Amlapura, MatahariTimur – Sehari sebelum Hari Raya Galungan, ada upacara penampahan yang umumnya masyarakat Hindu di Bali melakukan pemotongan hewan. Pada acara penampahan Galungan ini, interaksi dan kebersamaan mewarnai sebuah keluarga di Bali.
Hal ini juga dilakukan Bupati Karangasem Gede Dana, yang tidak melupakan tradisi mengadakan mebat dan dilakukan bersama keluarga. Pada acara yang digelar hari Selasa tanggal 9 November 2021 pagi, terlihat kekompakan Bupati Dana bersama keluarga mengadakan mebat, yang meski dilakukan dalam suasana kesederhanaan, namun sarat kekompakan. Dalam momen memasak bersama, tidak jarang diwarnai dengan canda dan guyonan yang mempererat jalinan kekeluargaan. Kegiatan ini diakhiri dengan makan bersama, dipenuhi rasa syukur atas segenap anugerah Sang Hyang Widhi Wasa.
Setelah acara mebat, Gede Dana menyempatkan diri berbincang-bincang tentang memaknai penampahan dan filosofi hari Raya Galungan. “Saya sudah biasa melakukan sendiri kegiatan mebat pada hari penampahan Galungan namun secara sederhana. Seperti bikin lawar paye dan lawar kacang hasil kebun sendiri untuk banten segehan yang dipersembahkan kepada Butha Kala untuk ‘nyomya’ agar tidak mengganggu keharmonisan alam dan untuk dinikmati. Kita tidak mesti memaksakan diri dan harus nampah atau memotong babi, karena ngelawar atau bikin sate itu eforia atau rasa syukur. Penampahan juga bermakna nampah, atau membunuh sifat – sifat malas pada babi, sifat tamas dalam Triguna atau sifat malas pada diri manusia” ujarnya.
Gede Dana juga menuturkan bahwa Galungan dirayakan umat Hindu Bali pada Hari Buda Kliwon Wuku Dungulan dan Kuningan dirayakan pada Caniscara Kliwon Wuku Kuningan atau sepuluh hari setelah Galungan. Hari Raya Galungan dimaknai sebagai hari kemenangan darma melawan adarma.
Ditambahkan pula bahwa dalam Lontar Sunari Gama disebutkan Buda Kliwon Dungulan adalah hari Galungan, mengarahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. “Jadi inti Hari Raya Galungan adalah untuk menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang dan seimbang inilah wujud dharma dalam diri, sedangkan kekacauan pikiran adalah wujud adharma. Di hari raya inilah kita mengucapkan rasa syukur ke hadapan Ida sangyang Widi Wasa atas terciptanya dunia dan karunia yang dilimpahkan,” ujar Bupati Dana.
Dalam kesempatan ini, Gede Dana juga menyampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan kepada semua masyarakat dan berpesan agar masyarakat selalu menerapkan protokol kesehatan karena masih dalam suasana pandemi. “Marilah kita sama – sama mulat sarira, intropeksi diri dan di saat pandemi ini kita sama sama memohon agar, agar pandemi ini segera berlalu,” ujarnya.(MT – 001 )

