24.5 C
Bali
17 Desember 2025

World Religions Summit 2025: Dua Belas Agama Dunia Satukan Suara untuk Perdamaian Global

Sathya Sai Grama, Matahari Timur – Hari pertama World Religions Summit 2025 yang berlangsung di Sathya Sai Grama mencatat tonggak sejarah baru dalam dialog lintas agama. Sebagai bagian dari One World One Family – World Cultural Festival 2025, pertemuan ini mempertemukan pemimpin spiritual dan perwakilan dari 12 agama besar dunia dalam satu panggung yang sama, menghadirkan suasana penuh rasa hormat, kedamaian, dan harmoni antariman.

Di bawah kehadiran spiritual Sadguru Sri Madhusudan Sai, forum ini menegaskan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun masa depan yang lebih inklusif. Perwakilan dari Hindu, Kristen, Islam, Yahudi, Jain, Buddha, Sikh, Tao, Shinto, Zoroastrian, Bahá’í, dan Konfusianisme hadir membawa pesan serupa: bahwa setiap tradisi memiliki cahaya dan nilai kebaikan yang dapat menopang perdamaian global.

Rangkaian kegiatan dibuka dengan sesi refleksi dari perwakilan Hindu, Kristen, dan Bahá’í yang menekankan pentingnya spiritualitas dalam merawat harmoni sosial. Dialog kemudian berlanjut dengan pandangan dari tradisi Buddha dan Jain, yang menyoroti nilai welas asih, ahimsa, dan tanggung jawab bersama menjaga keseimbangan dunia sebagai satu keluarga manusia.

Pemimpin dan tokoh agama lainnya—Islam, Sikh, Yahudi, Taoisme, Shinto, Zoroastrianisme, dan Konfusianisme—turut memperkaya percakapan. Meski datang dari jalan spiritual yang berbeda, seluruh peserta menyuarakan satu pesan universal: kebenaran dan kebaikan merupakan tujuan bersama umat manusia.

Kontribusi Indonesia: Pesan Humanitarian dari Bali

Indonesia mendapat perhatian khusus melalui kehadiran Padmashri Agus Indra Udayana, kini dikenal sebagai Ida Rsi Putra Manuaba setelah mediksa, pendiri Shantisena Movement – Ashram Gandhi Puri Bali. Sebagai salah satu panelis utama, ia menyampaikan pidato bertema “Religion in Humanity” yang menegaskan bahwa agama menemukan makna terdalamnya ketika diwujudkan dalam pelayanan kemanusiaan.

Agus Indra memaparkan gagasan Humanitarian Service: From Dust to Diamond to Sebagram – Self Project Initiative, serta filosofi Amara Mantra Jai Jagat dan Amara Tantra Gram Swaraj. Ia menekankan pentingnya pembangunan desa berkelanjutan sebagai misi bersama menuju masa depan yang lebih baik, dengan prinsip Learn, Grow, and Serve sebagai fondasi spiritual sekaligus sosial. Penyampaian tersebut mendapat sambutan positif dari para tokoh lintas agama.

Hari pertama World Religions Summit 2025 ditutup dengan optimisme bahwa dunia tengah memasuki fase baru kerja sama antaragama. Para pemuka agama, biksu, cendekiawan, dan perwakilan spiritual sepakat bahwa dialog lintas iman merupakan kebutuhan mendesak dalam menjaga perdamaian global.

Selama tiga hari ke depan, summit ini akan diisi refleksi, dialog spiritual, dan kolaborasi antartradisi besar dunia untuk memperkuat pesan inti: One World. One Truth. One Family.

Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa perbedaan keyakinan bukan pemisah, melainkan jembatan untuk memperluas pemahaman tentang kemanusiaan—bahwa pada akhirnya, seluruh manusia adalah bagian dari satu keluarga besar di bawah cahaya kebenaran yang sama. (MT-003)

 

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Articles