Denpasar, Matahari Timur – Pada zaman dahulu, di sebuah desa yang subur di Bali, hiduplah seorang laki-laki cerdik bernama Pan Balang Tamak. Namanya terkenal di seluruh desa bukan karena kebaikannya, melainkan karena kecerdikan sekaligus kelicikannya. Ia selalu berusaha mendapatkan keuntungan dengan cara paling mudah, bahkan jika harus memanipulasi keadaan dan memperdaya orang lain. Meski demikian, kecerdikannya sering membuat warga kesal sekaligus kagum.
Suatu hari, kelian desa mengumumkan bahwa warga harus bergotong royong membersihkan pura menjelang upacara besar. Semua warga diharuskan datang. Pan Balang Tamak yang malas bekerja segera mencari cara agar bisa menghindari kewajiban itu. Ia lalu menghadap kelian desa sambil pura-pura sakit. “Saya ingin ikut ngayah, tetapi badan saya terasa sangat lemah,” katanya sambil memegangi dahi. Kelian desa yang sudah menduga akalnya hanya mengangguk sinis, namun karena tak ada bukti, ia membiarkan Pan Balang Tamak pulang.
Beberapa hari kemudian, desa kembali mengadakan gotong royong untuk mempersiapkan upacara. Kali ini tidak ada alasan untuk mangkir. Pan Balang Tamak pun memutar otak lebih keras. Ia kemudian mengambil seekor anjing peliharaannya, memotong sebagian bulunya, dan menempelkannya pada tubuhnya sendiri menggunakan getah kering. Dengan begitu ia tampak seperti manusia yang ditumbuhi bulu tidak wajar, seolah terkena penyakit aneh. Ketika datang ke balai banjar, ia memperlihatkan “penyakit”-nya dan membuat warga ketakutan sehingga mereka memintanya segera pulang.
Kelian desa yang sudah berkali-kali dibohongi Pan Balang Tamak akhirnya merasa kesal dan ingin memberikan pelajaran. Ia kemudian merencanakan gotong royong besar berikutnya untuk membersihkan sungai. Kali ini, kelian desa mengumumkan bahwa siapa pun yang tidak datang akan dikenai denda besar. Pan Balang Tamak panik karena tidak bisa lagi menggunakan alasan sakit atau penyakit aneh. Maka ia pun mencari celah baru untuk mengakali aturan desa.
Keesokan harinya, Pan Balang Tamak datang ke sungai, tetapi bukan untuk bekerja. Ia membawa sebuah kendi dan mengisinya dengan air sungai. Setiap kali warga melihat ke arahnya, ia pura-pura bekerja keras, tetapi sebenarnya ia hanya memindahkan air dari sungai ke kendi, lalu membuangnya kembali ke sungai. Gerakannya yang acak-acakan membuat warga curiga, namun ia selalu mengaku bahwa dirinya “mengalirkan air biar suci,” alasan yang terdengar konyol tetapi sulit dibantah saat itu.
Setelah upacara selesai, warga semakin jengkel karena Pan Balang Tamak terus mengakali setiap tugas desa. Maka kelian desa memutuskan membuat aturan baru: siapa pun yang datang gotong royong tetapi tidak bekerja dengan benar akan dikenai hukuman lebih berat daripada yang tidak datang sama sekali. Pan Balang Tamak yang merasa paling cerdik justru terjebak oleh rencananya sendiri. Karena ia hadir tetapi tidak bekerja, ia menjadi satu-satunya warga yang akhirnya mendapatkan hukuman paling berat.
Sejak saat itu, Pan Balang Tamak menjadi bahan pelajaran bagi seluruh warga desa. Namanya dikenang sebagai simbol kecerdikan yang disalahgunakan, yang pada akhirnya membawa kerugian bagi diri sendiri. Legenda Pan Balang Tamak mengingatkan masyarakat bahwa kelicikan mungkin dapat menipu orang lain untuk sementara waktu, namun kebenaran dan niat baik selalu menang pada akhirnya.
***
Suka kisah-kisah dongeng legenda atau cerita rakyat? Setiap legenda menyimpan rahasia.
Setiap halaman membangkitkan jiwa Nusantara.
Miliki buku kisah dongeng penghangat jiwa dan rasakan getaran magis dari tanah para dewa. Dapatkan cerita menggetarkan tentang legenda di berbagai daerah di Indonesia, di sini. (MT-003)

