Tabanan, Matahari Timur – Upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat kembali mendapat dorongan dari sektor swasta. PT Tirta Investama Pabrik Sembung Gede (AQUA Sembung Gede) bersama Yayasan Sahabat Timur Indonesia memulai Program Desa Wisata Berbasis Konservasi di Dusun Sandan, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Kegiatan kick off yang berlangsung di LIKAWA FARM ini dihadiri perwakilan Desa Adat Sandan, aparat wilayah, serta anggota Kelompok Tani Taru Lestari.
LIKAWA FARM kini menjadi pusat kegiatan kelompok tani tersebut untuk menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) AQUA Sembung Gede. Program ini berfokus pada pelestarian alam sekaligus pengembangan ekonomi lokal. Tahun ini, lebih dari 2.000 pohon kopi dan 200 pohon alpukat ditanam, disertai pembuatan 360 rorak—lubang resapan air yang berfungsi menampung dan mengembalikan air hujan ke tanah. Selain itu, kelompok tani juga didampingi untuk mengembangkan potensi wisata berbasis konservasi.
Inisiatif ini sejalan dengan program Tridatu Gastronomi yang diusung Pemerintah Kabupaten Tabanan. Program tersebut menonjolkan tiga komoditas unggulan daerah, yakni kopi, beras merah organik, dan cokelat premium. Melalui pendekatan tersebut, kegiatan konservasi diharapkan dapat terintegrasi dengan pengembangan sektor pariwisata dan pertanian berkelanjutan.
Stakeholder Relation Manager AQUA Sembung Gede, I Nyoman Arsana, menjelaskan bahwa kehadiran LIKAWA FARM diharapkan menjadi ruang edukasi bagi petani maupun wisatawan.
“Pendampingan yang kami lakukan diharapkan membuahkan hasil berupa lingkungan yang terjaga baik melalui kearifan lokal masyarakat. Potensi ini bisa menjadikan LIKAWA FARM sebagai destinasi wisata edukatif. Kami ingin mendorong inisiatif ini agar menginspirasi lebih banyak pihak,” ujar Arsana.
Menurut Arsana, pelaksanaan program dilakukan dengan menggandeng berbagai pihak. Selain Yayasan Sahabat Timur Indonesia, AQUA juga melibatkan mahasiswa, media, masyarakat desa, dan pemerintah daerah.
“Pendekatan pentahelix kami terapkan agar terwujud sinergi yang optimal antara dunia usaha, pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat,” tambahnya.
Ketua Kelompok Tani Taru Lestari, I Wayan Sudha Adnyana, menyebut kelompoknya resmi berdiri pada tahun 2008 dan kini memiliki 21 anggota dengan lahan garapan seluas 10 hektare. Ia menilai kerja sama ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Dusun Sandan.
“Program ini seperti dayung bersambut. Sudah lama kami ingin mengembangkan potensi desa menjadi wisata berbasis konservasi, dan kini mendapat dukungan yang nyata,” ujarnya.
Desa Adat Sandan sendiri terletak di ketinggian sekitar 780 meter di atas permukaan laut, di lereng Gunung Adeng. Wilayah ini dikenal subur dengan jenis tanah etosol yang cocok untuk berbagai komoditas pertanian dan perkebunan. Dusun Sandan juga berbatasan langsung dengan Hutan Bambu Sandan seluas 100 hektare, kawasan berhawa sejuk dengan curah hujan tinggi selama enam hingga tujuh bulan setiap tahun.
Sebagian besar masyarakat di wilayah ini menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan peternakan. Selain menanam sayuran dan buah-buahan hortikultura, warga juga memelihara sapi, babi, dan ayam kampung.
Melalui pengembangan Desa Wisata Berbasis Konservasi ini, potensi alam dan budaya masyarakat diharapkan dapat tumbuh secara berkelanjutan. Dukungan AQUA Sembung Gede tak hanya memperkuat ketahanan lingkungan, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal di kaki Gunung Adeng. (MT-001)

