikuti oleh sebanyak 17 sawa dan 18 peserta ngerapuh. Seluruh rangkaian upacara dilaksanakan secara bersama-sama dengan melibatkan krama, sehingga selain menjadi pelaksanaan kewajiban keagamaan, kegiatan tersebut juga memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Puncak Karya Pitra Yadnya/Ngaben Masal dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 29 Agustus 2026, bertempat di Wantilan Desa Adat Bontihing. Prosesi tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian upacara untuk menghantarkan atma menuju tahapan selanjutnya sesuai dengan keyakinan dan tata cara agama Hindu.

Dalam kesempatan tersebut, kehadiran Bupati bersama Ny. Wardhany Sutjidra juga mencerminkan kedekatan pemerintah daerah dengan masyarakat, khususnya dalam mendukung berbagai kegiatan adat, agama, dan budaya yang tumbuh serta diwariskan secara turun-temurun.

Pemerintah Kabupaten Buleleng terus mendorong agar nilai-nilai adat, agama, dan budaya Bali tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. Pelaksanaan Ngaben Massal ini tidak hanya memiliki makna spiritual bagi keluarga dan krama yang melaksanakannya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya bersama menjaga keberlanjutan tradisi dan budaya Bali. MT-Sug)

Berlangsung Lima Hari, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar

0

Buleleng, MatahariTimur – Pelaksanaan Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Kamis (23/8). Selama lima hari penyelenggaraan, festival ini berhasil mencatatkan perputaran ekonomi sebesar Rp3,091 miliar lebih. Diperkirakan sampai akhir kegiatan, perputaran ekonomi mencapai Rp3.6 miliar lebih.

Angka tersebut menjadi bukti nyata bahwa produk UMKM lokal Buleleng sangat digemari masyarakat, wisatawan domestik maupun mancanegara. Buleleng Festival 2026 diikuti sebanyak 105 UMKM lokal dari berbagai sektor, antara lain kriya, kuliner, olahan pangan, dan fashion. Para pelaku usaha tersebut tersebar di tiga zona, yakni Zona A sebanyak 48 tenan, Zona B sebanyak 38 tenan, dan Zona C sebanyak 19 tenan.

“Selama enam hari ini masyarakat telah menyaksikan dan merasakan kekayaan seni, budaya, kuliner, dan kreativitas warga Buleleng yang memancarkan energi positif bagi pariwisata dan perekonomian daerah,” ujar Bupati Sutjidra.

Dari sisi ekonomi, Bupati menegaskan festival ini membuka ruang seluas-luasnya bagi pelaku UMKM untuk menampilkan produk kreatif dan kuliner khas Buleleng. Selain itu juga memperkuat jaringan pasar dan memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk berkarya. Sementara dari sisi budaya, pemerintah daerah berhasil memfasilitasi pelestarian dan inovasi, di mana tradisi bertemu kreativitas modern sehingga budaya Buleleng tetap relevan dan hidup.

Bupati Sutjidra menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari panitia, seniman, komunitas, pelaku usaha, hingga aparat keamanan dari Polres Buleleng dan Kodim 1609/Buleleng. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh perangkat daerah, Kelian Desa Adat Buleleng, Prajuru Banjar Adat, sponsor, relawan, dan seluruh pengunjung yang telah menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan selama festival berlangsung.

“Terima kasih kepada seluruh pengunjung Buleleng Festival yang telah menjaga keamanan, ketertiban dan kebersihan lingkungan, sehingga Buleleng Festival tahun 2026 dapat berjalan nyaman, aman, tertib dan asri,” ucapnya.

Menutup sambutannya, bupati mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk membawa semangat “Uriping Rasa” ke kehidupan sehari-hari: terus melestarikan budaya, saling menghargai, memperkuat gotong royong, dan mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan. Pemkab Buleleng juga berkomitmen akan terus mendukung pengembangan kebudayaan dan ekonomi kreatif melalui program-program yang berpihak kepada pelaku seni dan UMKM.

“Semoga hasil dan semangat festival ini memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat Buleleng,” tutup Bupati Sutjidra. (MT-Sug)

Puncak Karya Praja Mandala Singa Ambara Raja, Bupati Sutjidra Dorong Pelestarian Tradisi dan Persatuan

0

Buleleng, Matahari Timur – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Ny. Wardhany Sutjidra, Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna bersama Ny. Hermawati Supriatna, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP), serta jajaran kepala perangkat daerah melaksanakan persembahyangan bersama dalam rangka Puncak Karya Mamungkah, Melaspas, Ngenteg Linggih, dan Mapedudusan Agung di Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja serta Kantor Bupati Buleleng, Rabu (29/7).

Prosesi yadnya dipuput oleh Ida Pandita Mpu Nabe Ratangkara Bayu Segara Gni Ananda Wijaya Nata, Ida Sri Bhagawan Rama Sogata, Ida Rsi Bujangga Waisnawa Surya Adnyana, serta Ida Pandita Mpu Nabe Dwi Dharma Wijaya Nanda. Kegiatan keagamaan ini merupakan wujud sraddha bhakti sekaligus ungkapan rasa syukur atas rampungnya pembangunan kawasan tersebut, serta memohon keselamatan, kerahayuan, dan keharmonisan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Buleleng.

Dalam sambutannya, Bupati I Nyoman Sutjidra menyampaikan bahwa kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai Titik Nol Kota Singaraja dan kini bernama Praja Mandala Singa Ambara Raja merupakan milik seluruh masyarakat Buleleng. Melalui pelaksanaan upacara secara sekala dan niskala, diharapkan kawasan tersebut senantiasa lestari, metaksu, serta memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kebersihan, ketertiban, keamanan, dan kenyamanan kawasan sebagai ikon baru Kabupaten Buleleng.

“Praja Mandala Singa Ambara Raja ini milik masyarakat Buleleng, milik kita semua. Bukan milik saya ataupun milik Pak Wakil Bupati. Mari kita jaga bersama agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat,” tegasnya.

Bupati Sutjidra juga mengungkapkan keinginannya untuk mengembangkan kembali Pelabuhan Buleleng sebagai bagian dari upaya mengembalikan kejayaan Kota Singaraja. Menurutnya, Pelabuhan Buleleng memiliki nilai sejarah yang penting karena menjadi saksi ketika Buleleng pernah dikenal sebagai pusat pendidikan, perdagangan, pemerintahan, dan kebudayaan di Bali. Pengembangan kawasan tersebut diharapkan mampu memperkuat identitas sejarah sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Buleleng.

Rangkaian upacara turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan perangkat daerah, tokoh agama, tokoh adat, serta berbagai elemen masyarakat. Prosesi berlangsung khidmat sesuai tata cara agama Hindu sebagai bentuk penyucian dan penyempurnaan kawasan yang telah dibangun. Melalui pelaksanaan karya ini, Pemerintah Kabupaten Buleleng berharap Praja Mandala Singa Ambara Raja tidak hanya menjadi ikon daerah yang memiliki nilai estetika dan historis, tetapi juga memiliki nilai spiritual sebagai simbol persatuan, kebanggaan, dan semangat masyarakat Buleleng dalam mewujudkan daerah yang maju, harmonis, dan sejahtera. (MT-Sug)

 

Bupati Sutjidra Tutup Lovina Festival 2026, Promosikan Bali Utara ke Panggung Pariwisata Internasional

0

Buleleng, Matahari Timur – Kemegahan seni budaya, semangat kolaborasi, serta antusiasme ribuan pengunjung mewarnai malam penutupan Lovina Festival 2026 di Kawasan Pantai Binaria, Lovina, Selasa (28/7/2026). Perhelatan yang berlangsung selama lima hari sejak 24 Juli 2026 tersebut resmi ditutup oleh Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra. Mengusung tema Theatre of Dolphins, festival tahunan ini kembali menjadi etalase kekayaan budaya, pesona alam, dan kreativitas masyarakat yang memperkuat posisi Bali Utara sebagai destinasi wisata unggulan.

Dalam sambutannya, Bupati Sutjidra menegaskan bahwa Lovina Festival tidak hanya menjadi agenda hiburan, tetapi juga wadah kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, serta memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Selama lima hari pelaksanaan, berbagai atraksi seni budaya, pertunjukan musik, pameran UMKM, hingga aktivitas wisata berhasil menghadirkan pengalaman berkesan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Festival ini menunjukkan bahwa Buleleng memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan yang mengedepankan kekayaan budaya dan keindahan alam. Inilah wajah Bali Utara yang ingin kita perkenalkan kepada dunia,” ujarnya.

Bupati juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan Lovina Festival 2026. Mulai dari panitia pelaksana, sponsor, pelaku pariwisata, pengelola hotel dan restoran, pemandu wisata, pelaku UMKM, komunitas seni dan kreatif, instansi pemerintah, aparat keamanan, hingga masyarakat yang turut menjaga suasana tetap aman, nyaman, dan kondusif selama festival berlangsung. Sinergi tersebut menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan event pariwisata dari tahun ke tahun.

Bupati Sutjidra berharap Lovina Festival dapat terus berkembang sebagai ikon pariwisata Bali Utara yang mampu mengangkat potensi daerah ke tingkat nasional maupun internasional.

“Semangat kebersamaan yang terbangun selama festival diharapkan menjadi energi baru untuk terus memajukan pariwisata, melestarikan budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Buleleng secara berkelanjutan,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Lovina Festival 2026 sekaligus Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Buleleng, Putu Ayu Reika Nurhaeni dalam laporannya menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini dirancang dalam dua segmentasi panggung. Panggung Tasik Madu pada 24–26 Juli difokuskan bagi wisatawan mancanegara, sedangkan Panggung Binaria pada 26–28 Juli menyasar wisatawan domestik. Konsep tersebut terbukti mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus menggerakkan sektor perhotelan, restoran, transportasi, UMKM, dan berbagai usaha ekonomi kreatif di kawasan Lovina.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Lovina Festival melibatkan 250 pelaku seni, 44 komunitas, 82 booth UMKM, serta didukung 30 mitra/sponsor. Selama lima hari pelaksanaan, festival tersebut berhasil menarik 30.000 pengunjung. Nilai transaksi yang tercatat pada 82 booth UMKM selama penyelenggaraan Lovina Festival 2026 mencapai Rp746.788.000.

Sebagai langkah evaluasi, Pemerintah Kabupaten Buleleng juga menerapkan pendekatan baru dalam mengukur dampak ekonomi festival melalui pengelompokan data wisatawan berdasarkan kategori industri pariwisata dan UMKM lokal. Data tersebut akan menjadi dasar penyusunan kebijakan pengembangan pariwisata yang lebih terarah, terukur, dan berbasis data, sehingga manfaat penyelenggaraan festival dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. (MT-Sug)

Komitmen Lestarikan Lingkungan, Bupati Buleleng Hadiri Aksi Pembersihan dan Normalisasi Danau Buyan

0

Buleleng, Matahari Timur – Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menghadiri kegiatan Pembersihan dan Normalisasi Danau Buyan dalam rangka Bakti Lingkungan Hidup Menyatu dengan Alam yang digelar di kawasan Danau Buyan, Senin (27/7). Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian salah satu kawasan konservasi penting di Kabupaten Buleleng.

Aksi pembersihan melibatkan unsur TNI, Pemerintah Kabupaten Buleleng, instansi terkait, komunitas pecinta lingkungan, serta masyarakat sekitar yang bergotong royong membersihkan sampah dan melakukan normalisasi di sejumlah titik kawasan Danau Buyan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga kebersihan, kualitas air, serta kelestarian ekosistem danau yang memiliki fungsi vital sebagai sumber daya air dan penyangga lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati I Nyoman Sutjidra menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, menjaga kelestarian Danau Buyan merupakan tanggung jawab bersama karena keberadaan danau tidak hanya penting bagi keseimbangan ekologi, tetapi juga mendukung sektor pertanian, penyediaan air bersih, serta pengembangan pariwisata berbasis alam.

“Danau Buyan merupakan aset alam yang harus kita jaga bersama. Melalui kegiatan gotong royong seperti ini, kita menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun kesadaran kolektif agar kebersihan dan kelestarian danau tetap terpelihara,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelestarian lingkungan tidak dapat dilakukan hanya melalui program pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Semangat gotong royong menjadi modal utama dalam menjaga kawasan danau agar tetap lestari dan memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Kegiatan Bakti Lingkungan Hidup Menyatu dengan Alam juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Selain membersihkan kawasan danau, peserta turut melakukan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta mengurangi pencemaran yang dapat merusak ekosistem perairan.

Danau Buyan merupakan salah satu danau kembar di kawasan Bedugul yang memiliki nilai ekologis, ekonomi, dan wisata yang tinggi. Keasrian kawasan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan sekaligus habitat berbagai flora dan fauna yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Melalui kegiatan pembersihan dan normalisasi ini, Pemerintah Kabupaten Buleleng berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat, sehingga Danau Buyan tetap menjadi sumber kehidupan, kawasan konservasi, dan destinasi wisata alam yang lestari bagi generasi mendatang. (MT-Sug)

Wabup Supriatna Hadiri dan Salurkan Bantuan pada Upacara Ngaben Massal Desa Adat Tambakan

0

Buleleng, LAKSARA.ID – Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna menyalurkan bantuan dana hibah untuk mendukung operasional upacara Pitra Yadnya Ngaben Massal Desa Adat Tambakan, Kecamatan Kubutambahan.

Pemerintah Kabupaten Buleleng secara konsisten menunjukkan komitmennya dalam menjaga, melestarikan, serta memperkuat adat dan budaya di kawasan Buleleng. Komitmen nyata tersebut diwujudkan melalui program-program yang berdampak langsung pada pelaksanaan upacara adat, salah satunya bantuan pelaksanaan upacara Pitra Yadnya Ngaben Massal bagi desa-desa adat di wilayah Buleleng.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Buleleng Gede Supriatna saat mendampingi Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta menghadiri Upacara Ngaben Massal Desa Adat Tambakan, Kamis, (23/7). Dalam prosesi ngaben masal tersebut, tercatat sebanyak 91 Sawa diikutsertakan oleh krama desa setempat.

Wabup Supriatna juga menyampaikan bahwa Pemkab Buleleng memberikan bantuan dana hibah atau punia sebesar Rp1 juta per sawa sehingga bantuan yang disalurkan sebanyak Rp91 juta.

“Harapan kami, selain untuk penguatan adat dan budaya, bantuan ini dapat membantu meringankan beban finansial krama adat yang sedang melaksanakan upacara Pitra Yadnya,” ucap Wabup Supriatna.

Kehadiran jajaran pimpinan daerah dalam upacara adat ini merupakan bentuk dukungan moral dan apresiasi penuh atas upaya masyarakat lokal dalam menjaga serta melestarikan warisan tradisi Bali. Wabup Supriatna juga memanjatkan doa agar seluruh rangkaian upacara Ngaben Massal di Desa Adat Tambakan dapat berjalan dengan aman, sukses, dan diberikan kelancaran.

Lebih lanjut, Wabup Supriatna menegaskan bahwa skema dukungan terhadap sektor kebudayaan tidak hanya berhenti pada pelaksanaan ngaben massal. Pemerintah daerah juga mengalokasikan bantuan berkala setiap tahunnya yang ditujukan khusus bagi Desa Adat dan Subak.

Program bantuan tahunan ini dirancang secara terintegrasi guna menunjang pembangunan infrastruktur, tata kelola keagamaan, serta penguatan kelembagaan adat. Melalui sinergi antara pemerintah daerah, desa adat, dan subak, Pemkab Buleleng optimistis pembangunan berbasis kearifan lokal dapat terus diakselerasi demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Buleleng secara berkelanjutan. (MT-Sug)