24.5 C
Bali
17 Desember 2025

Gede Dana: Maknai Filosofi Tumpek Uye dengan ‘Mengandangkan’ atau Mengendalikan Pikiran

Amlapura, MatahariTimur – Di sela – sela kesibukan dan rutinitas sebagai pemimpin di Bumi Lahar, Bupati Karangasem Gede Dana menyempatkan diri melaksanakan otonan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang untuk sapi piaraanya di kandang, yang terletak di dekat kediamannya di lingkungan Dukuh-Karangasem, pada Sabtu (29/1/2022) pagi.

Seperti diketahui, Tumpek Kandang dirayakan oleh umat Hindu Bali setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari, tepatnya pada hari Caniscara Kliwon Wuku Uye. Tumpek Kandang atau Tumpek Uye dirayakan sebagai wujud cinta kasih, rasa sayang manusia atau rasa terima kasih manusia kepada binatang, hewan peliharaan atau ternak. Dalam Yayur Weda disebutkan, binatang itu sangat membantu manusia dalam bekerja dan sebagai korban suci dalam upacara, serta dapat disembelih untuk dikonsumsi.

Gede Dana dalam kesempatan itu mengatakan bahwa ‘kandang’ dalam makna filosofi juga mengandung makna ‘mengandangkan’ pikiran yang begitu liar. Diibaratkan seperti hewan yang harus dikendalikan, sehingga mampu membatasi atau mengekang keinginan yang bersifat seperti binatang. Misalnya hidup tanpa tata krama, liar, malas dan sebagainya.

“Kalau dilihat dari Urip Caniscara Kliwon Uye berjumlah 7 dan itu dianggap sebagai hari yang bersifat rajas yang disejajarkan dengan watak sato atau binatang. Untuk itu, pada hari Tumpek Kandang kita perlu menyucikan diri atau nyomia atau menetralisir kekuatan binatang pada diri kita. Karena daging yang kita makan akan bersemayam dalam tubuh manusia dan akan berpengaruh pada sifat dan tabiat atau karakter manusia,” ujar Gede Dana.

Gede Dana juga mengatakan, Caniscara Uye merupakan hari raya untuk mengupacarai segala jenis binatang dan ternak seperti sapi, babi dan lainnya. “Dalam lontar dan piteket para penglingsir mengatakan, Caniscara Wuku Uye pinaka Prakertaning sarwo sato, artinya pada hari itu hendaknya dijadikan sebagai hari melestarikan segala jenis hewan dan pada tumpek kandang hendaknya umat menghaturkan sesembahan kepada Sangyang Rare Angon sebagai manifestasi dari Dewa Siwa yang berfungsi sebagai penguasa dan penjaga semua binatang, dengan tujuan untuk diberikan keselamatan pada semua hewan piaraan dan termasuk diberikan hasil yang melimpah sesuai harapan dari pemiliknya,” ucapnya.

Dia menambahkan, kebetulan juga dirinya sudah memelihara ternak sapi yang dikandangkan di kebun. “Memang sedari kecil saya petani dan terbiasa ngangon sapi. Sampai sekarangpun masih memelihara sapi. Selain memang hobi, itu juga hiburan bagi saya di waktu senggang,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu pula Gede Dana memvaksin seluruh anjing piaraanya, karena menurutnya, anjing juga hewan piaraan yang bertugas menjaga rumah sehingga perlu dirawat dan dijaga kesehatannya. “Itu juga bentuk menghargai hewan piaraan di Tumpek Uye,” kata Bupati Dana. ( MT – 001)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Articles