Amlapura, MatahariTimur – Bupati Karangasem I Gede Dana terus melakukan monitoring ke beberapa lokasi proyek yang saat ini sedang dalam proses pengerjaan.
Berawal dari kekecewaan saat monitoring proyek ruas jalan Pemuteran-Puragai di Kecamatan Rendang yang dinilainya kurang beres, semakin mendorong Bupati Dana untuk melanjutkan sidak ke beberapa proyek pembangunan jalan dan jembatan di beberapa lokasi di wilayah Bali bagian timur.
Pada hari Senin (15/11/2021), sidak dilakukan Bupati Dana ke proyek pembangunan jembatan Tukad Bah Api di Desa Butus, Kecamatan Bebandem, sekaligus memantau pelaksanaan proyek peningkatan ruas jalan Budakeling-Tanah Aron yang dilaksanakan oleh CV Sumber Jadi dengan nilai kontrak Rp3.886.378.000.
Di tengah cuaca hujan deras dan air bah di sekitar lokasi proyek, Bupati Dana tidak menghentikan pemantauannya terhadap pengerjaan proyek tersebut. Seperti sidak yang dilakukan pada proyek-proyek lainnya, Bupati Dana mengecek secara cermat ‘spek’ dan ‘bestek’ proyek jembatan ini disesuaikan dengan yang ada di buku kontrak kegiatan.
Masalahnya, jembatan tersebut sudah sangat ditunggu oleh masyarakat karena menjadi jembatan penghubung akses ekonomi dan pendidikan warga di beberapa dusun di lereng atas Gunung Agung, seperti Dusun Kemoning, Dusun Nangka dan Dusun Tanah Aron. Selain itu juga menjadi jembatan penghubung jalur evakuasi warga jika terjadi erupsi Gunung Agung.
Usai melakukan monitoring di Kecamatan Bebandem, Bupati Dana melanjutkan kegiatan serupa ke lokasi proyek pembangunan jembatan Box Culvert, Tukad Pedih, yang menghubungkan ruas jalan Asak-Subagan, Kecamatan Karangasem, senilai Rp1.212.058.000 yang dilaksanakan oleh CV Karya Budi Arta.
Sama halnya dengan Jembatan Tukad Bah Api, Butus, keberadaan jembatan Tukad Pedih ini juga sangat vital karena selain menjadi akses ekonomi dan pendidikan warga. Jembatan tersebut juga menghubungkan jalan lingkar Subagan-Asak yang menjadi jalur alternatif jika terjadi kemacetan di jalur utama Bugbug-Perasi.
Bupati Dana mengatakan, kedua jembatan itu sangat penting bagi akses masyarakat, yang tentu saja sama dengan jembatan-jembatan lainnya. Tetapi, di tengah keterbatasan anggaran akibat dampak Covid-19, penyelesaian jembatan harus dilakukan satu persatu.
“Jembatan yang dibangun dengan mempergunakan uang rakyat ini, harus tetap dilakukan pengawasan. Kita tidak ingin pembangunan jembatan dilakukan asal-asalan. Sehingga setiap ada kesempatan, saya selalu memantau pengerjaan proyek-proyek ini,” ucapnya dengan mimik wajah penuh semangat.
Astungkara, lanjut mantan Ketua DPRD Karangasem itu, pengerjaan kedua jembatan sudah hampir rampung 80 persen. “Dan jika tidak ada halangan, pertengahan bulan Desember nanti, jembatan sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” katanya, menandaskan. ( MT – 001)

